Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 30
- comment 0 komentar

Sumber Foto: Istimewa
Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair:
Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma
Subhan Samsudin
Dua dekade pertama abad ke-21 memperlihatkan dunia yang bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris konstan. Perang tidak lagi menjadi peristiwa yang jarang terjadi, melainkan hadir sebagai latar belakang berita harian.
Ketegangan geopolitik di Eropa Timur, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, rivalitas ekonomi antara kekuatan besar dunia, hingga ancaman perang siber membentuk suasana global yang sarat kecemasan. Pada saat yang sama, dunia juga mengalami percepatan revolusi digital yang mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan memahami realitas.
Krisis kesehatan global akibat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu mempertegas rasa rapuh tersebut. Sistem kesehatan kolaps di banyak negara, ekonomi terguncang, mobilitas dibatasi, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Tidak lama setelah pandemi mereda, dunia kembali dihadapkan pada krisis energi, inflasi, dan ketidakstabilan pasar global. Seolah-olah krisis datang silih berganti tanpa jeda yang jelas.
Fenomena serupa juga terasa di Indonesia. Perubahan pola kerja akibat digitalisasi memperluas ekonomi berbasis platform, tetapi sekaligus meningkatkan ketidakpastian kerja. Polarisasi politik dalam beberapa momentum pemilu menunjukkan bagaimana ruang publik terbelah tajam oleh narasi identitas dan opini yang diperkuat oleh media sosial.
Generasi muda menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu bertahan dalam persaingan global yang tidak stabil. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat semakin bergantung pada algoritma untuk memperoleh informasi, membangun relasi, bahkan menentukan preferensi konsumsi.
Dari pengalaman konkret inilah muncul pertanyaan: mengapa dunia terasa semakin tidak stabil? Apakah konflik, polarisasi, dan kecemasan sosial ini hanya rangkaian peristiwa terpisah, ataukah bagian dari transformasi sosial yang lebih dalam? Untuk memahami pola tersebut, gagasan Zygmunt Bauman tentang modernitas cair menawarkan kerangka refleksi yang relevan.
Jika kita mengamati dinamika global hari ini, satu kata yang sering muncul adalah ketidakpastian. Masa depan ekonomi sulit diprediksi, pekerjaan tidak lagi menjanjikan stabilitas jangka panjang, dan hubungan antarnegara mudah berubah mengikuti kepentingan strategis.
Di tingkat individu, ketidakpastian itu terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan kontrak menggantikan posisi permanen. Karier tidak lagi bersifat linear, melainkan berpindah-pindah lintas sektor. Pendidikan tidak menjamin keamanan ekonomi. Bahkan relasi personal pun mengalami perubahan; pertemanan dan hubungan romantis sering kali terbentuk dan berakhir dengan cepat, dipengaruhi oleh dinamika media sosial.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat dalam pertumbuhan gig economy, dimana banyak orang bekerja sebagai pengemudi daring, pekerja lepas digital, atau kreator konten. Model kerja semacam ini memberikan fleksibilitas, tetapi minim perlindungan jangka panjang. Sementara itu, tekanan untuk tampil sukses di ruang digital menciptakan standar sosial baru yang sering kali tidak realistis.
Secara global, masyarakat menghadapi ancaman perubahan iklim, krisis pangan, serta ketimpangan ekonomi yang semakin tajam. Ketidakpastian bukan lagi pengecualian, melainkan pengalaman kolektif yang hampir universal.
Selain ketidakpastian ekonomi, gejala lain yang menonjol adalah polarisasi sosial. Di banyak negara, masyarakat terbelah dalam isu politik, agama, identitas, dan ideologi. Ruang dialog semakin menyempit, digantikan oleh perdebatan sengit di media sosial.
Algoritma digital memainkan peran penting dalam fenomena ini. Sistem rekomendasi konten dirancang untuk menyesuaikan preferensi pengguna, sehingga individu cenderung terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya. Akibatnya, terbentuklah ruang gema yang memperkuat keyakinan kelompok masing-masing dan memperlemah dialog lintas perspektif.
Indonesia pun tidak terlepas dari dinamika tersebut. Polarisasi politik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bagaimana identitas dapat menjadi alat mobilisasi sekaligus sumber konflik. Penyebaran hoaks dan disinformasi memperumit situasi, menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi publik.
Fragmentasi ini tidak hanya terjadi dalam politik, tetapi juga dalam relasi sosial sehari-hari. Komunitas yang dahulu menjadi ruang solidaritas kini tergeser oleh jaringan digital yang lebih luas namun kurang mendalam. Hubungan menjadi lebih cepat terbentuk, tetapi juga lebih mudah terputus.
Dari berbagai fenomena tersebut, kita dapat menarik sebuah pola umum: struktur sosial yang dulu relatif stabil kini berubah menjadi lebih fleksibel dan rapuh. Di sinilah konsep modernitas cair dari Zygmunt Bauman menjadi relevan.
Dalam karyanya Liquid Modernity (2000), Bauman menggambarkan perubahan dari modernisasi “padat” menuju modernitas “cair.” Pada fase modernitas sebelumnya, kehidupan sosial ditopang oleh institusi yang kuat dan relatif permanen: pekerjaan tetap, komunitas lokal, keluarga besar, serta identitas yang diwariskan secara turun-temurun. Struktur tersebut memberikan rasa arah dan stabilitas.
Namun dalam modernitas cair, struktur itu melemah. Segala sesuatu menjadi sementara, fleksibel, dan mudah berubah. Identitas tidak lagi diberikan, melainkan harus dibangun dan dipertahankan secara terus-menerus. Individu dituntut menjadi arsitek kehidupannya sendiri tanpa jaminan kolektif yang kuat.
Bauman melihat bahwa dalam kondisi ini, kebebasan meningkat tetapi keamanan menurun. Individu memiliki lebih banyak pilihan, namun juga memikul lebih banyak risiko. Ketidakpastian menjadi bagian inheren dari kehidupan modern.
Dalam konteks geopolitik, modernitas cair membantu menjelaskan mengapa konflik tampak semakin kompleks dan sulit diselesaikan. Hubungan antarnegara tidak lagi diatur oleh keseimbangan kekuatan yang stabil, melainkan oleh kepentingan yang cepat berubah. Aliansi dapat bergeser, sanksi ekonomi digunakan sebagai instrumen politik, dan perang informasi menjadi bagian dari strategi global.
Ketidakamanan global ini mencerminkan apa yang Bauman sebut sebagai “unsicherheit,” yaitu gabungan antara ketidakpastian, ketidakamanan, dan kerentanan. Masyarakat hidup dalam kondisi di mana masa depan sulit direncanakan, dan ancaman dapat muncul secara tiba-tiba.
Di Indonesia, meskipun tidak terlibat langsung dalam perang besar, dampak konflik global tetap terasa melalui fluktuasi harga energi, gangguan rantai pasok, dan tekanan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang saling terhubung, krisis di satu kawasan dapat dengan cepat memengaruhi kawasan lain.
Jika perang memperlihatkan ketidakstabilan di tingkat global, algoritma mempercepat kecairan di tingkat sosial dan kultural. Teknologi digital tidak hanya mengubah cara komunikasi, tetapi juga membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri.
Identitas kini dibangun melalui citra digital: jumlah pengikut, tanda suka, dan representasi visual diri. Konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan cara membangun makna sosial. Individu terus memperbaiki diri agar tetap relevan dalam arus informasi yang cepat.
Di Indonesia, generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang intens. Media sosial menjadi ruang utama untuk berekspresi, berjejaring, dan bahkan mencari nafkah. Namun, ruang ini juga menghadirkan tekanan psikologis, mulai dari perbandingan sosial, kecemasan performatif, dan kebutuhan akan validasi terus-menerus.
Dalam perspektif Bauman, algoritma memperkuat karakter cair masyarakat modern. Perubahan terjadi begitu cepat sehingga stabilitas menjadi sulit dipertahankan. Individu harus terus beradaptasi, belajar ulang, dan mengelola citra diri.
Jika ditarik secara induktif dari fenomena perang, polarisasi, ketidakpastian ekonomi, dan revolusi digital, dapat disimpulkan bahwa dunia tidak sekadar mengalami serangkaian krisis terpisah. Dunia sedang berada dalam kondisi struktural yang memproduksi krisis secara berulang.
Modernitas cair menjelaskan bahwa ketika institusi melemah dan solidaritas kolektif berkurang, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap guncangan. Ketidakstabilan bukan lagi gangguan sementara, melainkan ciri bawaan sistem sosial.
Di Indonesia, tantangan ini menuntut refleksi mendalam. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang menjadi ciri khas budaya lokal menghadapi tekanan dari individualisasi dan kompetisi global. Jika tidak dikelola dengan bijak, kecairan sosial dapat memperlemah kohesi masyarakat.
Pemikiran Bauman tidak hanya bersifat diagnostik, tetapi juga mengajak refleksi etis. Jika dunia memang cair, bagaimana manusia dapat membangun kembali makna dan solidaritas?
Pertama, diperlukan penguatan institusi sosial yang mampu memberikan perlindungan tanpa mengekang kebebasan. Kedua, literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam polarisasi algoritmik. Ketiga, solidaritas komunitas perlu diperbarui dalam bentuk yang relevan dengan zaman.
Bagi Indonesia, tantangan ini sekaligus peluang. Dengan populasi muda yang besar dan budaya komunal yang kuat, Indonesia memiliki modal sosial untuk merespons kecairan global secara kreatif. Namun, hal tersebut memerlukan kebijakan publik yang inklusif serta kesadaran kolektif akan pentingnya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab sosial.
Berangkat dari pengalaman konkret abad ke-21 – perang, krisis ekonomi, polarisasi digital, dan perubahan sosial di Indonesia – kita dapat melihat pola umum berupa meningkatnya ketidakpastian dan melemahnya struktur sosial yang stabil.
Konsep modernitas cair dari Zygmunt Bauman memberikan lensa teoritis untuk memahami kondisi tersebut. Dunia saat ini bukan hanya menghadapi krisis yang terpisah-pisah, melainkan hidup dalam sistem yang secara struktural cair dan fleksibel. Kebebasan individu meningkat, tetapi jaminan kolektif melemah.
Tantangan terbesar abad ini bukan sekadar mengelola teknologi atau menyelesaikan konflik geopolitik, melainkan menemukan kembali bentuk solidaritas dan stabilitas dalam dunia yang terus berubah. Dalam konteks global maupun Indonesia, refleksi atas modernitas cair menjadi langkah penting untuk memahami arah masa depan kemanusiaan.
- Penulis: Subhan Samsudin
- Editor: Redaktur Balengco

Saat ini belum ada komentar