Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » INSIPRASI » Immanuel “Noel” Ebenezer: Luka, Empati, dan Gerak di Jalanan Kekuasaan Luka 1998: Barak Kuda dan Sumpah Seorang Anak Manusia

Immanuel “Noel” Ebenezer: Luka, Empati, dan Gerak di Jalanan Kekuasaan Luka 1998: Barak Kuda dan Sumpah Seorang Anak Manusia

  • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
  • visibility 392
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Asap gas air mata, jerit mahasiswa, suara tembakan peringatan, dan mobil barak kuda polisi  yang berderak di jalanan Jakarta pada Mei 1998 adalah potongan sejarah yang masih hidup di dada Immanuel “Noel” Ebenezer. Mahasiswa 20 tahun itu diseret dari jalan protokol, pelipisnya dihantam popor, tulang punggungnya ditekuk oleh lengan aparat, dan tubuhnya digelindingkan ke dalam truk besi yang bau karat dan keringat.

Di dalam gelap itulah lahir sumpah yang kelak akan membentuk langkah-langkahnya,“Jika kuasa suatu hari menyentuh tanganku, jangan biarkan ia menjadi tangan yang memukul.” Sejak itu, luka Noel bukan hanya bekas, tapi kompas. “Luka adalah tempat cahaya masuk.” Noel menjadikan derita sebagai lentera, bukan bara dendam.

Getir Pasca Reformasi: Ojol, Akta Nikah, dan Sedekah Rahasia

Reformasi membawa ruang bersuara, tetapi tidak selalu membawa ruang  bernapas. Antara 1997–2000, lebih dari 4,5 juta buruh kehilangan pekerjaan (BPS). Noel selama menjadi aktivis mahasiswa ’98 nyaris putus kuliah dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, tapi lulus dari Universitas Satya Negara (2004). Kesibukan diluar kampus mendampingi korban PHK, kaum miskin kota korban ketidkadilan. Namun idealisme tak selalu bisa menutup kebutuhan dapur.

Ia pun menjadi pengemudi Grab, bahkan sampai akta nikahnya dijadikan jaminan untuk mempertahankan akun aplikatornya. Dari jok motornya, Noel menyaksikan wajah getir para pekerja gig, jam kerja panjang, algoritma yang buta rasa, dan ketiadaan perlindungan hukum.

Meski dalam kondisi apapun ada sisi humanis dari Noel. Suatu malam, seorang bapak yang tak dikenalnya menelepon, suaranya gemetar meminta bantuan untuk membeli beras. Noel tidak menanyakan nama, alamat, atau niat. Ia langsung menelepon kasir Alfamart terdekat dan membayar kebutuhan pokok bapak itu. “Perut lapar harus diisi; soal siapa dia, biarlah jadi urusan Tuhan,” ujarnya. Bagi Noel, sedekah bukanlah panggung, melainkan napas sunyi.

Maaf untuk Lawan, Tegas untuk Keadilan

Kepada orang yang dulu menghina dan menderanya dengan lapang dada di selalu membuka pintu maaf. Kepada polisi yang memukulnya pada 1998, Noel memberikan penyataan pada pidato sambutan sertifikasi untuk polisi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta, pada 22 Juli 2025, ia berkata: “Polisi hakikatnya adalah pagar demokrasi, bukan palu kekuasaan.” Namun kelembutan itu tidak berarti lemah.

Tahun 2022, ketika Munarman, eks Sekretaris Umum FPI diadili atas kasus terorisme, Noel hadir sebagai saksi meringankan. Tindakannya menuai kritik dan berujung pada pencopotan dari posisi Komisaris Utama PT. Mega Eltra (BUMN). Ia tetap berdiri dengan satu prinsip, “Keadilan hukum tak mengenal kawan dan lawan. Hak bicara di pengadilan harus dijaga, meski itu berarti saya kehilangan jabatan.” Noel percaya, maaf bisa menyembuhkan luka, tetapi ketidakadilan harus dilawan, bahkan jika itu menuntut pengorbanan.

