Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 397
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan itulah cara berpikir terbentuk.

 Pikiran melahirkan tindakan, tindakan menghasilkan kebiasaan, kebiasaan membuahkan   karakter, dan karakter menciptakan nasib”.  Kutipan Aristoteles.

Dalam dunia pendidikan, terutama Ilmu Komunikasi, proses ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami, bukan sekadar mengulang. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Mahasiswa tampak “pintar” karena mampu meniru bentuk, struktur tulisan rapi, argumen terlihat logis, diksi terasa akademik, padahal di balik itu, pemahaman belum tentu tumbuh. Seperti konsep psikologi yang dikemukakan Albert Bandura (1977) melalui Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) menjelaskan bahwa sesorang belajar dari observasi dan imitasi perilaku orang lain, bukan hanya dari pengalaman langsung. Namun Bandura tidak pernah berhenti pada imitasi. Ia menekankan adanya proses internalisasi, sesuatu yang justru sering hilang hari ini.

Tulisan, pada akhirnya, menjadi penanda paling jujur. Fenomena ini (terutama dengan AI) mahasiswa langsung ke tahap reproduksi tanpa benar-benar melalui proses pemahaman yang sistematis. Bagaimana memahami realitas ontologi (hakikat keberadaan), kebenaran epistemologi (metode pengetahuan), dan etika secara mendalam aksiologi (nilai atau kegunaan).  Dari sana, cara berpikir seseorang terbuka. Apakah ia benar-benar menyusun pengetahuan, atau hanya menyalin ulang apa yang sudah ada sekedar copast (copy paste). Persoalan ini kemudian diperkuat , di Indonesia, gelar akademik kerap berdiri sendiri, seolah cukup sebagai legitimasi sampai kedalaman berpikir tidak selalu ikut diperiksa. Justru lahirnya lulusan yang tampak siap di atas kertas, tetapi gagap ketika harus menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi disiplin ilmu pengetahuannya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, kajian Ilmu Komunikasi lewat karya tersohor Kurt Lewin (1943) berjudul gatekeeping (penjaga gerbang) awalnya untuk menggambarkan bagaimana keputusan dalam rumah tangga memengaruhi pola konsumsi makanan.  Artinya, bagaimana makanan sampai ke meja makan tidak terjadi begitu saja. Ada proses memilih: bahan apa yang dibeli, apa yang dimasak, apa yang akhirnya disajikan. Di setiap titik itu, ada “gerbang”. Dan di setiap gerbang, ada keputusan.

Jika ditarik ke dunia pengetahuan, logikanya tidak jauh berbeda. Informasi yang sampai ke publik, atau bahkan ke tulisan mahasiswa, seharusnya melewati tahapan serupa. Tidak semua yang ditemukan langsung digunakan. Tidak semua yang terdengar “ilmiah” layak dikutip. Ada proses memilah, mempertimbangkan, bahkan menolak.

Gagasan Lewin kemudian diadaptasi oleh David Manning White (1950) untuk menjelaskan proses redaksi berita di media massa. Dalam studinya yang terkenal, White mengikuti kerja seorang editor yang ia sebut “Mr. Gates”. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan berita masuk ke meja redaksi. Tapi tidak semuanya mendapat tempat. Hanya sebagian kecil yang akhirnya terbit. Menariknya, keputusan itu tidak pernah benar-benar dingin dan objektif. White menunjukkan bahwa pilihan seorang editor bisa dipengaruhi banyak hal: pengalaman, selera, bahkan suasana hati di hari itu.

Di situlah letak pentingnya gatekeeping. Bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memberi ruang untuk berpikir. Ada jeda sekecil apa pun antara menerima informasi dan menyebarkannya. Di jeda itulah pertimbangan bekerja: ini layak atau tidak, ini perlu atau tidak.

Masalahnya, dalam konteks hari ini, terutama di dunia akademik, jeda itu mulai hilang. Informasi datang begitu saja, dari buku, dari internet, dari AI, lalu langsung dipakai. Tanpa sempat benar-benar dipertanyakan, apalagi dipahami.

Tidak ada penyaringan yang cukup. Tidak ada “gerbang” yang benar-benar dijaga. Semua terasa bisa langsung dipakai, selama terlihat meyakinkan.

Padahal, dalam logika Kurt Lewin, setiap tahap itu seharusnya memiliki fungsi operasional: memilih sumber, mengecek relevansi, menimbang argumen, hingga memutuskan apakah layak ditulis atau tidak. Dan dalam kerangka David Manning White, keputusan itu tidak pernah netral ia selalu melibatkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengatakan “ini tidak cukup baik untuk dipublikasikan”.

Masalahnya, hari ini, banyak tulisan lahir tanpa pernah melewati proses itu. Ia langsung jadi. Langsung rapi. Langsung dipublikasikan. Tanpa pernah benar-benar “ditahan” sejenak untuk diuji.

Dari situ, kita bisa melihat satu hal yang sering luput: krisis bukan hanya pada kualitas tulisan, tetapi pada hilangnya proses penyaringan itu sendiri. Gatekeeping tidak lagi dijalankan sebagai praktik, melainkan hanya tinggal konsep. Dan ketika gerbang itu dibiarkan terbuka tanpa penjaga, apa pun bisa lewat, termasuk pengetahuan yang belum sempat dipahami.

  • Penulis: Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fakta Mengejutkan di Balik Angka Depresi dan Bunuh Diri di Indonesia

    Fakta Mengejutkan di Balik Angka Depresi dan Bunuh Diri di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 10 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 740
    • 0Komentar

    Ilustrasi : pexels Kesehatan mental adalah elemen penting dalam menjalani kehidupan yang seimbang dan bermakna. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental adalah keadaan sejahtera yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitasnya (WHO, 2004). Namun, data menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental terus meningkat di […]

  • Kondisi wajah salah satu warga adat Maba Sangaji yang tampak mengalami lebam, menurut keterangan keluarga akibat insiden di Rutan Soasio. Hingga berita ini dirilis, pihak rutan belum memberikan keterangan resmi.

    LBH Ansor Maluku Utara Desak Penyelidikan Dugaan Kekerasan di Rutan Soasio terhadap Warga Adat Maba Sangaji

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 790
    • 0Komentar

    Kota Tidore Kepulauan (BALENGKO) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara mengecam dugaan tindak kekerasan terhadap warga adat Maba Sangaji yang terjadi di Rumah Tahanan Kelas IIB Soasio, Tidore Kepulauan, pada Senin, 20 Oktober 2025. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi hanya beberapa hari sebelum mereka dijadwalkan bebas setelah menjalani vonis lima bulan delapan hari dalam […]

  • SSB Saremo Putra Gelar Buka Puasa Bersama dan Nobar di Kelurahan Tambula

    SSB Saremo Putra Gelar Buka Puasa Bersama dan Nobar di Kelurahan Tambula

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Tidore, (16/3/25) – Sekolah Sepak Bola (SSB) Saremo Putra Kelurahan Tambula, Kota Tidore Kepulauan (Tikep), menggelar acara buka puasa bersama di Gedung Pertemuan Kelurahan Tambula. Acara ini juga diisi dengan nonton bareng (Nobar) film Cahaya dari Timur serta doa bersama. Sekitar 60 siswa yang terdaftar di SSB Saremo Putra hadir dalam […]

  • REKONSILIASI DAN KONSOLIDASI IKA PMII  UNTUK MALUKU UTARA BANGKIT, INDONESIA MAJU

    REKONSILIASI DAN KONSOLIDASI IKA PMII UNTUK MALUKU UTARA BANGKIT, INDONESIA MAJU

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.695
    • 0Komentar

    Adalah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) yang mengikat para kadernya untuk tetap berjuang dalam rangka memberikan musa’adah (konstribusi) pemikiran, tenaga dan waktunya untuk terlibat aktif dalam pembangunan Maluku Utara bangkit dan Indonesia maju. Membantu kerja-kerja pemerintah, baik pusat maupun daerah pada konteks kerja-kerja Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, kerja-kerja siyasiyyah (politik) dan berkomitmen yang […]

  • Source : Istimewa

    GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah Malut Dukung Transformasi Digital Gubernur Sherly Tjoanda

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 297
    • 0Komentar

    SOFIFI (BALENGKO) – Komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda dalam mendorong transformasi digital mendapat respons positif dari organisasi kepemudaan. Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor dan PW Pemuda Muhammadiyah Maluku Utara secara resmi memberikan apresiasi atas langkah penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ketua […]

  • Suasana kegiatan santunan anak yatim dan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh PC SAPMA Pemuda Pancasila Kota Tangerang di Gedung Pemuda KNPI Kota Tangerang, Sabtu (14/03/2026).

    SAPMA PP Kota Tangerang Gelar Santunan Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama di Gedung KNPI

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 201
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Kota Tangerang — Pimpinan Cabang Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kota Tangerang menggelar kegiatan santunan anak yatim dan buka puasa bersama pada Sabtu (14/03/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pemuda KNPI Kota Tangerang yang berlokasi di Jalan A. Damyati No.28, RT 003/RW 006, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Acara […]

expand_less