Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 384
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan itulah cara berpikir terbentuk.

 Pikiran melahirkan tindakan, tindakan menghasilkan kebiasaan, kebiasaan membuahkan   karakter, dan karakter menciptakan nasib”.  Kutipan Aristoteles.

Dalam dunia pendidikan, terutama Ilmu Komunikasi, proses ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami, bukan sekadar mengulang. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Mahasiswa tampak “pintar” karena mampu meniru bentuk, struktur tulisan rapi, argumen terlihat logis, diksi terasa akademik, padahal di balik itu, pemahaman belum tentu tumbuh. Seperti konsep psikologi yang dikemukakan Albert Bandura (1977) melalui Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) menjelaskan bahwa sesorang belajar dari observasi dan imitasi perilaku orang lain, bukan hanya dari pengalaman langsung. Namun Bandura tidak pernah berhenti pada imitasi. Ia menekankan adanya proses internalisasi, sesuatu yang justru sering hilang hari ini.

Tulisan, pada akhirnya, menjadi penanda paling jujur. Fenomena ini (terutama dengan AI) mahasiswa langsung ke tahap reproduksi tanpa benar-benar melalui proses pemahaman yang sistematis. Bagaimana memahami realitas ontologi (hakikat keberadaan), kebenaran epistemologi (metode pengetahuan), dan etika secara mendalam aksiologi (nilai atau kegunaan).  Dari sana, cara berpikir seseorang terbuka. Apakah ia benar-benar menyusun pengetahuan, atau hanya menyalin ulang apa yang sudah ada sekedar copast (copy paste). Persoalan ini kemudian diperkuat , di Indonesia, gelar akademik kerap berdiri sendiri, seolah cukup sebagai legitimasi sampai kedalaman berpikir tidak selalu ikut diperiksa. Justru lahirnya lulusan yang tampak siap di atas kertas, tetapi gagap ketika harus menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi disiplin ilmu pengetahuannya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, kajian Ilmu Komunikasi lewat karya tersohor Kurt Lewin (1943) berjudul gatekeeping (penjaga gerbang) awalnya untuk menggambarkan bagaimana keputusan dalam rumah tangga memengaruhi pola konsumsi makanan.  Artinya, bagaimana makanan sampai ke meja makan tidak terjadi begitu saja. Ada proses memilih: bahan apa yang dibeli, apa yang dimasak, apa yang akhirnya disajikan. Di setiap titik itu, ada “gerbang”. Dan di setiap gerbang, ada keputusan.

Jika ditarik ke dunia pengetahuan, logikanya tidak jauh berbeda. Informasi yang sampai ke publik, atau bahkan ke tulisan mahasiswa, seharusnya melewati tahapan serupa. Tidak semua yang ditemukan langsung digunakan. Tidak semua yang terdengar “ilmiah” layak dikutip. Ada proses memilah, mempertimbangkan, bahkan menolak.

Gagasan Lewin kemudian diadaptasi oleh David Manning White (1950) untuk menjelaskan proses redaksi berita di media massa. Dalam studinya yang terkenal, White mengikuti kerja seorang editor yang ia sebut “Mr. Gates”. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan berita masuk ke meja redaksi. Tapi tidak semuanya mendapat tempat. Hanya sebagian kecil yang akhirnya terbit. Menariknya, keputusan itu tidak pernah benar-benar dingin dan objektif. White menunjukkan bahwa pilihan seorang editor bisa dipengaruhi banyak hal: pengalaman, selera, bahkan suasana hati di hari itu.

Di situlah letak pentingnya gatekeeping. Bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memberi ruang untuk berpikir. Ada jeda sekecil apa pun antara menerima informasi dan menyebarkannya. Di jeda itulah pertimbangan bekerja: ini layak atau tidak, ini perlu atau tidak.

Masalahnya, dalam konteks hari ini, terutama di dunia akademik, jeda itu mulai hilang. Informasi datang begitu saja, dari buku, dari internet, dari AI, lalu langsung dipakai. Tanpa sempat benar-benar dipertanyakan, apalagi dipahami.

Tidak ada penyaringan yang cukup. Tidak ada “gerbang” yang benar-benar dijaga. Semua terasa bisa langsung dipakai, selama terlihat meyakinkan.

Padahal, dalam logika Kurt Lewin, setiap tahap itu seharusnya memiliki fungsi operasional: memilih sumber, mengecek relevansi, menimbang argumen, hingga memutuskan apakah layak ditulis atau tidak. Dan dalam kerangka David Manning White, keputusan itu tidak pernah netral ia selalu melibatkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengatakan “ini tidak cukup baik untuk dipublikasikan”.

Masalahnya, hari ini, banyak tulisan lahir tanpa pernah melewati proses itu. Ia langsung jadi. Langsung rapi. Langsung dipublikasikan. Tanpa pernah benar-benar “ditahan” sejenak untuk diuji.

Dari situ, kita bisa melihat satu hal yang sering luput: krisis bukan hanya pada kualitas tulisan, tetapi pada hilangnya proses penyaringan itu sendiri. Gatekeeping tidak lagi dijalankan sebagai praktik, melainkan hanya tinggal konsep. Dan ketika gerbang itu dibiarkan terbuka tanpa penjaga, apa pun bisa lewat, termasuk pengetahuan yang belum sempat dipahami.

  • Penulis: Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aisun Salim HMI Maluku Utara mengalami tindakan represif polisi saat demo mahasiswa di DPRD Halmahera Selatan, Selasa 2 September 2025.

    Aisun Salim HMI Maluku Utara Jadi Korban Represif Polisi di Halsel

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 411
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Halmahera Selatan – Aisun Salim Kabid Pemberdayaan Perempuan Badko HMI Maluku Utara menjadi korban tindakan represif polisi saat demo mahasiswa di Kantor DPRD Kabupaten Halmahera Selatan, Selasa 2 September 2025. Aksi mahasiswa berlangsung ricuh setelah aparat kepolisian memukul peserta aksi. Dihimpun dari berbagai sumber Salah satu korban kekerasan, Aisun Salim, Kabid Pemberdayaan Perempuan […]

  • Suasana penyuluhan bahaya narkoba di Balai Desa Karangmanggis bersama mahasiswa KKN dan BNN Kendal

    Mahasiswa KKN Universitas Alma Ata dan BNN Kendal Edukasi Generasi Muda di Desa Karangmanggis

    • calendar_month Kamis, 14 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 950
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Karangmanggis, Kendal Kamis (14/8/25)– Pemerintah Desa Karangmanggis bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 4 Universitas Alma Ata Yogyakarta dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kendal menggelar penyuluhan bahaya narkoba. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Karangmanggis dan menghadirkan Kepala Desa, perangkat desa, Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (BabinKamtibmas), […]

  • Kondisi jalan rusak di Pulau Moti, Kota Ternate, yang mengalami kerusakan di sejumlah titik dan dinilai membahayakan pengguna jalan, terutama kendaraan roda dua dan roda empat. Sumber: Istimewa

    Kerusakan Jalan di Pulau Moti Kian Parah, Warga Minta Perbaikan Segera

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 307
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) — Kondisi jalan di Kecamatan Pulau Moti, Kota Ternate, dilaporkan mengalami kerusakan di sejumlah titik dan dinilai mengganggu aktivitas masyarakat. Berdasarkan informasi warga, beberapa ruas jalan mengalami kerusakan yang cukup signifikan sehingga menyulitkan pengguna kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Salah satu titik yang disebut mengalami kerusakan berat berada di Kelurahan Moti […]

  • Revolusi Sunyi di Sekolah-Sekolah Maluku Utara

    Revolusi Sunyi di Sekolah-Sekolah Maluku Utara

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Subhan Samsudin
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Berbicara tentang perubahan pendidikan, kita sering membayangkan gebrakan besar, kebijakan baru, program raksasa, atau masuknya teknologi canggih ke ruang kelas. Namun, tidak semua transformasi datang dengan sorotan dan tepuk tangan. Di banyak tempat, perubahan bergerak perlahan dan hampir tanpa suara, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Fenomena inilah yang dapat disebut sebagai “revol jauh dari pusat […]

  • Ujb

    USHP Sowan ke Alumni UJB, Galang Dukungan untuk Seminar Nasional Living Law

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Yogyakarta (Balengko Space) , 23 Maret 2026 – Unit Studi Hukum Perdata Universitas Janabadra (USHP) melaksanakan kegiatan sowan ke Jakarta dalam rangka mempererat hubungan dengan alumni sekaligus menggalang dukungan untuk program Living Law, Senin (23/3). Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah pengurus dan anggota aktif USHP yang berangkat sejak pagi hari. Kunjungan difokuskan pada silaturahmi dengan […]

  • Portrait of Prof. Richard Kearney, Charles B. Seelig Chair (Philosophy) photographed for use in the 3/11 issue of Chronicle Picture Lee Pellegrini

    Matinya Imajinasi dalam Peradaban Citra: Hermeneutika Kemungkinan ala Richard Kearney

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Jurusan Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    • visibility 896
    • 0Komentar

    Imajinasi sebagai Hermeneutika Kemungkinan Imajinasi pernah dipuji sebagai jantung kreativitas manusia, juga  medium yang menghubungkan fakta dan fiksi, realitas dan kemungkinan, dunia empiris dan dunia simbolik. Namun, menurut Richard Kearney, imajinasi justru tengah mengalami kematian yang ironis di zaman yang seolah paling penuh dengan citra. Buku The Wake of Imagination karya Richard Kearney, menggambarkan paradoks […]

expand_less