  • Penulis: Redaksi Balengko Space
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tambang atau Pariwisata? Menentukan Masa Depan, Menjaga Kawasan SBB

    Tambang atau Pariwisata? Menentukan Masa Depan, Menjaga Kawasan SBB

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Fahrul Syukur (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Wilayah Seram Bagian Barat memiliki kekayaan alam yang melimpah. Hutan masih luas, pesisir yang indah dan budaya masih terikat dengan kehidupan masyarakat. Kawasan ini menyimpan banyak potensi besar misalnya, sumber daya mineral untuk pertambangan dan daya tarik alam untuk pariwisata. Di sinilah akan muncul pertanyaan paling penting bagi masa depan daerah: Apakah pendapatan daerah akan tumbuh pada eksploitasi tambang, atau pada penguatan pariwisata berkelanjutan?

  • ilustrasi

    ISRA’ MI’RAJ dan PERADABAN SUJUD

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Menurut saya hanya ada dua nilai-value dalam peristiwa kemukjizatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw yang menjadi spirit kebangsaan untuk digunakan oleh seorang pemimpin baik Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota dalam membangun Indonesia yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Pertama, kalau hendak sukses membangun bangsa Indonesia ini menjadi sebuah negara yang maju, kuat dan hebat maka […]

  • Source : Istimewa

    Gal-Da: Ruang Hidup Elit vs Mimpi Otonomi Rakyat

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Asbar Kuseke
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Semangat Perjuangan yang Tersandera DOB Galela Loloda (Galda) bukan sekadar wacana administratif; ia adalah “lonceng pengingat” sejak Deklarasi 2011 di Galela Selatan. Perjuangan ini lahir dari kolektivisme moral dan ekonomi masyarakat yang masif. Namun, sangat disayangkan jika energi besar dari para tokoh lintas sektor—politik, intelektual, hingga agamawan—kini seolah terbentur tembok kepentingan elit yang tidak linier […]

  • Flayer

    Transmigrasi Patlean Dinilai Stagnan, IKPM-HT dan PSPK UGM Siap Buka Dialog Publik

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO) — Program transmigrasi yang selama ini diproyeksikan sebagai instrumen pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi kawasan pedesaan dinilai masih menyisakan sejumlah persoalan struktural, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Salah satu kawasan yang menjadi sorotan adalah Transmigrasi Patlean di Kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, yang meliputi SP 1, SP 2, SP 4, […]

  • Filosofi tentang Waktu di Antara Kehilangan dan Cinta

    Filosofi tentang Waktu di Antara Kehilangan dan Cinta

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Riki Arista
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Kehilangan datang sebagai penagihnya, sementara cinta hampir selalu datang sebagai janji. Waktu berdiri di antara keduanya, menentukan segalanya seperti hakim yang diam. Kita sering berpikir bahwa cinta adalah tentang perasaan, dan kehilangan adalah tentang nasib. Namun, jika kita melihat lebih dalam, keduanya adalah tentang waktu, tentang kapan kita bertemu, berapa lama kita bersama, dan kapan semuanya runtuh atau hanya menjadi kenangan.

  • Dorong Konektivitas Maritim, Sarbin Sehe Kunjungi Pelabuhan Panambuang Usai Panen Rumput Laut

    Dorong Konektivitas Maritim, Sarbin Sehe Kunjungi Pelabuhan Panambuang Usai Panen Rumput Laut

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Balengko Space
    • visibility 620
    • 0Komentar

    Halmahera Selatan, 3 Mei 2025 – Usai menghadiri panen raya rumput laut di Desa Madapolo Timur, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, melanjutkan kunjungan ke Balai Pengelola Pelabuhan Daerah Provinsi Maluku Utara di Desa Panambuang, Sabtu (03/05/2025) pukul 14.00 WIT. Kunjungan ini bertujuan memantau pengelolaan pelabuhan serta mendorong peningkatan konektivitas dan ekonomi maritim di wilayah […]

expand_less