Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 25
  • comment 0 komentar

Tatanan dunia bekerja seperti mesin besar yang kehilangan tuas pengaman. Roda-roda ekonomi, teknologi, dan militer berputar semakin cepat, sementara sistem pengendali justru haus oleh kepentingan sempit. Ketika rem institusional melemah, geopolitik berubah dari mekanisme stabilisasi menjadi arena uji nyali para pemegang kuasa.

Pada awal 2026, dunia tidak sekadar menghadapi krisis, tetapi memasuki fase baru: krisis sebagai modus operandi politik global. Perang, tarif, sanksi, teknologi, dan iklim tidak lagi berdiri sebagai isu terpisah, melainkan saling menguatkan dalam satu ekosistem ketidakpastian. Dunia tampak bergerak, tetapi tanpa rem institusional yang memadai. Dalam lanskap ini, geopolitik tidak lagi sekadar alat diplomasi, melainkan telah berubah menjadi arena uji coba kekuasaan.

Laporan Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan geoeconomic confrontation sebagai risiko paling besar yang dapat memicu krisis global dalam jangka pendek, dipilih oleh 18 persen responden ahli. Risiko ini mengungguli konflik bersenjata antarnegara dan cuaca ekstrem. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dunia sedang bergerak menuju “multipolar or fragmented order” di mana kerja sama multilateral melemah dan logika persaingan mendominasi tata kelola global.

Perang di Ukraina yang berlarut, konflik di Sudan, dan rapuhnya gencatan senjata di Gaza menunjukkan bahwa konflik bersenjata telah menjadi bagian dari “keseharian geopolitik”. Dalam konteks ini, geopolitik tidak lagi berfungsi sebagai instrumen stabilisasi, melainkan sebagai mekanisme demonstrasi kekuasaan.

WEF mencatat bahwa 68 persen pakar global memprediksi tatanan dunia yang semakin terfragmentasi dalam satu dekade ke depan. Fragmentasi ini bukan sekadar perbedaan ideologi, tetapi menyentuh rantai pasok, teknologi, energi, dan sistem keuangan. Dunia tidak hanya terbelah, tetapi terpecah dalam blok-blok kepentingan yang saling mencurigai.

Seperti dikatakan dalam ringkasan WEF, “Multilateralism is in retreat.” Penurunan kepercayaan, meningkatnya proteksionisme, dan politisasi perdagangan telah membuat konflik ekonomi menjadi bentuk baru dari konflik geopolitik.

Ekonomi kini bukan lagi ruang netral pertumbuhan, melainkan medan tempur baru. World Bank memperkirakan pertumbuhan global hanya sekitar 2,6 persen pada 2026, menjadikan dekade 2020-an sebagai dekade pertumbuhan terlemah sejak 1960-an. Sekitar satu dari empat negara berkembang masih lebih miskin dibandingkan sebelum pandemi 2019.

Kepala Ekonom World Bank, Indermit Gill, sebelumnya memperingatkan bahwa “outside of Asia, the developing world is becoming a development-free zone.” Pernyataan ini bukan sekadar alarm ekonomi, melainkan sinyal politik: ketimpangan pembangunan akan memperbesar potensi instabilitas dan konflik di masa depan.

Proteksionisme, tarif, dan sanksi tidak lagi dipandang sebagai kebijakan sementara, tetapi sebagai strategi permanen. Dalam konteks ini, ekonomi berfungsi sebagai alat koersif, bukan sekadar instrumen kesejahteraan. Negara tidak hanya bersaing, tetapi berusaha melemahkan satu sama lain melalui pembatasan perdagangan, kontrol teknologi, dan tekanan finansial.

Teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), mempercepat pergeseran ini. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa investasi AI menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan global, terutama di Amerika Serikat. Namun, IMF juga memperingatkan bahwa optimisme berlebihan terhadap AI dapat menciptakan risiko sistemik baru.

Lebih jauh, riset akademik menunjukkan bahwa AI telah menjadi faktor geopolitik. Studi “Generative AI as a Geopolitical Factor in Industry 5.0” menegaskan bahwa AI kini berfungsi sebagai aset strategis negara, setara dengan energi dan militer. Penulis menyatakan bahwa “countries compete for AI supremacy, reshaping global power hierarchies and accelerating fragmentation of the digital economy.”

Dalam konteks ini, dominasi AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi soal kontrol. Siapa yang menguasai komputasi, data, dan chip semikonduktor, menguasai arah ekonomi dan keamanan masa depan. Geopolitik tidak lagi hanya soal wilayah, tetapi juga soal algoritma.

WEF dan berbagai lembaga internasional juga menempatkan disinformasi berbasis AI sebagai ancaman serius terhadap stabilitas sosial dan demokrasi. Disinformasi tidak lagi bersifat sporadis, tetapi sistematis dan terindustrialisasi. Ia menjadi bagian dari strategi geopolitik untuk melemahkan kepercayaan publik, mendeligitimasi pemilu, dan memecah masyarakat.

Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, perang tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang informasi. Kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari tank dan misil, tetapi dari kemampuan membentuk persepsi.

Ironisnya, di tengah eskalasi konflik dan kompetisi, krisis iklim justru tergeser dari prioritas jangka pendek. WEF mencatat bahwa hanya 8 persen responden yang menempatkan cuaca ekstrem sebagai risiko utama pemicu krisis pada 2026, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dalam horizon jangka panjang, risiko lingkungan tetap mendominasi.

Artinya, dunia sedang mengorbankan masa depan demi stabilitas jangka pendek yang semu. Ketika negara sibuk mengelola konflik geopolitik, krisis iklim berjalan tanpa negosiasi. Banjir, badai, dan gagal panen tidak menunggu kesepakatan diplomatik.

Jika disusun secara deduktif, kita melihat satu pola besar:

  1. Multilateralisme melemah.
  2. Ekonomi dan teknologi dipersenjatai
  3. Konflik menjadi kronis, bukan insidental.
  4. Krisis iklim tersisih oleh logika kekuasaan.

Secara induktif, dari kasus Ukraina, Gaza, perang dagang, perang chip, hingga politisasi AI, muncul satu kesimpulan: geopolitik global bergerak tanpa rem normatif yang efektif. Hukum internasional, lembaga multilateral, dan etika global tertinggal di belakang kecepatan konflik dan teknologi.

Dunia 2026 bukan hanya dunia yang bergejolak, tetapi dunia yang mulai menormalisasi gejolak. Ketika geopolitik berubah menjadi arena uji coba kekuasaan, risiko terbesar bukan hanya perang atau krisis ekonomi, tetapi hilangnya batas moral dan institusional yang selama ini menjadi rem peradaban.

Tanpa revitalisasi multilateralisme, penguatan tata kelola AI, dan komitmen serius pada krisis iklim, dunia berisiko memasuki era di mana kekuasaan menjadi satu-satunya bahasa. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas bukan lagi tujuan bersama, melainkan sekadar efek samping dari siapa yang paling kuat.

Dan dalam dunia tanpa rem, yang melaju bukan hanya negara-negara besar, tetapi juga risiko global yang suatu saat akan menabrak semua pihak, tanpa memandang blok, ideologi, atau kekuatan.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balangeko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tali bukan Solusi: Balengko Space Ajak Generasi Muda Pahami Isu Bunuh Diri

    Tali bukan Solusi: Balengko Space Ajak Generasi Muda Pahami Isu Bunuh Diri

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Ternate, Sabtu, (8/2/25) – Balengko Space sukses mengadakan workshop bertajuk “Tali Bukan Solusi dari Permasalahan yang Kamu Hadapi” yang membahas fenomena bunuh diri di Kota Ternate dari perspektif Psikologi dan Agama. Acara ini berlangsung di Only Six Coffee pada Sabtu, (8/2/25), pukul 16.00 WIT – 17.30 WIT, dengan sasaran utama mahasiswa […]

  • Pengelolaan Dana PAGU RS Pratama Bisui Diduga Kurang Transparan, Staf Minta Akuntabilitas

    Pengelolaan Dana PAGU RS Pratama Bisui Diduga Kurang Transparan, Staf Minta Akuntabilitas

    • calendar_month Rab, 25 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 636
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, BISUI, GANE TIMUR TENGAH – Rabu (25/06/25)  Pengelolaan Dana PAGU atau yang biasa disebut dana rutin di Rumah Sakit Pratama Bisui kini menjadi perhatian sejumlah pihak internal. Terdapat catatan bahwa pemanfaatan dana tersebut masih perlu dioptimalkan untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan. Seorang sumber di lingkungan RS Pratama Bisui yang enggan disebutkan namanya menyatakan, “Ada ketidakjelasan […]

  • Silaturahmi Wakil Gubernur Jawa Barat dan Wakil Gubernur Maluku Utara: Pererat Kerja Sama Antarwilayah

    Silaturahmi Wakil Gubernur Jawa Barat dan Wakil Gubernur Maluku Utara: Pererat Kerja Sama Antarwilayah

    • calendar_month Kam, 1 Mei 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Ternate, 1 Mei 2025 — Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Erwan Setiawan, melakukan kunjungan silaturahmi ke Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, Kamis malam (1/5), pukul 21.00 WIT. Pertemuan hangat ini berlangsung di kediaman resmi Wakil Gubernur Maluku Utara di Kota Ternate. Silaturahmi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan antarprovinsi, khususnya dalam menjalin […]

  • Potret resmi Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Maluku Utara, tersenyum

    Gubernur Sherly Tjoanda Laos Ulang Tahun ke-43: Menyingkap Karakter Leo

    • calendar_month Sel, 12 Agu 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 643
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Hari ini, 12 Agustus, Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Maluku Utara, merayakan ulang tahun ke-43. Sebagai pemimpin perempuan pertama di provinsi ini, Sherly Tjoanda Laos telah mencetak sejarah. Menariknya, tanggal kelahirannya, 12 Agustus, menempatkannya di bawah naungan zodiak Leo. Karakteristik khas zodiak ini ternyata sangat relevan dengan peran dan perjalanan kepemimpinannya. Sifat Kepemimpinan Alami […]

  • Farid, mahasiswa BEM Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, berbicara dalam diskusi RUU KUHAP Yogyakarta

    Diskusi RUU KUHAP Yogyakarta: Haris Azhar vs Eddy Hiariej Bahas Restoratif Justice

    • calendar_month Sab, 9 Agu 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 346
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Yogyakarta — Social Movement Institute (SMI) menggelar diskusi dan debat terbuka bertajuk “Kita Jadi Merdeka atau Dijajah Aparat?” di Auditorium YBW UII, Jalan Cik Di Tiro No.1, Terban, Kota Yogyakarta, Sabtu (9/8/2025) pukul 07.30 WIB. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, Haris Azhar dan Eddy Hiariej, untuk membahas Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum […]

  • Sumber foto : Istimewa

    Tolak Wacana Pergeseran Posisi Polri, GAMKI Jabar: Ancaman Serius bagi Supremasi Hukum

    • calendar_month Kam, 29 Jan 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 33
    • 0Komentar

    BANDUNG (BALENGKO), 29 Januari 2026 — Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) Jawa Barat menyatakan sikap tegas menolak berkembangnya wacana penggeseran posisi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dari bawah naungan langsung Presiden. GAMKI Jabar menilai langkah tersebut bukan sekadar wacana teknis kelembagaan, melainkan ancaman nyata terhadap supremasi hukum dan stabilitas sistem […]

expand_less