Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Intelijen di Era Multipolar: Dari Hudzaifah bin al-Yaman hingga Krisis Nurani Global

Intelijen di Era Multipolar: Dari Hudzaifah bin al-Yaman hingga Krisis Nurani Global

  • calendar_month Jum, 31 Okt 2025
  • visibility 216
  • comment 0 komentar

Ketika dunia kembali terbelah dalam persaingan multipolar antara Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan kekuatan regional lain, intelijen menjadi senjata utama yang menentukan arah geopolitik. Namun, di tengah kebisingan algoritma dan operasi rahasia lintas negara. Pada bagian ini ada satu hal yang saya ajukan setidaknya paling  mendasar yaitu moral. Figur Hudzaifah bin al-Yaman, Shahibu Sirri Rasulullah (pemegang rahasia Rasulullah) mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan tentang kemampuan menyusup atau memata-matai, tetapi tentang menjaga manusia dari ketakutan yang dibuat oleh kekuasaan (Ma’had Aly Jakarta).

Tulisan ini menggarisbawahi krisis mendasar dunia akhir-akhir ini bahwa intelijen banyak dikendalikan oleh kekuasaan untuk mematai-matai rakyat kecil, dan untuk melawan saingan politik sehingga kehilangan dimensi etisnya. Dari skandal penyadapan massal, perang siber, hingga manipulasi opini publik, lembaga intelijen kini beroperasi di ruang abu-abu antara perlindungan dan pengendalian.

Padahal, sejarah Islam memberikan preseden lain. Rasulullah menjadikan intelijen sebagai alat penjaga umat, bukan mesin pemburu lawan politik. Hudzaifah bin al-Yaman berdiri sebagai simbol disiplin, loyalitas, dan kontrol moral atas informasi, nilai yang mendesak untuk dihidupkan kembali di era ketika keamanan sering dijadikan alasan untuk melanggar kemanusiaan (Arrahmah.id).

Jika dilihat secara radikal perjalanan panjang sejarah Islam, Nabi menempatkan  model intelijen berfungsi untuk melindungi masyarakat dari bahaya, bukan menaklukkan perbedaan. Informasi dikendalikan secara vertikal dan etis, laporan langsung ke komando puncak, tanpa bocor ke ruang opini.

Ketika Rasulullah mempercayakan daftar orang munafik kepada Hudzaifah, ia memegang rahasia itu dengan totalitas,  bahkan Umar bin Khattab pun memilih membaca isyarat daripada menuntut kebenaran eksplisit (Liputan6). Prinsip ini berbeda tajam dengan praktik intelijen kontemporer, yang sering menggunakan data sebagai alat represi, manipulasi, atau barter politik.

Dalam tatanan multipolar, penyadapan, propaganda digital, dan perang opini menjadi norma baru. Namun, tanpa pondasi nilai seperti kejujuran, proporsionalitas, dan tanggung jawab, intelijen hanya menciptakan lingkaran ketakutan global. Dunia menjadi pasar informasi yang disalahgunakan, kebenaran bukan lagi untuk dipahami, tetapi untuk dijual kepada siapa pun yang membayar paling tinggi.

Misi Hudzaifah di Perang Khandaq menunjukkan paradigma intelijen berbasis integritas. Ia menyusup ke markas musuh, tetapi tetap berpegang pada mandat tunggal, mengamati dan melapor, bukan membunuh atau menebar ketakutan. Keberhasilannya tidak lahir dari intrik, tetapi dari pengendalian diri. Dalam istilah modern, Hudzaifah bukan agen sabotase, tetapi analis yang akurat, orang yang tahu bahwa informasi tanpa etika adalah bahan bakar kekacauan (Ma’had Aly Jakarta).

Di dunia saat ini, presisi moral semacam itu langka. Banyak operasi intelijen berjalan di luar mekanisme hukum internasional. Drone, spyware, hingga deep surveillance dilakukan tanpa mandat publik. Keamanan global justru menciptakan rasa tidak aman baru. Dari Snowden hingga Pegasus, kita menyaksikan bagaimana intelijen kehilangan arah ketika dibiarkan tanpa tanggung jawab moral. Hudzaifah membuktikan sebaliknya, pengendalian diri adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan.

