Aliansi Mahasiswa Nusantara Gelar Dialog Kebangsaan: Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dan Suara Kritis Kaum Muda
- calendar_month Sel, 28 Okt 2025
- visibility 170
- comment 0 komentar

Peserta dan panitia Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) DIY) berfoto bersama seusai kegiatan bertema “Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran: Kebijakan, Harapan, dan Dukungan Kaum Muda” di Canggir Bumi Coffee, Yogyakarta, Senin (27/10/2025). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus di DIY sebagai bentuk refleksi dan kontribusi generasi muda terhadap arah kebijakan nasional. | Sumber foto : Istimewa
Yogyakarta (BALENGKO) — Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) menggelar Deklarasi dan Dialog Kebangsaan bertema “Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran: Kebijakan, Harapan, dan Dukungan Kaum Muda” pada Senin, 27 Oktober 2025, di Canggir Bumi Coffee, Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi terbuka bagi generasi muda untuk menilai arah kebijakan nasional sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai aktor strategis dalam pembangunan bangsa.
Gunawan Fiantara, Koordinator Wilayah AMAN DIY, menegaskan bahwa momen satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah secara jujur, kritis, dan konstruktif.
“Kami mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam menyelesaikan proyek infrastruktur strategis. Jalan, bandara, dan pelabuhan yang kini menyambungkan ujung timur ke barat Indonesia bukan hanya simbol fisik—tapi juga harapan bagi pertumbuhan ekonomi daerah terpencil,” ujar Gunawan dalam sambutannya.
Ia juga memberi catatan positif terhadap percepatan transformasi digital di sektor pelayanan publik.
“Sekarang mahasiswa bisa urus izin penelitian, beasiswa, atau KIP lewat satu aplikasi. Ini terobosan nyata yang mengurangi birokrasi dan potensi korupsi kecil di kampus,” tambahnya.
Namun, Gunawan menilai keberanian pemerintah dalam mereformasi subsidi energi tetap perlu dikawal secara transparan.
“Kebijakan mengalihkan subsidi BBM ke pendidikan dan kesehatan berisiko, tapi berani. Kami hargai keputusan itu—selama eksekusinya tepat sasaran dan tidak memberatkan rakyat kecil,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gunawan menegaskan bahwa apresiasi terhadap pemerintah harus diiringi dengan keberpihakan nyata kepada generasi muda.
“Kami tidak datang untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan. Kinerja fisik dan ekonomi makro cukup mengesankan, tapi dimensi sosial-kebudayaan dan partisipasi politik pemuda masih belum tersentuh sepenuhnya,” katanya.
Dalam dialog tersebut, AMAN juga menyoroti pentingnya pelibatan mahasiswa dalam perancangan kebijakan publik.

“Kami apresiasi langkah-langkah kementerian, tapi jangan lupakan suara di kampus, di basis, dan di pelosok desa. Jangan sebut kebijakan pro-pemuda jika mahasiswa sendiri tidak dilibatkan dalam perancangannya,” tegas Gunawan.
Di bidang pendidikan, AMAN meminta agar akses beasiswa lebih inklusif.
“Program Beasiswa Merdeka bagus, tapi aksesnya masih terbatas pada kampus dan jurusan tertentu. Kami minta diperluas untuk mahasiswa vokasi dan calon guru penggerak,” ujarnya.
Gunawan juga mengkritisi sistem seleksi beasiswa yang dinilai belum berpihak kepada pelajar dari keluarga prasejahtera.
“Anak desa yang cerdas tapi minim dokumen digital masih terpinggirkan. Sistem harus lebih ramah, lebih manusiawi,” ucapnya.
Dalam isu lingkungan, Gunawan mengapresiasi kebijakan penghentian penebangan hutan primer, namun menilai transisi energi masih setengah hati.
“Kami dukung program energi terbarukan, tapi batu bara masih menyumbang 58% energi nasional. Harus ada roadmap jelas menuju energi bersih,” tuturnya.
Gunawan menutup dialog dengan menyerukan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan kaum muda.
“Kami bukan oposisi abadi, tapi mitra kritis. Apresiasi kami tulus, kritik kami juga tulus. Satu tahun bukan waktu panjang, tapi cukup untuk menilai komitmen. Jangan berhenti di sini — tumbuhkan kebijakan yang tidak hanya pro-growth, tapi juga pro-rakyat, pro-keadilan, dan pro-masa depan,” pesannya.
Dialog kebangsaan ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta dan menghasilkan sejumlah rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada lembaga eksekutif dan legislatif, sebagai bentuk kontribusi nyata generasi muda dalam tata kelola pemerintahan.
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Nuel Jean Gaston

Saat ini belum ada komentar