Teror di Jalanan Kota : Pergeseran Wajah Kekerasan Seksual dari Ruang Privat ke Publik
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 115
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi : Pinterest
Ternate β Bumi Moloku Kie Raha sedang tidak baik-baik saja. Di balik ketenangan jejeran pulaunya, Maluku Utara kini menghadapi ujian berat: ancaman kekerasan seksual yang mulai merambah hingga ke jalanan kota dalam bentuk kekejaman yang nyata.
Data Simfoni PPA hingga September 2025 mencatat angka yang mengkhawatirkan: 246 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Namun, yang paling memukul nurani publik akhir-akhir ini adalah fenomena begal payudara. Kejadian di Ternate baru-baru ini menjadi bukti sahih bahwa ruang publik yang seharusnya aman, kini telah terinvasi oleh perilaku predator yang merendahkan martabat perempuan.
Gunung Es dan Belenggu “Aib”
Angka laporan terus meningkat di periode 2025/2026, namun kita tahu itu hanyalah puncak gunung es. Di Maluku Utara, tekanan sosial dan budaya sering kali memaksa korban untuk bungkam karena bayang-bayang “aib”. Ketakutan ini menjadi angin segar bagi pelaku; mereka bebas berkeliaran dan mencari mangsa baru sementara korbannya terpasung rasa malu.
Logikanya sederhana namun mengerikan: Jika pelecehan di tempat umum saja sudah berani dilakukan secara terang-terangan, bisa kita bayangkan betapa kelamnya situasi di ruang-ruang tertutup yang tak pernah terlaporkan?
Bukan Kenakalan, Tapi Tindak Pidana
Kekerasan seksual telah berevolusi menjadi serangan terbuka di jalanan kota. Ini bukan lagi soal “kenakalan” atau perilaku tidak menyenangkan biasa. Ini adalah tindak pidana serius yang diatur dalam UU TPKS dengan ancaman hukuman yang tegas.
Sebagai mahasiswa Komunikasi, penulis menegaskan bahwa komunikasi bukan hanya soal bertukar pesan, tapi juga soal memutus rantai impunitas melalui keberanian bersuara. Kita tidak boleh menoleransi bentuk pelecehan sekecil apa pun.
Kesimpulan: Ambil Alih Ruang Publik!
Maluku Utara tidak boleh kalah oleh teror pelaku pelecehan. Sudah saatnya kita mengambil kembali hak atas ruang publik yang aman dan nyaman.
Diam bukan lagi pilihan. Karena setiap detik kita memilih bungkam, satu lagi perempuan di tanah ini sedang berada dalam ancaman. Mari bersuara, karena keselamatan bukan sebuah hak istimewa, melainkan hak dasar setiap manusia.
- Penulis: Sakila Korois (Mahasiswa komunikasi dan penyiaran islam IAIN Ternate)
- Editor: Mustakim

Saat ini belum ada komentar