Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Filosofi Idul Fithri: Mengembalikan Jati Diri Manusia

Filosofi Idul Fithri: Mengembalikan Jati Diri Manusia

  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 226
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Untuk menjaga—al-muhafazah agar manusia tetap berada pada karakter kemanusiaannya—al-insaniyyah yang dibentuk oleh kata anasun, anisun dan anisah, yang artinya, harmonis, intim, kangen, saling menyanyagi, dan kasih-sayang, maka diperlukan upaya yang terus-menerus untuk merawat itu. Menjadi manusia yang baik dan ini watak manusia adalah sangat mudah, namun menjadi manusia yang terus menerus baik—khair al-Naasi adalah sulit untuk dipertahankan. Karena tidak ada kebaikan—al-hasanah bagi kebaikan—al-hasanah yang tidak terus-menerus, sementara tidak ada kejelekan—al-sysyarr bagi kejelekan—al-sysyarr yang terus menerus dilakukan. Kejahatan—al-sayyi’ah yang bersifat sementara, kemudian disusul dengan kebajikan—‘amilu ash-shaalihaati yang terus-menerus akan lebih baik dari-pada kebajikan yang bersifat sesaat yang kemudian disusul dengan kejahatan yang terus-menerus. Maka, mantan seorang penjahat—kajahatang lebih baik dari-pada mantan seorang ustadz—kiyai, ulama, dan pendeta. Dan upaya untuk menjaga—al-muhafazah manusia yang selalu memanusiakan manusia dan terus-menerus kearah itu dalam bahasa agama disebut dengan istiqamah—konsisten yang sulit untuk dipertahankan oleh manusia dalam hidupnya.

 Dan, Maha Besar Allah Swt yang telah menurunkan bulan ramadhan kepada kita dengan segala amalan-amalannya baik yang wajib dikerjakan maupun dianjurkan untuk dikerjakan oleh kita. Karena bulan ramadhan adalah sarana untuk menjaga secara terus-menerus agar manusia tetap menjadi manusia, dan agar manusia tetap berada pada watak-watak aslinya sebagai manusia pengabdi Allah—‘abdullah bukan sebaliknya manusia sebagai pengabdi setan—‘aabid sy-syaithaan. Karenanya, keberhasilan manusia dalam menjalankan ibadah ramadhan akan banyak ditentukan oleh sejauh mana ia mampu melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam bulan ramadhan itu pada bulan-bulan lain pasca ramadhan ini. Karena ramadhan bukanlah untuk ramadhan, melainkan ramadhan untuk bulan-bulan yang bukan ramadhan. Manusia yang berhasil dalam menjalankan ibadah ramadhan akan melestarikan amalan-amalan itu pasca bulan ramadhan, sementara manusia yang tidak berhasil dalam beribadah pada bulan ramadhan ia akan kembali menjadi manusia yang kehilangan watak-watak dasar—fitrah kemanusiaannya. Maka tepat sekali apabila keberhasilan itu kemudian dirayakan dengan bentuk ‘idul fithri yang merupakan hari raya keberhasilan manusia dalam menjadikan dirinya kembali menjadi manusia yang manusiawi—berhasil merawat kemanusiaannya.

Sifat yang lain lagi bagi manusia ketika awal mula ia diciptakan adalah ia bersifat lemah—dha’if. Allah Swt berfirman, “dan manusia itu diciptakan dalam sifat yang lemah” (rujuk QS al-nisaa’:27). Konteks ayat ini adalah bahwa manusia yang tidak mampu menikahi wanita—harim merdeka, ia diizinkan menikahi wanita sahaya—budak, karena ia makhluk yang lemah, tidak dapat hidup seorang diri. Dan, begitulah betapa tingginya ilmu pengetahuan seseorang, namun mustahil ia hidup sendirian. Seorang failasuf ‘Abdurrahman bin Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon—makhluk yang bermasyarakat—sosiologis-antropologis. Karena sifat kelemahan manusia inilah sejak awal agama Islam menyuguhkan amalan-amalan yang dapat menumbuhkan sikap-sikap kebersamaan. Disyari’atkannya zakat, infaq, sedekah, shalat berjama’ah, ifthar—memberikan buka puasa, dan lain-lain adalah antara lain dalam rangka menumbuhkan rasa kemanusiaan dan sikap kebersamaan dalam hidup di dunia ini. Sikap kebersamaan ini pada gilirannya akan menghilangkan sifat-sifat keserigalaan—kebinatangan manusia yang selalu siap menerkam—memakan sesamanya, tetapi justru akan menumbuhkan sifat-sifat kemitraan—kolaborasi, di mana setiap orang akan memandang yang lain tanpa membedakan status sosialnya sebagai mitra kehidupan dan saling membutuhkan antara sesama mereka dalam merawat kemanusiaannya untuk menata masa depan bersama, tanpa membeda-bedakan apa pun agama dan sukunya. Inilah substansi ‘Idul Fitri yang dirayakan hari ini—untuk konsisten merawat nilai-nilai kemanusiaan saya, anda, dan kita semua sampai hari kiamat tinggal dua hari lagi. Demikian tulisan ini semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshawab.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Expo Fishum Uniera 2026: Langkah Awal Menuju Produk Lokal Berdaya Saing

