Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026 Masuk Kategori Paling Berbahaya
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 48
- comment 0 komentar
- print Cetak

FBI resmi mengategorikan laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Argentina sebagai pertandingan dengan risiko keamanan paling tinggi. ilustrasi, Source : Istimewa
BALENGKO SPACE, ATLANTA – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) resmi mengklasifikasikan laga semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Timnas Inggris melawan Argentina sebagai pertandingan dengan risiko keamanan tertinggi (high-risk match).
Duel perebutan tiket final tersebut dijadwalkan berlangsung di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, pada Kamis (16/07/2026) waktu setempat. Langkah intervensi FBI diambil menyusul pertemuan darurat bersama kepolisian setempat dan panitia penyelenggara pada Senin lalu guna membahas potensi gesekan antarpendukung yang dipicu oleh konflik historis kedua negara.
Otoritas keamanan mengonfirmasi, meski penonton dari kedua kubu tidak dipisahkan secara ekstrem di tribun stadion, pengawasan ketat akan difokuskan secara masif pada area sirkulasi dan mobilisasi penonton di luar maupun di dalam stadion.
Perseteruan Politik yang Merembet ke Lapangan Hijau
Melansir laporan dari Mirror, persaingan sengit antara Inggris dan Argentina memiliki akar sejarah yang sangat dalam di luar urusan sepak bola, yakni konflik bersenjata memperebutkan Kepulauan Falkland (Malvinas) di Atlantik Selatan pada tahun 1982.
Perang singkat yang pecah setelah invasi militer Argentina tersebut menelan korban hingga 907 nyawa, sebelum akhirnya Inggris menegaskan kembali kendalinya atas pulau tersebut. Luka sejarah ini terus dipelihara, bahkan dalam beberapa tahun terakhir, para pemain Timnas Argentina secara konsisten kerap menyanyikan lagu-lagu bermuatan politis yang merujuk pada Kepulauan Falkland seusai memenangkan pertandingan.
Di atas lapangan hijau, bumbu permusuhan kedua negara kian membara lewat drama legendaris di perempat final Piala Dunia 1986 Meksiko, yang terjadi hanya empat tahun pascaperang. Kala itu, Diego Maradona mencetak gol ikonik “Tangan Tuhan” (Hand of God) yang menyingkirkan Inggris dan hingga kini menjadi simbol rivalitas abadi kedua negara.
Pihak keamanan kini berpacu dengan waktu guna meredam agar tensi politik dan historis tersebut tidak meletus menjadi aksi anarkisme massal di sela-sela gegap gempita pesta bola sejagat.
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Balengko Creative Media
- Sumber: Kompas

Saat ini belum ada komentar