Menasehati Gubernur
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis Wakil Dekan II FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut ilustrasi : Pexels
Khalifah Ali bin Abi Thalib dimasa lampau tahun 38 H, pernah menunjuk saudara Malik bin Al-Harits Al-Asytar menjadi pelaksana tugas Gubernur Mesir. Ali menunjuk saudara Malik untuk menggantikan saudara Muhammad bin Abi Bakar yang dicopot ditengah jalan. Ali pun menulis sebuah surat yang panjang pragrafnya kepada saudara Malik sebagai petunjuk tekhnis dalam melaksanakan sistem pemerintahannya. Surat Ali ini pun menjadi sebuah dokumen bersejarah yang dapat kita sebut sebagai pedoman administrasi pemerintahan. Dokumen ini tersimpan rapi oleh para ahli sejarah sampai hari ini. Jika kita membaca kitab “Najhul Balaghah”, salah satu isinya memuat dengan lengkap dokumen itu pada surat yang ke-53. Sejarawan muslim telah banyak menulis buku sejarah yang mengulas isi dokumen berharga ini. Walaupun Ali menulis suratnya itu sudah ribuan tahun yang lampau, tapi isinya masih sangat relevan untuk para Gubernur yang telah diberi amanah oleh Allah—Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjadi manusia nomor wahid di Provinsinya masing-masing.
Terdapat beberapa bagian penting yang akan dikutip dari surat Ali bin Abi Thalib ini. Marilah kita memahami lebih mendalam siapakah objek penerima surat tersebut. Ternyata, saudara Malik Al-Asytar adalah objek penerima nasihat, dia bukan sembarangan orang, melainkan salah seorang sahabat utama daripada khalifah Ali bin Abi Thalib. Saudara Malik hidup, dibesarkan, dan dikader dalam didikan sahabat utama Rasulullah Saw. Ali bin Abi Thalib sangat mencintainya. Ali pun berkata begini: “saudara Malik bagiku sama seperti aku bagi Rasulullah Saw.” Karena saudara Malik selalu ikut serta mendampingi Ali dalam berbagai peristiwa peperangan. Keberaniannya, kepiawainnya tidak perlu diragukan lagi dalam memainkan pedangnya dalam pertempuran sangat viral. Bahkan terkenal ke seluruh wilayah bangsa Arab saat itu. Kualitas ketakwaannya terlihat jelas dalam kekhusyukan ibadahnya dan sangat sederhana hidupnya—tidak glamor seperti para Gubernur kita di zaman modern ini. Yang oleh Al-Nakha’i meriwayatkan anekdot yang menarik dari perilaku kehidupan Gubernur Mesir, saudara Malik Al-Asytar yang patut saya, anda, dan kita semua contohi.
Suatu hari, saudara Malik melewati pasar di Kufah dengan pakaian dan Serban yang sangat sederhana. Seorang pemilik toko sembako melemparkan daun-daun yang busuk kepadanya. Karena melihat penampilannya yang biasa-biasa saja. Saudara Malik tidak menghiraukan perbuatan yang tidak sopan ini—sangat kurang ajar. Saudara Malik melirik pun tidak sama sekali. Dia dengan tenang meneruskan perjalanannya. Ada orang yang berkata kepada pemilik toko, “tahukah anda siapa yang anda perlakukan dengan tidak sopan—kurang ajar itu?” Pemilik toko itu menjawab, “saya tidak tahu.” Maka orang itu memberi tahu kepadanya bahwa orang itu adalah saudara Malik Al-Asytar, sahabat utama Amirul Mukminin—khalifah Ali bin Abi Thalib. Pemilik toko pun merasa ketakutan—kaget dan sangat malu. Kemudian pemilik toko mengejar saudara Malik, dan mendapatkannya sedang melaksanakan shalat di Masjid. Setelah saudara Malik selesai shalat, pemilik toko langsung merebahkan dirinya, bersimpuh dihadapannya dan menyampaikan permohonan maafnya kepada saudara Malik sambil menangis menyesali perbuatannya.
Saudara Malik mengangkat kepala orang itu dan berkata kepadanya: “demi Allah-Tuhan Yang Maha Pemaaf, saya datang ke masjid untuk memohonkan ampunan Allah Swt—Tuhan Yang Maha Pengampun bagimu.” Saya sendiri pun sudah memaafkan kamu waktu kejadian itu. Saya berharap Allah Swt—Tuhan Yang Maha Pengampun akan memaafkan kamu. Bukankah saudara Malik bila namanya terdengar oleh orang-orang akan menyebabkan musuh-musuhnya bergetar jiwanya karena ketakutan. Saudara Malik ternyata orangnya sangat penyabar, pemaaf, dan tidak pendendam kepada rakyatnya.
- Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis Wakil Dekan II FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut
- Editor: Tim Redaksi Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar