Era Baru PMII: Menggugat Paradigma Gerakan atau Sekadar Romantisme Sejarah?
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- visibility 263
- comment 0 komentar

(Fahri Sibua) Sekretaris Cabang PMII Pasifik Morotai Periode 2022-2023. Sumber foto : Istimewa
Organisasi yang ingin bertahan hidup harus mampu memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan nilai-nilainya dan memperluas jejaring keanggotaan. Namun, pertanyaannya adalah apakah PMII telah memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal untuk membangun gerakan yang lebih modern dan peka terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat modern, atau malah tetap berpegang pada pola gerakan konvensional yang lebih mengutamakan metode tradisional.
Romantisme Sejarah: Mencari Cara Baru atau Menghidupkan Citra Masa Lalu?
Terlepas dari fakta bahwa PMII memiliki latar belakang perjuangan yang luar biasa, ada kemungkinan bahwa organisasi ini terlalu mengagungkan nilai-nilai perjuangan masa lalu tanpa mempertimbangkan relevansinya dalam konteks saat ini. Namun, timbul pertanyaan apakah nilai-nilai tersebut masih dapat diterapkan secara efektif untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat saat ini?
Sebagai ilustrasi, prinsip-prinsip seperti perjuangan untuk menegakkan keadilan masyarakat dan menentang imperialisme masih relevan; namun, bagaimana mereka digunakan dalam perjuangan mereka? Apakah PMII tetap berpegang pada tradisi lama atau telah berusaha membuat rencana baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini?
Dua elemen penting yang harus dipelajari secara menyeluruh dalam situasi ini. Di satu sisi, mempertahankan warisan sejarah dapat memperkuat identitas PMII dan menumbuhkan rasa bangga anggota. Namun demikian, jika organisasi terlalu berfokus pada masa lalu dan mengabaikan pentingnya penyesuaian, pergerakan PMII mungkin menjadi stagnan dan tidak lagi menarik bagi generasi muda.
Kemunduran dalam Cara Berpikir Kader PMII: Kualitas Pemikiran Menurun?
Kemerosotan kualitas intelektual anggota PMII adalah masalah lain yang sangat penting. Salah satu kritik yang sering diberikan adalah bahwa sebagian besar anggota PMII tidak memiliki kemampuan berpikir kritis yang diperlukan untuk mempelajari berbagai dinamika sosial-politik yang berkembang di masyarakat. Anggota cenderung lebih tertarik pada rutinitas organisasi dan kegiatan internal, sementara peran mereka sebagai transformasi sosial semakin dilupakan. Kondisi ini mempengaruhi kualitas advokasi yang dihasilkan, karena pergerakan yang tidak dilandasi oleh pemikiran yang mendalam akan sulit melakukan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan perubahan sosial.
- Penulis: (Fahri Sibua) Sekretaris Cabang PMII Pasifik Morotai Periode 2022-2023
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Mursid Puko

Saat ini belum ada komentar