Siapa Sangka Bayi yang Dimandikan Messi 19 Tahun Lalu Kini Jadi Lawan Berebut Trofi Piala Dunia?
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sesi foto amal UNICEF pada tahun 2007 mempertemukan Lionel Messi muda dengan bayi Lamine Yamal, sebuah momen historis yang kini menjadi kenyataan indah di final Piala Dunia 2026. (Foto: Istimewa/UNICEF)
BALENGKO SPACE, ATLANTA – Ada kisah-kisah di dunia nyata yang jalannya terasa jauh lebih dramatis ketimbang skenario film fiksi terbaik Hollywood. Salah satu kisah magis itu kini sedang tersaji di panggung termegah sepak bola bumi, melibatkan sang megabintang legendaris, Lionel Messi, dan pemuda ajaib yang digadang-gadang sebagai pewaris takhtanya, Lamine Yamal.
Mundur ke tahun 2007 silam, sebuah sesi pemotretan amal garapan badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, mempertemukan Messi muda dengan seorang bayi mungil berusia lima bulan. Bayi yang saat itu dimandikan dan digendong dengan kikuk oleh La Pulga di dalam bak plastik sederhana itu bernama Lamine Yamal.
Saat rana kamera fotografer Joan Monfort mengabadikan momen tersebut, tidak ada satu pun manusia di bumi yang tahu bahwa bayi mungil tersebut akan tumbuh besar menjadi salah satu talenta muda paling mematikan di kolong langit.
Kini, setelah 19 tahun berlalu, takdir menenun benang merah yang sangat rapi. Keduanya dipertemukan kembali di puncak tertinggi sepak bola. Lionel Messi bersiap melakoni laga final yang diyakini kuat menjadi tarian terakhirnya (The Last Dance) di ajang Piala Dunia, sementara Lamine Yamal akan menapakkan kakinya di laga final Piala Dunia pertamanya bersama Tim Nasional Spanyol.
Simbolisme Angka 19 dan DNA Catalan
Pertemuan ini bukan sekadar duel perebutan trofi berlapis emas, melainkan upacara penyerahan obor generasi yang dipenuhi simbol kebetulan yang indah.
Lamine Yamal melangkah ke lapangan hijau dengan mengenakan nomor punggung 19 di skuad La Furia Roja. Angka tersebut adalah nomor yang sama yang dipakai oleh Lionel Messi di masa-masa awal meniti karier profesionalnya, baik saat membela Barcelona maupun ketika mulai menggebrak bersama Timnas Argentina.
Romantisme kisah ini kian lengkap mengingat keduanya merupakan produk asli dari rahim akademi legendaris yang sama, La Masia milik FC Barcelona. Di sanalah bakat mentah keduanya ditempa hingga mampu membius jutaan pasang mata pencinta sepak bola.
Dari sebuah jepretan foto amal sederhana yang berdebu di arsip surat kabar lawas, kini menjelma menjadi duel epik demi memperebutkan trofi paling bergengsi di kolong langit. Pertemuan mereka menjadi bukti otentik bahwa sepak bola tidak pernah hanya sekadar taktik di atas rumput hijau, melainkan tentang takdir, mimpi, dan perjalanan hidup manusia yang tak pernah bisa ditebak arahnya.
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar