Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » RADAR KAMPUS » Aksi GEMPUR September Hitam di Jogja: Mahasiswa Malut Gugat “Jakarta” dan Kritik Gubernur Sherly Tjoanda

Aksi GEMPUR September Hitam di Jogja: Mahasiswa Malut Gugat “Jakarta” dan Kritik Gubernur Sherly Tjoanda

  • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
  • visibility 632
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

BALENGKOSPACE.COM, YOGYAKARTA – Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pelajar kembali diwarnai gelombang gerakan kritis mahasiswa dalam momentum September Hitam. Mengambil momentum sejarah perlawanan tersebut, mahasiswa Maluku Utara yang menempuh pendidikan di Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Markas Polda D.I. Yogyakarta, Senin (07/09/2026).

Aliansi yang menamakan diri sebagai Generasi Muda Kepulauan Rempah (GEMPUR) ini hadir secara terbuka menggugat “Jakarta”, merujuk pada Pemerintah Pusat, atas ketidakadilan pembagian hasil sumber daya alam (SDA) antara pusat dan daerah. Massa aksi bergerak melintasi titik-titik krusial Yogyakarta mulai dari Pertigaan Gejayan, hingga depan Polda DIY—sejak pukul 15.00 WIB dan berakhir tertib pukul 18.00 WIB.

Selain melayangkan 26 poin tuntutan yang terangkum dalam dokumen manifesto Aksi GEMPUR, massa aksi juga membacakan Manifesto Perjuangan serta menampilkan Tarian Cakalele sebagai simbol perlawanan terhadap sistem kepemerintahan yang dinilai tidak adil terhadap Maluku Utara.

Simbol Perlawanan: Tarian Cakalele digaungkan mahasiswa Maluku Utara saat menggelar Aksi GEMPUR September Hitam di Yogyakarta (7/9/2026) sebagai bentuk protes atas ketimpangan pembagian hasil tambang antara pusat dan daerah. (Foto: Dok. Balengkospace.com)

Gugat Kebijakan “Jakarta” hingga Sentil Gubernur Sherly Tjoanda

Dalam seruan aksinya, mahasiswa mengarahkan kritik tajam terhadap penentu kebijakan di “Jakarta” di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto maupun pemerintah daerah. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, turut tak luput dari sorotan kritis massa.

Mahasiswa menilai Pemprov Maluku Utara di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda belum mampu memberikan solusi konkret terhadap pengelolaan keuangan hasil tambang maupun menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat lokal yang dinilai belum sejahtera di tengah masifnya industri ekstraktif.

Kordum Jelaskan Jalannya Aksi dan Komitmen Perjuangan

Meski sempat terjadi ketegangan di lapangan, situasi dapat dikoordinasikan dengan baik oleh tim keamanan internal dan penanggung jawab aksi. Koordinator Umum (Kordum) Aksi, Faisal Umanailo, S.H., menegaskan bahwa konsolidasi ini merupakan bentuk kesadaran kritis pemuda Maluku Utara di perantauan.

“Aksi hari ini berjalan dengan aman, tertib, dan lancar sampai selesai. Ini adalah perjuangan kita bersama atas dasar kesadaran kita sebagai pemuda Maluku Utara yang ada di Yogyakarta. Kedisiplinan seluruh massa aksi yang tetap menjaga koordinasi, mengikuti arahan lapangan, dan menjunjung tinggi prinsip aksi damai dari awal hingga akhir,” ujar Faisal Umanailo, S.H., kepada redaksi Balengko Space di lapangan.

Faisal menyampaikan apresiasinya kepada seluruh elemen aksi dan mengoperasionalkan komitmen bahwa gerakan ini akan berlanjut hingga seluruh tuntutan direalisasikan.

  • Penulis: Redaksi Balengko Space
  • Editor: Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Oleh: Dr. Fahrul Abd Muid, S.Th.I., MA Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut

    ANALISIS KRITIS—DISKURSIF IAIN TERNATE

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Dr. Fahrul Abd Muid, S.Th.I., MA
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Dewasa ini muncul sikap jadaliyyin—kontroversial terhadap amaaman—posisi dan wujuudun—keberadaan Institut Agama Islam Negeri Ternate sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan negeri ilmiah. Padahal masyarakat Maluku Utara memiliki ekspektasi—harapan yang tidak main-main bagi kehadiran IAIN Ternate, karena institusi ini dianggap memiliki kelompok akademis—religius ilmiah yang berperan sebagai ‘jagoan’ keagamaan ditengah masyarakat Maluku Utara yang berbasis pada empat […]

  • Oleh : Asmaul Jinudin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia) Foto : Istimewa

    Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut Marut

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Asmaul Jinudin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia)
    • visibility 527
    • 0Komentar

    “Di tengah gemerlap kota yang bising, disudut ruang yang hampa. Terdengar suara tangisan rakyat jelata yang menunggu dan menagih janji pemerinta terhadap kesejatraan rakyatnya.” Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut-Marut memanifestasikan sebuah resistensi epistemologis terhadap dekadensi moral yang terbungkus dalam retorika banal. Dalam menggunakan kacamata fenomenologi Edmund Husserl, janji semestinya merupakan sebuah bentuk intensionalitas […]

  • Forum BEM DIY Tolak Pabrik Semen Wonogiri dalam aksi solidaritas Pracimantoro

    Forum BEM DIY Gelar Aksi Solidaritas: Tolak Pabrik Semen dan Perusakan Karst Pracimantoro Wonogiri

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Muzsta
    • visibility 188
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, 11 AGUSTUS 2026 — Forum BEM DIY (FBD) menggelar aksi perlawanan kolektif sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Aksi yang digelar di pertigaan gejayan ini merupakan respons atas ancaman kehancuran ekologis dan perampasan ruang hidup akibat rencana pembangunan pabrik semen PT Anugerah Andalan Asia (AAA) dan pertambangan batu gamping PT Sewu […]

  • Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

    Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Subhan Samsudin
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Tatanan dunia bekerja seperti mesin besar yang kehilangan tuas pengaman. Roda-roda ekonomi, teknologi, dan militer berputar semakin cepat, sementara sistem pengendali justru aus oleh kepentingan sempit. Ketika rem institusional melemah, geopolitik berubah dari mekanisme stabilisasi menjadi arena uji nyali para pemegang kuasa.

  • Tenaga medis ditarik dari ambulans saat aksi massa, menjadi korban kekerasan aparat

    Dari Ambulans ke Tangan Aparat: Tenaga Medis Jadi Sasaran Kekerasan selama aksi demontrasi

    • calendar_month Rabu, 3 Sep 2025
    • account_circle Muh. Rizki
    • visibility 683
    • 0Komentar

    Indonesia kembali dilanda gejolak. Gelombang aksi massa yang bergulir sejak 25 Agustus 2025 baik di ruang publik maupun media sosial, berakar pada keresahan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Persoalan seperti minimnya lapangan kerja, rendahnya tingkat upah, wacana kenaikan pajak, serta rencana peningkatan tunjangan anggota DPR yang dinilai tidak proporsional, telah memicu gelombang protes yang meluas. […]

  • Tanah Yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat

    Tanah Yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • account_circle Mursid Ruko
    • visibility 906
    • 0Komentar

    Maluku Utara sangat memprihatinkan, tidak ada pulau yang benar-benar terbebas dari aktifitas tambang. Disetiap tanah Maluku Utara yang menyimpan sumber daya mineral mulai dipetakan karena dihitung berapa nominal nilai keuangannya yang nantinya dimasukkan didalam skema besar eksploitasi nasional. Mulai dari Hutan, gunung, pesisir, hingga laut, jadi sasaran investasi atas nama pembangunan yang dimana itu sudah […]

expand_less