Make Munir Live Again Tugu Jogja: Aliansi GEMPUR Bawa Isu Kerusakan Lingkungan dan Industri Ekstraktif Maluku Utara
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 107
- comment 0 komentar
- print Cetak

Aliansi GEMPUR bersama SMI dan Forum BEM DIY menyuarakan isu kerusakan lingkungan Maluku Utara pada Aksi "Make Munir Live Again" di Tugu Yogyakarta, Kamis (24/9/2026). (Foto: Dok. Balengkospace.com)
BALENGKOSPACE.COM, YOGYAKARTA – Tugu Yogyakarta kembali menjadi ruang perlawanan untuk merawat ingatan atas luka-luka sejarah yang sengaja dibiarkan menganga. Pada Kamis (24/09/2026), puluhan massa aksi dari berbagai elemen gerakan sipil memadati ikon Kota Pelajar tersebut dengan membawa satu nama yang menolak mati: Munir Said Thalib.
Mengusung tema utama “Make Munir Live Again”, Aksi Kamisan edisi September Hitam ini diinisiasi oleh Social Movement Institute (SMI) bersama Aliansi Generasi Muda Kepulauan Rempah (GEMPUR), Forum BEM DIY, kelompok masyarakat sipil, hingga jaringan aktivis perantauan. Aksi yang dimulai pukul 15.30 WIB ini diisi orasi politik, pembacaan puisi, hingga penampilan seni dari Okky Madasari, Al Araf, KEPAL SPI, dan Angklung Mafia Bambu.

Bagi massa aksi, merawat ingatan tentang Munir yang dibunuh dengan racun arsenik pada 7 September 2004—bukan sekadar agenda seremonial mengenang pahlawan HAM, melainkan seruan untuk menuntut pertanggungjawaban negara atas aktor intelektual yang hingga kini masih melenggang bebas.
GEMPUR Bawa Isu Kerusakan Lingkungan dan Industri Ekstraktif Maluku Utara

Aksi Kamisan di Tugu Jogja kali ini terasa kian bergema dengan hadirnya Aliansi Generasi Muda Kepulauan Rempah (GEMPUR). Mahasiswa perantauan asal Maluku Utara ini melebur dalam barisan aksi untuk menyuarakan luka ekologis yang tengah melanda tanah kelahiran mereka.
Penyatuan gelombang perlawanan antara SMI, Forum BEM DIY, dan Aliansi GEMPUR memperluas cakupan tuntutan September Hitam dan Hari Tani Nasional. Massa aksi sepakat bahwa penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu tidak boleh dilepaskan dari perlawanan terhadap kebijakan hari ini yang berwatak merusak lingkungan.
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Tim Redaksi Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar