Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Membaca Buku di Atas Perahu Bocor

Membaca Buku di Atas Perahu Bocor

  • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
  • visibility 298
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pendidikan kerap dipuji sebagai jalan utama menuju kemajuan. Ia disebut jembatan masa depan, tangga mobilitas sosial, bahkan mesin peradaban. Namun, di balik retorika yang berulang, ada kenyataan yang jarang diucapkan dengan jujur: banyak anak Indonesia hari ini sedang belajar dalam kondisi yang rapuh, seolah membaca buku di atas perahu bocor.

Perahu itu tidak selalu tampak dari kejauhan. Ia masih bergerak, masih mengangkut penumpang, dan masih diklaim laik jalan. Namun bila diperhatikan lebih dekat, kebocorannya terasa dari bawah: dari ketimpangan kualitas sekolah, dari lemahnya dukungan bagi guru, serta dari kebijakan yang sering kali lebih cepat berubah dibanding kesiapan di lapangan.

Retakan yang Terukur oleh Data

Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia di bawah rata-rata negara OECD. Angka ini bukan sekadar statistik internasional, melainkan cermin dari persoalan mendasar: banyak siswa mampu mengeja, tetapi belum mampu memahami. Membaca belum sepenuhnya menjadi alat berpikir.

Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. UNESCO dalam Global Education Monitoring Report 2023 menegaskan bahwa tantangan utama pendidikan di negara berkembang bukan hanya akses, tetapi juga kualitas pembelajaran dan dukungan berkelanjutan bagi guru². Di Indonesia, persoalan ini terasa nyata, terutama di wilayah nonperkotaan, tempat sekolah sering kali bekerja dalam keterbatasan sarana, pelatihan, dan pendampingan profesional.

Di titik inilah perahu pendidikan mulai kemasukan air. Ketika kualitas guru tidak ditopang secara sistematis, kurikulum sebaik apa pun akan sulit berfungsi. Ketika kesenjangan antardaerah dibiarkan, pendidikan justru mereproduksi ketidakadilan yang seharusnya ia koreksi.

Nostalgia sebagai Cermin, Bukan Tujuan

Ada kecenderungan untuk memandang masa lalu pendidikan dengan nada romantik. Padahal, sekolah dahulu juga penuh kekurangan. Namun, nostalgia tetap memiliki nilai reflektif. Ia mengingatkan bahwa pendidikan pernah dijalankan dengan tujuan yang lebih sederhana namun jujur: mencerdaskan, membentuk watak, dan memandirikan manusia.

Paulo Freire menulis, “Education does not change the world. Education changes people. People change the world.” Ketika pendidikan kehilangan orientasi pada manusia dan terlalu terikat pada indikator administratif, daya transformatif itu memudar. Sekolah menjadi ruang pelaporan, bukan ruang pertumbuhan.

Hari ini, siswa sering dihadapkan pada tuntutan capaian yang seragam, sementara kondisi belajar mereka sangat beragam. Dalam situasi seperti ini, kegagalan kerap dibaca sebagai kelemahan individu, bukan sebagai kegagalan sistem.

Murka yang Rasional

Kritik terhadap pendidikan tidak selalu lahir dari pesimisme. Ia justru berangkat dari kepedulian. Bank Dunia mencatat bahwa tingkat learning poverty di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu persentase anak usia 10 tahun yang belum mampu membaca dan memahami teks sederhana⁴. Fakta ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan bukan berada di ujung jenjang, melainkan di fondasi paling awal.

Ivan Illich pernah mengingatkan, “Schooling confuses process and substance.” Ketika kehadiran di kelas disamakan dengan belajar, dan kelulusan disamakan dengan kecakapan hidup, maka pendidikan berisiko kehilangan maknanya. Perahu tetap berlayar, tetapi arah dan keselamatannya dipertanyakan.

Kemarahan yang muncul dari kondisi ini bukan kemarahan emosional, melainkan kegelisahan rasional. Sebab, membiarkan pendidikan berjalan dalam kondisi bocor berarti menerima risiko hilangnya satu generasi dalam diam.

Menambal dari Dalam

Di atas perahu bocor adalah metafora tentang daya tahan, tetapi juga peringatan. Ketangguhan guru dan siswa tidak boleh dijadikan alasan untuk menormalisasi keterbatasan. Justru dari sanalah negara seharusnya memulai pembenahan: memperkuat sekolah yang paling lemah, menyederhanakan beban guru, dan memastikan kebijakan berpijak pada realitas kelas, bukan semata pada konsep.

Pendidikan seharusnya menjadi perahu yang mengantarkan, bukan ujian bertahan hidup. Jika kebocoran terus diabaikan, maka seberapa pun rajinnya membaca, penumpang tetap akan kelelahan menimba air. Dan pada titik tertentu, kelelahan itu akan berubah menjadi keheningan yang berbahaya.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demi Responsivitas Pelayanan, Kades Tanjung Saleh Jelaskan Konteks Penataan Perangkat Desa; DPMD Minta Perbaikan Administratif

    Demi Responsivitas Pelayanan, Kades Tanjung Saleh Jelaskan Konteks Penataan Perangkat Desa; DPMD Minta Perbaikan Administratif

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 127
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Kepala Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Morotai Utara, Halil Boba, menegaskan bahwa langkah penataan perangkat desa dan anggota Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang ia lakukan dilandasi oleh urgensi peningkatan kinerja pelayanan publik dan responsivitas terhadap keluhan warga. Langkah ini diambil setelah pihaknya menerima sejumlah laporan mengenai tidak aktifnya fungsi LPM selama tiga […]

  • Atasi Dampak Kabut Asap: Pemkab Morotai Liburkan Siswa 5 Hari dengan Sistem Fleksibel

    Atasi Dampak Kabut Asap: Pemkab Morotai Liburkan Siswa 5 Hari dengan Sistem Fleksibel

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
    • account_circle Muh. Muzijad Mandea
    • visibility 195
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI — Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai tidak menutup kemungkinan memperpendek masa pembelajaran dari rumah bagi siswa menyusul kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah. Sekretaris Daerah (Sekda) Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, mengatakan kebijakan pembelajaran dari rumah selama lima hari bukan keputusan yang bersifat mutlak. Pemkab akan menyesuaikannya dengan perkembangan kondisi udara […]

  • Source : Istimewa

    PAN Morotai Desak DPRD Panggil Perindagkop dan Agen BBM, Soroti Dugaan Permainan Harga Minyak Tanah

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 219
    • 0Komentar

    PULAU MOROTAI (BALENGKO) – Gelombang keluhan masyarakat terkait kelangkaan dan tingginya harga Minyak Tanah (BBM Bersubsidi) di Kabupaten Pulau Morotai menuai reaksi keras dari Ketua Formatur DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Pulau Morotai, Moh. Akbar Mangoda. Ia menilai adanya kelemahan pengawasan serta sikap “takut” dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) dalam menindak pengecer nakal. […]

  • Komunitas Pijar NC Gelar Edukasi dan Simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pantai Falajawa, Ternate

    Komunitas Pijar NC Gelar Edukasi dan Simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Pantai Falajawa, Ternate

    • calendar_month Minggu, 26 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 617
    • 0Komentar

    peserta simulasi BHD di Pantai Falajawa bersama Komunitas Pijar NC.

  • Asap Pekat Selimuti Kota Daruba: Aktivitas Harian Warga hingga Jalan Panjang Gotalamo Terhambat

    Asap Pekat Selimuti Kota Daruba: Aktivitas Harian Warga hingga Jalan Panjang Gotalamo Terhambat

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle Muh. Muzijad Mandea
    • visibility 80
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Kabut asap tebal masih menyelimuti kawasan Kota Daruba, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, pada Sabtu (10/10/2026). Fenomena ini berdampak langsung pada terganggunya mobilitas serta aktivitas harian masyarakat setempat. Berdasarkan hasil pantauan media Balengko.space di lapangan, gumpalan kabut asap terpantau menggelembung cukup pekat di sepanjang akses jalan Desa Gotalamo, khususnya di […]

  • Kegiatan Literasi Digital Spasial FKIP UNKHAIR Rua digelar bersama HAGI dan Forum PRB Ternate guna melatih warga memetakan jalur evakuasi paska-bencana.

    Literasi Digital Spasial FKIP UNKHAIR Rua Tingkatkan Ketangguh

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 223
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE – Upaya pemulihan dan penguatan kapasitas masyarakat paska-bencana terus digalakkan di Kota Ternate. Langkah konkret ini diwujudkan melalui agenda Literasi Digital Spasial FKIP UNKHAIR Rua dalam bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kemitraan yang dipusatkan di Kelurahan Rua, Kota Ternate, Senin (18/05/2026). Kegiatan strategis yang bertajuk “Peningkatan Literasi Digital-Spasial Masyarakat Rua Melalui Pemanfaatan […]

expand_less