Cegah Gangguan Proses Belajar Dasar, Pemerintah Norwegia Larang Total Penggunaan AI untuk Siswa SD
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 45
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pemerintah Norwegia mengumumkan pelarangan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif bagi siswa sekolah dasar demi menjaga fokus belajar membaca dan berhitung. (Foto Ilustrasi: pexels)
BALENGKO SPACE – Langkah tegas diambil oleh Pemerintah Norwegia dalam membatasi penetrasi teknologi modern di lingkungan institusi pendidikan. Mulai tahun ajaran baru pada akhir Agustus mendatang, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif akan dilarang total bagi seluruh siswa sekolah dasar (SD).
Kebijakan restriktif tersebut diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Store. Larangan ini menyasar kelompok pelajar dari kelas satu hingga kelas tujuh, atau anak-anak yang berada di rentang usia 6 sampai 13 tahun.
Dilansir dari CNBC Menurut PM Store, kebebasan akses terhadap AI generatif dikhawatirkan dapat memicu degradasi kemampuan karena membuat anak-anak melewati fase-fase krusial dalam pertumbuhan kognitif mereka.
“Hal yang paling penting di sekolah adalah anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung,” tegas Jonas Gahr Store, seperti dikutip dari The Next Web.
Kendati demikian, pembatasan ketat ini tidak diberlakukan seragam. Untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pemerintah menerapkan regulasi yang jauh lebih fleksibel. Kelompok siswa berusia 14 hingga 16 tahun masih diperkenankan mengakses AI generatif, namun wajib berada di bawah pengawasan melekat dari guru pengajar. Sementara bagi pelajar berusia 17 tahun ke atas, mereka justru didorong untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan secara mandiri sekaligus bertanggung jawab.
Belajar dari Kesuksesan Larangan Ponsel Pintar
Intervensi digital ini bukan kali pertama dilakukan oleh negara Skandinavia tersebut. Pada tahun 2024 lalu, Pemerintah Norwegia telah lebih dulu memberlakukan kebijakan sterilisasi ponsel pintar (smartphone) di kawasan sekolah.
Kebijakan pembatasan gawai tersebut terbukti menorehkan impak yang sangat impresif. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh peneliti Sara Abrahamsson terhadap lebih dari 400 sekolah menengah pertama di Norwegia, pelarangan smartphone sukses mereduksi angka perundungan (bullying), mendongkrak capaian nilai akademik, serta memotong tingkat kunjungan siswa ke layanan spesialis psikologi hingga menyentuh angka 60 persen. Dampak positif ini dilaporkan paling signifikan dirasakan oleh kelompok siswa perempuan.
Otoritas Norwegia menilai bahwa pelarangan AI generatif memiliki landasan filosofis yang sama dengan pemblokiran gawai, yaitu membentengi murid usia dini dari distraksi teknologi yang berpotensi merusak fondasi belajar mereka.
Meskipun demikian, pihak pemerintah mengakui hingga saat ini belum mengantongi bukti empiris yang kuat bahwa penetrasi AI generatif di sekolah-sekolah lokal telah membawa dampak buruk yang terukur layaknya kasus penggunaan ponsel pintar. Langkah ini murni diambil sebagai bentuk antisipasi dini (precautionary action).
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: CNBC

Saat ini belum ada komentar