Kerahasiaan untuk Stabilitas, Bukan Intimidasi

Rasulullah membatasi arus informasi hanya kepada mereka yang memiliki tanggung jawab langsung. Ini adalah bentuk awal dari need-to-know protocol. Tujuannya bukan menakut-nakuti publik, melainkan mencegah distorsi dan fitnah (Detikcom).

Dalam konteks multipolar, ketika kebocoran data dan leak menjadi senjata geopolitik, pelajaran ini menjadi sangat relevan. Rahasia yang digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat adalah korupsi makna keamanan. Kerahasiaan harus memelihara stabilitas sosial, bukan menebar paranoia.

Di dunia digital, pelanggaran kerahasiaan justru sering dilakukan oleh negara sendiri terhadap rakyatnya. Kamera pengawas, big data, dan intelijen siber kini bekerja dalam logika total kontrol. Padahal, ketika setiap warga merasa diawasi, yang lahir bukan keamanan, melainkan kepanikan yang terstruktur.

Rasulullah mengajarkan strategi psikologis yang cerdas tanpa kekejian. Nu’aim bin Mas’ud memecah barisan koalisi Quraisy tanpa darah, melalui diplomasi rahasia dan permainan persepsi yang elegan (VOA-Islam). Strategi ini menunjukkan bahwa perang informasi tidak harus berbasis kebohongan. Bandingkan dengan praktik saat ini terjadinya disinformation, propaganda digital, dan perang opini yang menelan korban kebenaran. Perang informasi global hari ini bukan lagi soal senjata, melainkan perang terhadap kejujuran.

Dalam konteks multipolar, ketika setiap negara membangun “tembok narasi” sendiri, etika komunikasi menjadi senjata terakhir untuk menjaga dunia tetap rasional. Kecerdasan yang tak terikat kebenaran hanya akan memperpanjang konflik.

 Standar Baru di Era “Semua Disadap”

Ada tiga prinsip sederhana dari sejarah yang harus dihidupkan kembali. Pertama, akurasi lebih penting daripada intensitas. Informasi yang benar dan bisa diverifikasi lebih berharga daripada banjir data yang menyesatkan.

Kedua, minimalkan kerusakan sekunder. Setiap operasi intelijen harus diukur dari dampaknya terhadap warga, reputasi, dan stabilitas sosial. Ketiga, mandat terbatas dan pengawasan publik. Intelijen harus tunduk pada hukum, bukan berada di atasnya. Prinsip-prinsip inilah yang dapat mengembalikan kepercayaan global bahwa keamanan adalah hak warga, bukan monopoli negara.

Krisis dunia saat ini bukan hanya soal perang dan teknologi, tetapi tentang hilangnya batas moral dalam penggunaan kekuasaan. Dari konflik Ukraina, Timur Tengah, hingga rivalitas digital antara Tiongkok dan Barat, intelijen memainkan peran menentukan dalam membentuk persepsi global. Namun, tanpa kesadaran etis, intelijen justru mempercepat kehancuran kepercayaan antarbangsa. Hudzaifah bin al-Yaman memberi pelajaran abadi bawah rahasia adalah amanah, bukan alat intimidasi. Informasi adalah kekuatan, tetapi kekuatan tanpa kendali moral hanyalah bentuk lain dari kekerasan.

Di tengah dunia yang dibelah oleh sensor, propaganda, dan penyadapan total, kita membutuhkan kembali “intelijen yang berhati” bukan dalam arti religius semata, tetapi dalam arti rasional, sehingga  kemampuan menjaga informasi agar tidak menjadi racun sosial. Hudzaifah bin al-Yaman menunjukkan bahwa kecerdasan sejati bukan kemampuan menembus rahasia, tetapi kemampuan menahan diri. Dalam tatanan multipolar yang sarat kecurigaan, inilah nilai yang paling langka bagi intelijen  yang melindungi, bukan menakut-nakuti. Dan mungkin, di situlah peradaban diuji bukan pada kekuatannya, tetapi pada kemampuannya untuk tetap berakal dan berperikemanusiaan.

Tulisan di hadapan anda adalah  sebuah pandangan umum untuk merefleksikan kembali bagaimana Rasulullah mendidik Hudzaifah bin al-Yaman yang seorang intelijen kepercayaan beliau (Rasulullah), untuk senantiasa melakukan misi rahasia tanpa mengabaikan dimensi etis dan spiritual dalam dirinya. Sehingga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Terutama bagi umat Islam dalam menilai risiko dan konflik yang dapat memecahkan umat di tengah proses bernegara. Maka menjaga kesatuan dan keutuhan negara di tengah konflik dunia yang tidak menentu  merupakan sebuah ibadah dan kunci dari ketentraman, keamanan bernegara.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Fatayat NU Tidore Astuti Ardenan memberikan pernyataan pers kasus kekerasan seksual Oba Utara.

