Saya menyebutnya Si Melankolis: Sutan Sjahrir Melihat Indonesia dalam Teropong Sosialisme
- calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
- visibility 997
- comment 0 komentar
- print Cetak

ketua LBH Ansor Kota Ternate. Sumber foto : Istimewa
Sutan Sjahrir adalah paradoks dalam sejarah Indonesia: ia pejuang kemerdekaan yang tidak meledak dalam retorika, melainkan menyusup melalui keheningan pikiran. Di saat banyak pemimpin memanggil massa dengan semboyan, Sjahrir memilih menulis dalam sunyi. Ia dijuluki “si melankolis”, bukan karena ia lemah, melainkan karena ia terlalu mencintai bangsanya hingga takut melihatnya terjerumus dalam kesalahan sejarah.
Bagi Sjahrir, sosialisme adalah teropong kemanusiaan untuk melihat Indonesia. Bukan sosialisme yang otoriter ala blok Timur, bukan pula sosialisme ekonomi semata. Ia merumuskan sosialisme humanistik: sosialisme yang mendidik, bukan mengagitasi; membebaskan, bukan menguasai.
Ia percaya, republik hanya dapat bertahan jika berdiri di atas karakter manusia merdeka bukan massa yang bisa digiring.
1. Indonesia harus menjadi peradaban, bukan hanya negara.”
Dalam Perjuangan Kita, Sjahrir menulis:
“Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan pikiran. Tanpa itu, kita hanya mengganti tuan lama dengan tuan baru.”
Ia menyadari bahwa bahaya terbesar pasca-kolonialisme bukan kembalinya penjajah asing, melainkan lahirnya elite lokal yang mengulang penindasan dalam wajah baru. Ia mengkritik nasionalisme yang penuh romantisme, tetapi miskin rasionalitas. Ia takut Indonesia menjadi bangsa yang pandai berteriak “merdeka”, tetapi lupa bertanya: merdeka untuk apa?
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar