Sumpah Pemuda di Morotai: Tagih Janji ke Pemkab, Massa ARIT Boikot Jalan Morofest
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 60
- comment 0 komentar
- print Cetak

Aliansi Rakyat Tertindas melakukan demonstrasi di jalan CBD Pulau Morotai. (Source: Istimewa)
BALENGKO SPACE, MOROTAI, —Momentum Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026), berujung pada ketegangan di Kabupaten Pulau Morotai. Aliansi Rakyat Tertindas (ARIT), yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat, harus gigit jari setelah mendapati kantor pemerintahan setempat kosong saat mereka datang untuk menyampaikan tuntutan.
Frustrasi atas kondisi tersebut membuat massa aksi mengalihkan gerakan ke kawasan Central Business District (CBD), Kecamatan Morotai Selatan, dan memboikot akses jalan menuju lokasi Morotai Festival (Morofest), Rabu, (28/10). Situasi ini memaksa Kapolres Pulau Morotai turun langsung untuk melakukan persuasi agar akses masyarakat tidak terputus.
Koordinator Lapangan (Koorlap) ARIT, Nudin Amor, mengungkapkan kekecewaannya atas respons Pemerintah Daerah (Pemda). Aliansi yang terdiri dari Gempar, GMNI, SMI, Sekolah Kritis, Gamhas, dan individu pro-demokrasi ini sejatinya menyasar Kantor DPRD dan Kantor Bupati. Namun, rute ke DPRD dibatalkan karena situasi yang tidak kondusif.
“Ketika kami sampai di lingkungan Kantor Bupati sekitar pukul 12.00 WIT, yang notabene masih jam kerja, tidak ada aktivitas perkantoran. Berdasarkan informasi, pejabat di beberapa OPD sudah pulang ke rumah masing-masing,” kata Nudin.
Sementara Kapolres Pulau Morotai, AKBP drh. Dedi Wijayanto, mengatakan bahwa Bupati tidak berada di tempat, Wakil Bupati sedang sakit, dan Sekretaris Daerah (Sekda) sedang dinas luar kota. Massa aksi pada akhirnya hanya diterima oleh Asisten 1 Sekretariat Daerah.
“Massa menolak berdialog dengan Asisten 1 karena menganggap itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kami kemudian memediasi, dan disepakati Asisten 1 akan meneruskan tuntutan ini. Pemda akan merapatkannya dengan Kepala Dinas (Kadis) terkait, seperti Perikanan, Koperasi, dan Pendidikan, untuk kemudian menjadwalkan hearing resmi dengan ARIT,” jelas Dedi.
Ketidakhadiran pejabat inti ini justru membakar semangat massa. Nudin menegaskan, kehadiran mereka di hari Sumpah Pemuda ini bukan sekadar seremonial, melainkan untuk menolak keras rencana latihan militer yang melibatkan negara asing di Morotai.
“Jika latihan militer ini diterapkan, konflik agraria akan berkepanjangan dan petani yang akan jadi korban. Kami juga mendesak penyelesaian sengketa lahan yang ada,” tegas Nudin.
Usai kesepakatan di Kantor Bupati, massa sempat kembali ke kampus. Namun, mereka kembali turun ke jalan dan memblokir akses menuju kawasan Morofest di CBD.
Merespons penutupan jalan tersebut, Kapolres Pulau Morotai, AKBP drh. Dedi Wijayanto langsung mendatangi lokasi. Ia memberikan ruang kebebasan bagi massa untuk berorasi, namun dengan catatan keras agar tidak menutup akses jalan raya.
“Kami sampaikan silakan beraksi, tapi tolong jangan menghambat arus lalu lintas. Masih ada masyarakat yang butuh akses keluar masuk. Kami khawatirkan jika jalan ditutup total, akan terjadi gesekan atau ribut dengan masyarakat umum yang ingin beraktivitas,” ujar Dedi.
Pendekatan persuasif kepolisian tersebut akhirnya diterima oleh massa aksi. Jalan menuju Morofest kembali dibuka dan arus lalu lintas dilancarkan, sementara orasi dilanjutkan di area yang tidak memblokir akses utama.
- Penulis: Mujizad Mandea

Saat ini belum ada komentar