Filosofi Idul Fithri: Mengembalikan Jati Diri Manusia
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 49
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Dr. Fahrul Abd. Muid, S.Th.I., MA Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Wakil Ketua PW. GP. Ansor Malut . Source : Istimewa
Untuk menjaga—al-muhafazah agar manusia tetap berada pada karakter kemanusiaannya—al-insaniyyah yang dibentuk oleh kata anasun, anisun dan anisah, yang artinya, harmonis, intim, kangen, saling menyanyagi, dan kasih-sayang, maka diperlukan upaya yang terus-menerus untuk merawat itu. Menjadi manusia yang baik dan ini watak manusia adalah sangat mudah, namun menjadi manusia yang terus menerus baik—khair al-Naasi adalah sulit untuk dipertahankan. Karena tidak ada kebaikan—al-hasanah bagi kebaikan—al-hasanah yang tidak terus-menerus, sementara tidak ada kejelekan—al-sysyarr bagi kejelekan—al-sysyarr yang terus menerus dilakukan. Kejahatan—al-sayyi’ah yang bersifat sementara, kemudian disusul dengan kebajikan—‘amilu ash-shaalihaati yang terus-menerus akan lebih baik dari-pada kebajikan yang bersifat sesaat yang kemudian disusul dengan kejahatan yang terus-menerus. Maka, mantan seorang penjahat—kajahatang lebih baik dari-pada mantan seorang ustadz—kiyai, ulama, dan pendeta. Dan upaya untuk menjaga—al-muhafazah manusia yang selalu memanusiakan manusia dan terus-menerus kearah itu dalam bahasa agama disebut dengan istiqamah—konsisten yang sulit untuk dipertahankan oleh manusia dalam hidupnya.
Dan, Maha Besar Allah Swt yang telah menurunkan bulan ramadhan kepada kita dengan segala amalan-amalannya baik yang wajib dikerjakan maupun dianjurkan untuk dikerjakan oleh kita. Karena bulan ramadhan adalah sarana untuk menjaga secara terus-menerus agar manusia tetap menjadi manusia, dan agar manusia tetap berada pada watak-watak aslinya sebagai manusia pengabdi Allah—‘abdullah bukan sebaliknya manusia sebagai pengabdi setan—‘aabid sy-syaithaan. Karenanya, keberhasilan manusia dalam menjalankan ibadah ramadhan akan banyak ditentukan oleh sejauh mana ia mampu melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam bulan ramadhan itu pada bulan-bulan lain pasca ramadhan ini. Karena ramadhan bukanlah untuk ramadhan, melainkan ramadhan untuk bulan-bulan yang bukan ramadhan. Manusia yang berhasil dalam menjalankan ibadah ramadhan akan melestarikan amalan-amalan itu pasca bulan ramadhan, sementara manusia yang tidak berhasil dalam beribadah pada bulan ramadhan ia akan kembali menjadi manusia yang kehilangan watak-watak dasar—fitrah kemanusiaannya. Maka tepat sekali apabila keberhasilan itu kemudian dirayakan dengan bentuk ‘idul fithri yang merupakan hari raya keberhasilan manusia dalam menjadikan dirinya kembali menjadi manusia yang manusiawi—berhasil merawat kemanusiaannya.
Sifat yang lain lagi bagi manusia ketika awal mula ia diciptakan adalah ia bersifat lemah—dha’if. Allah Swt berfirman, “dan manusia itu diciptakan dalam sifat yang lemah” (rujuk QS al-nisaa’:27). Konteks ayat ini adalah bahwa manusia yang tidak mampu menikahi wanita—harim merdeka, ia diizinkan menikahi wanita sahaya—budak, karena ia makhluk yang lemah, tidak dapat hidup seorang diri. Dan, begitulah betapa tingginya ilmu pengetahuan seseorang, namun mustahil ia hidup sendirian. Seorang failasuf ‘Abdurrahman bin Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon—makhluk yang bermasyarakat—sosiologis-antropologis. Karena sifat kelemahan manusia inilah sejak awal agama Islam menyuguhkan amalan-amalan yang dapat menumbuhkan sikap-sikap kebersamaan. Disyari’atkannya zakat, infaq, sedekah, shalat berjama’ah, ifthar—memberikan buka puasa, dan lain-lain adalah antara lain dalam rangka menumbuhkan rasa kemanusiaan dan sikap kebersamaan dalam hidup di dunia ini. Sikap kebersamaan ini pada gilirannya akan menghilangkan sifat-sifat keserigalaan—kebinatangan manusia yang selalu siap menerkam—memakan sesamanya, tetapi justru akan menumbuhkan sifat-sifat kemitraan—kolaborasi, di mana setiap orang akan memandang yang lain tanpa membedakan status sosialnya sebagai mitra kehidupan dan saling membutuhkan antara sesama mereka dalam merawat kemanusiaannya untuk menata masa depan bersama, tanpa membeda-bedakan apa pun agama dan sukunya. Inilah substansi ‘Idul Fitri yang dirayakan hari ini—untuk konsisten merawat nilai-nilai kemanusiaan saya, anda, dan kita semua sampai hari kiamat tinggal dua hari lagi. Demikian tulisan ini semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshawab.
- Penulis: Dr. Fahrul Abd. Muid, S.Th.I., MA
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Wakil Ketua PW. GP. Ansor Malut

Saat ini belum ada komentar