Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

  • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
  • visibility 379
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Agama selalu berada pada persimpangan: menjadi kekuatan pembebasan atau menjadi alat domestikasi. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketika agama turun ke jalan kehidupan sosial, ia dapat mengguncang tatanan yang menindas.

Pandangan ini bukan baru. Ali Syariati, dalam salah satu esainya, mengingatkan: “Agama yang membebaskan adalah agama yang melahirkan manusia yang sadar, bukan manusia yang pasrah.”Bagi Syariati, agama bukan ruang pelarian; ia adalah arena perlawanan. Ketika agama dibajak oleh kekuasaan, ia menjelma menjadi “agama istana” agama yang sibuk mabuk menjaga stabilitas penguasa, bukan martabat rakyat. Itu sebabnya Syariati menyebut agama para nabi sebagai agama revolusi:
agama yang memecahkan belenggu, menolak tirani, dan mengangkat martabat kaum lemah.

Pandangan itu bertemu dengan kritik sosial Eko Prasetyo, terutama dalam Kitab Pembebasan. Eko menulis tegas: “Setiap ajaran yang tak berpihak pada orang kecil hanyalah slogan yang kehilangan nyawa.” Menurut Eko, agama yang tidak menoleh pada kaum miskin dan terpinggirkan hanyalah topeng moral belaka. Banyak institusi keagamaan justru bergerak menjauh dari rakyat menuju kenyamanan kekuasaan lebih sibuk menjaga hubungan politik ketimbang menjaga luka orang kecil.

Keduanya meski dari horizon berbeda bertemu pada satu titik:,agama adalah mandat pembebasan. Agama Tidak Netral: Ia Selalu Memihak Syariati menegaskan bahwa ketidaknetralan adalah inti iman: “Dalam masyarakat yang menindas, menjadi netral sama saja dengan membela penindas.”

Eko Prasetyo menggemakan hal serupa. Dalam analisisnya, diamnya umat ketika ketidakadilan berlangsung bukanlah kesalehan, tetapi pengkhianatan terhadap nilai agama itu sendiri.

Di dalam Imaji Tafsir Progresif Eko prasetyo,menekankan bahwa seluruh kisah kenabian pada dasarnya merupakan dokumentasi perlawanan sosial. Ia membacanya dengan terang:
• Kisah Musa adalah catatan melawan tirani dan penindasan rezim Fir’aun.

• Kisah Syu’aib adalah kritik terhadap mekanisme pasar yang curang, kecurangan timbangan, dan struktur ekonomi yang menipu rakyat kecil.

• Kisah Nabi Isa dibaca Eko sebagai penolakan keras terhadap akumulasi kekayaan dan kemewahan yang meminggirkan rakyat.

• Cerita Ashhabul Kahfi diposisikan sebagai simbol perlawanan kaum muda terhadap rezim lalim yang memburu kebebasan mereka.


Dalam kerangka itu, agama menurut Eko bukanlah dokumen suci yang statis, tetapi: “Kitab gerakan yang harus diamalkan.” Dengan demikian, agama dalam pandangan keduanya adalah energi moral untuk melawan struktur zalim, bukan bergumul dalam ketakutan atau ritual kosong.

Di Zaman Ini, Kita Tidak Butuh Agama yang Lelah,Dua pemikir itu mengajarkan satu hal yang tidak dapat ditawar: agama tidak boleh direduksi menjadi tradisi yang steril dari resistensi.

Agama yang kehilangan keberpihakan akan mudah dibajak oleh negara, dibeli elite, atau berubah menjadi simbol yang kosong. Syariati memperingatkan:
“Musuh terbesar agama bukanlah mereka yang menentangnya, tetapi mereka yang memalsukannya.”

Dan Eko mempertegas dalam konteks Indonesia: “Pembebasan adalah tugas terus-menerus sekali agama berhenti bergerak, ia berubah menjadi monumen yang mati.”

Akhirnya: Agama sebagai Bara Perlawanan Menyandingkan keduanya, sebuah simpulan berdiri kokoh: Agama yang benar adalah agama yang menyala. Agama yang: menolak tunduk pada kekuasaan yang sewenang-wenang,tidak diam ketika rakyat diremukkan, menolak menjadi instrumen legitimasi elite,berdiri dan berpihak pada mereka yang tak punya suara.

Syariati menyebutnya “kesadaran tauhid.” Eko menyebutnya “jalan panjang pembebasan.”Kita menyebutnya satu hal: keadilan. Dan keadilan hanya tumbuh dari agama yang berani,
agama yang bukan hanya bicara tentang surga, tetapi memerangi neraka sosial yang terjadi di bumi.

  • Penulis: Ketua LBH Ansor Maluku Utara Zulfikran Bailussy,SH.
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Zulfikran Bailussy,SH.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Workshop OBE Prodi Kimia Unutara bersama pakar dari UHW Perbanas

    Prodi Kimia Unutara Gelar Workshop OBE untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle Mursid
    • visibility 927
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO), 13 Oktober 2025 – Program Studi (Prodi) Kimia Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (Unutara) menggelar workshop bertajuk “Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE) dan Pengembangan Sistem Evaluasi Perangkat Pembelajaran”. Kegiatan ini berlangsung di kampus Unutara selama tiga hari, 13–15 Oktober 2025, dengan tujuan memperkuat penerapan kurikulum berorientasi hasil serta meningkatkan kualitas […]

  • Ketua LBH Ansor Maluku, Al Walid Muhammad Umamit. (Sumber foto: Istimewa)

    LBH Ansor Maluku Terpilih Kembali Jadi Penyedia Bantuan Hukum Posbakum PTUN Ambon 2026

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 627
    • 0Komentar

    Ambon (BALENGKO), 8 Januari 2026 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku kembali terpilih sebagai penyedia layanan bantuan hukum pada Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Ambon tahun 2026. Ini merupakan kali kelima LBH Ansor Maluku dipercaya menjalankan tugas tersebut. Penetapan ini dilakukan setelah LBH Ansor Maluku dinyatakan lolos seluruh tahapan seleksi, […]

  • Fahrul Abd Muid, Dosen IAIN Ternate dan Wakil Ketua GP Ansor Maluku Utara

    Ansor Maluku Utara Ketahanan Pangan Menuju Kemandirian

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.227
    • 0Komentar

    Kata ‘Ansor’ diambil dari ismun-nama organisasi yang menaungi gerakan pemuda Nahdlatul Ulama. Dalam paruh pertama tahun 1900-an, ismun-nama ini dipilih oleh para ulama dan pendiri Gerakan Pemuda Ansor untuk organisasi pemuda NU. Penentuan ismun-nama ini bukan dilakukan secara asal-asalan-sembarangan, tetapi melalui proses tafakkur arrasikhun yang syamilah-mendalam. Organisasi pemuda NU ini pada akhirnya diberi ismun-nama ‘Ansor’, […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara KH Sarbin Sehe didampingi Direktur RSUD Maba dr. Callice Jackline, Bupati Halmahera Timur, serta unsur Forkopimda saat meninjau fasilitas dan ruangan pelayanan di RSUD Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Sabtu (27/12/25).

    Wagub KH Sarbin Sehe Tinjau RSUD Maba Halmahera Timur

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 318
    • 0Komentar

    Halmahera Timur (BALENGKO) – Wakil Gubernur Maluku Utara, KH Sarbin Sehe, meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Maba, Kabupaten Halmahera Timur, pada Sabtu (27/12/25). Kunjungan tersebut bertujuan memastikan kesiapan sarana dan prasarana rumah sakit dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam peninjauan itu, Wagub didampingi Direktur RSUD Maba, dr. Callice Jackline. Kegiatan ini juga dihadiri Bupati […]

  • Tangkapan layar video warga Maba Sangaji saat menyampaikan aspirasi terkait kasus hukum Maba Sangaji.

    LBH Ansor Ternate Soroti Dakwaan JPU terhadap Warga Maba Sangaji

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.388
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE, 8 Agustus 2025 — Kasus hukum Maba Sangaji kembali menjadi sorotan publik. LBH Ansor Ternate menilai dakwaan Jaksa Penuntut Umum terhadap beberapa warga sebagai bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang memperjuangkan hak-hak tanah leluhur mereka. Sidang yang seharusnya digelar di Pengadilan Negeri Soasio ini di pindahkan ke dalam Rutan Soa Sio, Tidore […]

  • Ilustrasi : Source : Istimewa

    JALUR ENERGI, DOLAR, DAN HEGEMONI: IRAN DAN AS MEMPENGARUHI EKONOMI ASIA PASIFIK

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Fahri Sibua Magister Akuntansi
    • visibility 639
    • 0Komentar

    Ketegangan geopolitik yang sudah berlangsung lama antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya menciptakan gejolak di Timur Tengah, tetapi juga menimbulkan dampak yang jauh lebih luas terhadap perekonomian global, khususnya kawasan Asia Pasifik. Persaingan antara kedua negara ini bukan sekadar persoalan diplomasi atau pertikaian politik semata, melainkan merupakan perjuangan terbuka untuk menguasai jalur-jalur energi vital […]

expand_less