    Expo Fishum Uniera 2026: Langkah Awal Menuju Produk Lokal Berdaya Saing

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Muzijad Mandea
    • visibility 346
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum), Universitas Halmahera (Uniera) sukses menyelenggarakan malam pembukaan Festival Fishum Expo 2026. Acara tersebut berlangsung meriah di BUMDES desa Gotalamo Morotai Selatan, pada Jumat, (1/5/2026) malam. Mengusung tema “Dari Kampus untuk Masyarakat, Motivasi, Inovasi, dan Inspirasi”, rangkain kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pentingnya menciptakan produk loka yang […]

  • Penampilan puisi “Alam & Manusia” di Living Law Art Stage Yogyakarta menghadirkan kritik tajam terhadap eksploitasi alam dan ketidakadilan masyarakat adat.

    “Alam & Manusia” di Living Law Art Stage: Seni sebagai Kritik Masyarakat Adat

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 119
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA — Suasana penuh refleksi menyelimuti gelaran Living Law Art Stage, sebuah panggung seni yang melampaui batas estetika untuk menjadi medium kritik sosial yang tajam. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian publik adalah kolaborasi multidimensi bertajuk “Alam & Manusia”. Karya orisinal dari Andika Budi Saputra ini dibawakan melalui aksi visual yang menggandeng […]

  • Banser Maluku Utara membuka Posko Jaga Aspirasi Jaga Indonesia di Ternate

    Posko Jaga Aspirasi Jaga Indonesia Banser Maluku Utara Resmi Dibuka di Ternate

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 622
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE Ternate, 10 September 2025 – Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Provinsi Maluku Utara resmi membuka Posko Jaga Aspirasi Jaga Indonesia. Langkah ini menjadi wujud komitmen Banser dalam menjaga kondusivitas dan stabilitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pembentukan posko ini menindaklanjuti Surat Instruksi Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkor­nas) Banser Nomor: 0907/SKN-SE/IX/2025 […]

  • Adrienne Ellen Matthew: Rapper dan Dancer Muda Berbakat

    Adrienne Ellen Matthew: Rapper dan Dancer Muda Berbakat

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Instagram adrienne.matthew Awal Perjalanan di Dunia Rap dan Dance Lahir dan besar di Padang, Adrienne Ellen Matthew membawa semangat besar dalam dunia rap dan dance. Dengan darah seni mengalir dari sang ibu yang dulu adalah seorang rapper dan dancer aktif di Jakarta, Adrienne tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan musik. Sejak kecil, […]

  • Source : Istimewa

    Bisa Ganggu Proses Hukum, GP Ansor Morotai Soroti Tekanan Opini Kasus Tunjangan DPRD

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 148
    • 0Komentar

    GP Ansor Pulau Morotai Ajak Masyarakat Jaga Objektivitas Lebih lanjut, Safrudin menambahkan bahwa meskipun pendapat hukum adalah bagian sah dari diskusi akademik, tekanan publik yang berlebihan dapat mengganggu objektivitas proses pembuktian. Oleh karena itu, GP Ansor Pulau Morotai mengajak para praktisi hukum dan seluruh elemen masyarakat untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada aparat penegak hukum. Pihaknya […]

  • Menggali Api Islam Cak Nur

    Menggali Api Islam Cak Nur

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Arsrhum
    • visibility 578
    • 0Komentar

    Dikisahkan dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Faudi, suatu ketika Mintaredja, seorang politisi dan pejabat pemerintahan pada masa Orde Baru, mengajukan pertanyaan kepada Lafran Pane: mengapa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus bersikap independen? “Kami independen tidak bergabung dan menjadi bagian dari partai politik untuk membuktikan kesungguhan kami mempersatukan semua bagian umat tidak peduli partai […]

expand_less