    Fatayat NU Tidore: Kasus Remaja Oba Utara hingga Musisi Lokal Bukti Kekerasan Seksual Kian Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.258
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Tidore Kepulauan, 4 September 2025 – Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tidore Kepulauan mengecam keras tindakan kekerasan seksual yang menimpa remaja 21 tahun di Desa Bukit Durian, Dusun Bukulasa, Kecamatan Oba Utara, pada 2 September 2025. Kasus yang Mengkhawatirkan Ketua Fatayat NU Kota Tidore, Astuti Ardenan, menilai kasus kekerasan seksual bukan hal baru. […]

  • Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

    Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

    • calendar_month Kam, 11 Des 2025
    • account_circle Rabbiul Nguna Nguna
    • visibility 499
    • 0Komentar

    Pendidikan sering kali dilekatkan pada perilaku baik dan terpuji. Karena itu, ketika seseorang memasuki dunia pendidikan formal baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ia kerap dicap sebagai pribadi baik. Terlebih lagi apabila seorang anak melanjutkan studi hingga perguruan tinggi, ia hampir pasti dianggap sebagai sosok paling bermoral dan berakhlak terpuji.

  • Himpunan Mahasiswa Islam Yogyakarta menuntut keadilan bagi aktivis Madarudin Lapandewa korban kekerasan"

    Kekerasan Madarudin Lapandewa: HMI Yogyakarta Desak Pihak berwajib Tindak Tegas Pelaku di Desa Ilath

    • calendar_month Jum, 22 Agu 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.347
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA (22/8/25) Kekerasan terhadap Madarudin Lapandewa di Desa Ilath, Pulau Buru, Maluku, memicu respon keras dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Pada 17 Agustus lalu, sekelompok orang memukul Madarudin hingga ia mengalami luka serius. korban menjalani perawatan di rumah sakit akibat insiden tersebut. Formatur Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta, Isra Boy, mengecam […]

  • Muhlis Ibrahim, Koordinator KATAM Maluku Utara (Foto: Istimewa)

    KATAM Malut Tegaskan Penjualan 90 Ribu Ton Ore PT WKM Sesuai Prosedur Hukum

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 111
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Konsorsium Advokasi Tambang (KATAM) Maluku Utara memberikan klarifikasi resmi terkait aktivitas penjualan 90.000 metrik ton (metric ton/MT) bijih nikel (ore) oleh PT Wana Kencana Mineral (PT WKM). Berdasarkan hasil telaah mendalam, KATAM menyatakan bahwa transaksi tersebut sah secara hukum dan telah memenuhi seluruh kewajiban kepada negara. Koordinator KATAM Maluku Utara, Muhlis Ibrahim, […]

  • PMII DAN FIQIH SOSIAL PERJUDIAN DI INDONESIA

    PMII DAN FIQIH SOSIAL PERJUDIAN DI INDONESIA

    • calendar_month Ming, 20 Apr 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Perjudian online dan offline kini menjadi salah satu bidikan utama pemerintah Republik Indonesia belakangan ini. Dan tampaknya gerakan anti perjudian online dan offline berhubungan erat dengan gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebenarnya, rezim pemerintah saat ini hendak menunjukkan komitmennya yang goodwill (memiliki nilai tambah) untuk mempercepat good government atau untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan […]

  • Izzah Qurrata’ain Juara 1 MTQ Internasional di Qatar, Perjalanan Inspiratif Menuju Kemenangan

    Izzah Qurrata’ain Juara 1 MTQ Internasional di Qatar, Perjalanan Inspiratif Menuju Kemenangan

    • calendar_month Kam, 30 Jan 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 478
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Persiapan Matang Menuju Panggung Dunia Menjadi juara dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat internasional bukanlah hal yang mudah. Bagi Izzah Qurrata’ain, perjalanan menuju kemenangan dimulai jauh sebelum hari perlombaan. Bersama sang ayah, ia mempersiapkan diri dengan latihan intensif, memastikan tajwid, suara, dan intonasi bacaannya sempurna. Bahkan setelah tiba di Jakarta, […]

expand_less