Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Filosofi Idul Fithri: Mengembalikan Jati Diri Manusia

Filosofi Idul Fithri: Mengembalikan Jati Diri Manusia

  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 337
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Untuk menjaga—al-muhafazah agar manusia tetap berada pada karakter kemanusiaannya—al-insaniyyah yang dibentuk oleh kata anasun, anisun dan anisah, yang artinya, harmonis, intim, kangen, saling menyanyagi, dan kasih-sayang, maka diperlukan upaya yang terus-menerus untuk merawat itu. Menjadi manusia yang baik dan ini watak manusia adalah sangat mudah, namun menjadi manusia yang terus menerus baik—khair al-Naasi adalah sulit untuk dipertahankan. Karena tidak ada kebaikan—al-hasanah bagi kebaikan—al-hasanah yang tidak terus-menerus, sementara tidak ada kejelekan—al-sysyarr bagi kejelekan—al-sysyarr yang terus menerus dilakukan. Kejahatan—al-sayyi’ah yang bersifat sementara, kemudian disusul dengan kebajikan—‘amilu ash-shaalihaati yang terus-menerus akan lebih baik dari-pada kebajikan yang bersifat sesaat yang kemudian disusul dengan kejahatan yang terus-menerus. Maka, mantan seorang penjahat—kajahatang lebih baik dari-pada mantan seorang ustadz—kiyai, ulama, dan pendeta. Dan upaya untuk menjaga—al-muhafazah manusia yang selalu memanusiakan manusia dan terus-menerus kearah itu dalam bahasa agama disebut dengan istiqamah—konsisten yang sulit untuk dipertahankan oleh manusia dalam hidupnya.

 Dan, Maha Besar Allah Swt yang telah menurunkan bulan ramadhan kepada kita dengan segala amalan-amalannya baik yang wajib dikerjakan maupun dianjurkan untuk dikerjakan oleh kita. Karena bulan ramadhan adalah sarana untuk menjaga secara terus-menerus agar manusia tetap menjadi manusia, dan agar manusia tetap berada pada watak-watak aslinya sebagai manusia pengabdi Allah—‘abdullah bukan sebaliknya manusia sebagai pengabdi setan—‘aabid sy-syaithaan. Karenanya, keberhasilan manusia dalam menjalankan ibadah ramadhan akan banyak ditentukan oleh sejauh mana ia mampu melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam bulan ramadhan itu pada bulan-bulan lain pasca ramadhan ini. Karena ramadhan bukanlah untuk ramadhan, melainkan ramadhan untuk bulan-bulan yang bukan ramadhan. Manusia yang berhasil dalam menjalankan ibadah ramadhan akan melestarikan amalan-amalan itu pasca bulan ramadhan, sementara manusia yang tidak berhasil dalam beribadah pada bulan ramadhan ia akan kembali menjadi manusia yang kehilangan watak-watak dasar—fitrah kemanusiaannya. Maka tepat sekali apabila keberhasilan itu kemudian dirayakan dengan bentuk ‘idul fithri yang merupakan hari raya keberhasilan manusia dalam menjadikan dirinya kembali menjadi manusia yang manusiawi—berhasil merawat kemanusiaannya.

Sifat yang lain lagi bagi manusia ketika awal mula ia diciptakan adalah ia bersifat lemah—dha’if. Allah Swt berfirman, “dan manusia itu diciptakan dalam sifat yang lemah” (rujuk QS al-nisaa’:27). Konteks ayat ini adalah bahwa manusia yang tidak mampu menikahi wanita—harim merdeka, ia diizinkan menikahi wanita sahaya—budak, karena ia makhluk yang lemah, tidak dapat hidup seorang diri. Dan, begitulah betapa tingginya ilmu pengetahuan seseorang, namun mustahil ia hidup sendirian. Seorang failasuf ‘Abdurrahman bin Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon—makhluk yang bermasyarakat—sosiologis-antropologis. Karena sifat kelemahan manusia inilah sejak awal agama Islam menyuguhkan amalan-amalan yang dapat menumbuhkan sikap-sikap kebersamaan. Disyari’atkannya zakat, infaq, sedekah, shalat berjama’ah, ifthar—memberikan buka puasa, dan lain-lain adalah antara lain dalam rangka menumbuhkan rasa kemanusiaan dan sikap kebersamaan dalam hidup di dunia ini. Sikap kebersamaan ini pada gilirannya akan menghilangkan sifat-sifat keserigalaan—kebinatangan manusia yang selalu siap menerkam—memakan sesamanya, tetapi justru akan menumbuhkan sifat-sifat kemitraan—kolaborasi, di mana setiap orang akan memandang yang lain tanpa membedakan status sosialnya sebagai mitra kehidupan dan saling membutuhkan antara sesama mereka dalam merawat kemanusiaannya untuk menata masa depan bersama, tanpa membeda-bedakan apa pun agama dan sukunya. Inilah substansi ‘Idul Fitri yang dirayakan hari ini—untuk konsisten merawat nilai-nilai kemanusiaan saya, anda, dan kita semua sampai hari kiamat tinggal dua hari lagi. Demikian tulisan ini semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshawab.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • eleksi Calon Rektor UNUTARA 2026 Gedung Rektorat Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara

    UNUTARA Buka Seleksi Calon Rektor 2026-2030: Cek Syarat Lengkapnya

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 273
    • 0Komentar

    BALENGKOSPACE.COM, TERNATE – Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) resmi membuka kesempatan bagi kader-kader terbaik Nahdlatul Ulama untuk mengikuti proses seleksi Calon Rektor UNUTARA periode 2026–2030. Langkah ini menjadi momentum krusial dalam menentukan arah kepemimpinan institusi pendidikan tinggi berbasis Nahdliyin di Maluku Utara. Ketua Panitia Seleksi Calon Rektor UNUTARA, Saleh Al Hadad, S.Pd., M.H., menyampaikan […]

  • Obat langka RSUD Jailolo

    Dasril Usman Dorong Pansus untuk Evaluasi Layanan dan Obat di RSUD Jailolo

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Jailolo (BALENGKO) – Persoalan ketersediaan obat di RSUD Jailolo kembali menuai sorotan tajam. Di tengah klaim peningkatan pendapatan rumah sakit, pelayanan justru dinilai belum menunjukkan perbaikan signifikan, terutama terkait kelangkaan obat. Anggota DPRD, Dasril Usman, mengkritik keras penjelasan Direktur RSUD Jailolo yang dinilai tidak transparan dan cenderung menutupi persoalan mendasar. Ia menyoroti adanya ketidaksesuaian dalam […]

  • Warga Keluhkan Penutupan Jalan di Tugu Pancasila Mendadak, Kasat Lantas Morotai: Demi Keamanan Puncak Event Domino

    Warga Keluhkan Penutupan Jalan di Tugu Pancasila Mendadak, Kasat Lantas Morotai: Demi Keamanan Puncak Event Domino

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 303
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Sejumlah warga di sekitar kawasan Tugu Pancasila, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, menyuarakan rasa kesal mereka atas penutupan sebagian ruas jalan yang dilakukan oleh Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Morotai pada Minggu (19/7/2026) malam. Penutupan jalan ini memicu protes karena dinilai tidak konsisten. Warga menyoroti bahwa Event Domino Morotai sebenarnya […]

  • Situasi ricuh aksi demonstrasi buruh DPR RI yang menewaskan pengemudi ojek online Affan Kurniawan

    LBH Ansor Ternate Desak Presiden Copot Kapolri, Ingatkan Pola Represif 1998

    • calendar_month Sabtu, 30 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.162
    • 0Komentar

    Peringatan Pola Represif 1998 LBH Ansor menilai tragedi Bendungan Hilir mencerminkan pola represif yang mirip dengan krisis politik 1998. Saat itu, aparat menekan gerakan rakyat, tetapi justru memicu kejatuhan rezim. “Kami melihat sebagian elit sengaja mendesain skema terstruktur untuk melemahkan Presiden Prabowo. Pola represif seperti ini bisa memicu opini publik agar Presiden dipaksa mundur, sebagaimana […]

  • Anggota DPD RI Hasbi Yusuf mendesak penyelesaian proporsional konflik lahan TNI AU di Morotai guna menyeimbangkan kedaulatan negara dan hak-hak masyarakat.

    Hasbi Yusuf Desak Penyelesaian Proporsional Konflik Lahan TNI AU di Morotai

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 323
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Komite III DPD RI, Hasbi Yusuf, mengeluarkan pernyataan tegas terkait sengketa lahan menahun antara TNI Angkatan Udara (AU) dan masyarakat di Pulau Morotai. Ia mendesak agar penyelesaian konflik tersebut dilakukan secara proporsional dengan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua pihak. Pernyataan ini disampaikan Hasbi usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-II MD […]

  • Oleh: Dr. Fahrul Abd Muid, S.Th.I., MA Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut

    ANALISIS KRITIS—DISKURSIF IAIN TERNATE

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Dr. Fahrul Abd Muid, S.Th.I., MA
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Dewasa ini muncul sikap jadaliyyin—kontroversial terhadap amaaman—posisi dan wujuudun—keberadaan Institut Agama Islam Negeri Ternate sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan negeri ilmiah. Padahal masyarakat Maluku Utara memiliki ekspektasi—harapan yang tidak main-main bagi kehadiran IAIN Ternate, karena institusi ini dianggap memiliki kelompok akademis—religius ilmiah yang berperan sebagai ‘jagoan’ keagamaan ditengah masyarakat Maluku Utara yang berbasis pada empat […]

expand_less