Dituding ‘Pengkhianat Reformasi’, Kehadiran Budiman Sudjatmiko dan Nusron Wahid di UGM Ditolak Massa
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 40
- comment 0 komentar
- print Cetak

Massa aksi membentangkan spanduk berisi kritik tajam dan penolakan terhadap Budiman Sudjatmiko serta Nusron Wahid di tengah forum diskusi "Pancasila Pemersatu Bangsa" di GIK UGM, Yogyakarta, Senin (15/6/2026). Ketegangan ini memaksa panitia dan aparat keamanan mengevakuasi para pejabat negara tersebut dari lokasi acara. (Foto: BS/Ist)
BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Gelombang pergerakan mahasiswa di ruang akademis kembali memanas. Forum diskusi kebangsaan bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin malam (15/06/2026) berakhir dengan ketegangan hebat. Ratusan mahasiswa menggelar aksi protes keras yang berujung pada pembubaran paksa acara.
Insiden Diskusi Pancasila UGM Ricuh ini dipicu oleh penolakan masif mahasiswa terhadap kehadiran sejumlah pejabat pemerintah pusat yang didapuk sebagai narasumber utama.
Adapun jajaran pejabat negara yang hadir di lokasi di antaranya Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Aksi interupsi dan protes mulai merangsek masuk saat sesi pemaparan materi masih berjalan, yang memaksa panitia penyelenggara bersama aparat keamanan bergerak cepat mengevakuasi para narasumber keluar dari area GIK UGM.
Bentangkan Spanduk ‘Pengkhianat Reformasi’

Massa aksi yang mengonsolidasikan diri dari berbagai elemen internal kampus tampak membentangkan sejumlah spanduk bernada satir dan kritik tajam di dalam ruangan. Di antaranya bertuliskan kalimat provokatif seperti “UGM Tolak Penjilat Rezim”.
Berdasarkan rilis pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Serikat Mahasiswa UGM, mereka menilai narasi normatif mengenai nilai-nilai Pancasila yang digaungkan di podium sangat kontradiktif dengan realitas sosial, ekonomi, dan konstelasi politik yang menjepit masyarakat bawah hari ini.
Mahasiswa menilai kehadiran para pejabat tersebut memicu mosi tidak percaya, terutama dalam mempertanyakan komitmen nyata pemerintah terhadap penegakan keadilan sosial, muruah demokrasi, serta ruang keterbukaan atas kritik publik.
Situasi Memanas Tanpa Korban Jiwa
Eskalasi di dalam gedung GIK sempat memuncak saat massa secara komunal merangsek mendekati panggung utama dan memotong jalannya diskusi panel. Kendati situasi sempat diwarnai ketegangan fisik dan adu mulut, tidak ada laporan resmi mengenai korban cedera atau kerusakan fasilitas berat dalam insiden malam tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada rilis ataupun keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Rektorat UGM maupun perwakilan dari ketiga pejabat negara yang dievakuasi terkait insiden pembubaran tersebut.
Peristiwa di bumi Gadjah Mada ini memperpanjang daftar manifesto dan gelombang kritik terbuka kelompok kelas menengah intelektual terhadap arah kebijakan rezim dalam beberapa waktu terakhir. Mahasiswa menegaskan bahwa aksi boikot ini merupakan bagian sah dari hak kebebasan berpendapat demi mengawal jalannya demokrasi di Indonesia. (BS)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar