Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » MAKNA BUDAYA DAN IDENTITAS TARIAN CAKALELE: JANGAN DIMODIFIKASI MENJADI KONTEN HIBURAN SEMATA

MAKNA BUDAYA DAN IDENTITAS TARIAN CAKALELE: JANGAN DIMODIFIKASI MENJADI KONTEN HIBURAN SEMATA

  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 59
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

P

erkembangan media sosial saat ini telah membuka ruang ekspresi budaya yang luas, memungkinkan tradisi lokal dilihat, dibagikan, dan dinikmati oleh khalayak global. Di satu sisi, hal ini menjadi peluang emas bagi pelestarian budaya, termasuk tarian Cakalele dari Maluku Utara. Namun, di sisi lain, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: tarian Cakalele sering kali dipertontonkan sekadar sebagai bahan konten hiburan tanpa mempertimbangkan makna sakral dan konteks budayanya. Fenomena ini terlihat dari maraknya modifikasi gerakan tari demi mengikuti tren digital atau mengejar engagement semata. Masalah ini perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi menggerus makna budaya dan identitas Cakalele, serta memengaruhi pola pikir generasi muda, khususnya di Maluku Utara.

Tarian Cakalele bukan sekadar pertunjukan gerak, melainkan warisan adat dan budaya yang mengakar kuat dalam sejarah masyarakat Maluku Utara. Tarian ini memiliki nilai historis, filosofis, dan identitas yang mendalam. Sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat, budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat. Dalam konteks sejarah, Cakalele adalah tarian perang tradisional yang lekat dengan jiwa kepahlawanan dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Cakalele merupakan tarian tradisional yang masih lestari di kalangan masyarakat suku Togale di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan. Tarian ini sarat dengan nilai-nilai luhur, seperti keberanian, persatuan, penghormatan terhadap pahlawan, serta nilai religius. Cakalele tidak hanya ditampilkan dalam festival budaya, tetapi juga menjadi bagian integral dalam upacara penyambutan tamu kehormatan dan ritual adat lainnya. Setiap elemen dalam tarian ini—mulai dari gerakan ekspresif, alunan musik, hingga penggunaan alat perang seperti parang dan salawaku (perisai)—memiliki makna simbolis yang dalam dan tidak boleh dipisahkan dari konteks aslinya.

Mengingat kedalaman nilai sejarah dan budayanya, pelestarian Cakalele kepada generasi muda harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Tarian ini memiliki makna yang terlalu sakral untuk direduksi menjadi hiburan murahan. Oleh sebab itu, modifikasi tarian Cakalele yang hanya bertujuan untuk menarik perhatian publik atau viral di media sosial adalah bentuk ketidakpahaman terhadap esensi budaya itu sendiri.

Hemat saya, fenomena perubahan bentuk penyajian Cakalele perlu dikritisi secara bijak. Memisahkan tarian dari filosofi aslinya sama saja dengan mencabut akar identitasnya. Harapan kita bersama adalah agar para pembuat konten mempelajari budaya secara komprehensif sebelum menyajikannya ke publik. Pengenalan budaya harus dilakukan dengan benar dan hormat, sehingga tidak justru menjadi bahan lelucon atau hiburan dangkal yang berpotensi memicu kesalahpahaman bahkan perpecahan.

Sesungguhnya, tarian Cakalele adalah simbol identitas dan martabat masyarakat Maluku Utara yang mengandung kearifan lokal bernilai tinggi bagi bangsa ini. Warisan budaya ini harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, bukan dieksploitasi demi kepuasan sesaat di dunia maya. Jangan biarkan keinginan untuk “viral” membuat kita kehilangan jati diri dan melupakan jerih payah leluhur dalam merawat tradisi ini selama berabad-abad.

Sebagai simpulan, jangan biarkan budaya kehilangan nilainya di mata publik hanya karena dikemas sebagai hiburan semata. Mari rawat dan lestarikan tarian Cakalele dengan menjaga integritas filosofinya, menghormati identitasnya, dan menjunjung tinggi martabat orang Maluku Utara. Pelestarian yang benar adalah kunci agar budaya tetap hidup, bermakna, dan dihormati.

  • Penulis: Jidan M. Jein | Mahasiswa Magister Jurusan PBSI Universitas Lambung Mangkurat
  • Editor: Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, memberikan klarifikasi isu rangkap jabatan ASN Kemenag Maluku Utara.

    Klarifikasi Isu Rangkap Jabatan ASN Kemenag Maluku Utara, LBH Ansor: Klien Kami Punya Bukti Sah

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 724
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Ternate – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate mengeluarkan klarifikasi hukum terkait isu rangkap jabatan ASN Kemenag Maluku Utara. Menurut LBH Ansor, pemberitaan yang beredar keliru dan dapat menyesatkan publik. Penjelasan LBH Ansor Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, SH, menjelaskan bahwa kliennya, Yusri N. Samsudin, memang pernah mengemban tugas sebagai […]

  • Syawalan dan Silaturahmi warga Maluku Utara di Yogyakarta 2025

    Syawalan dan Silaturahmi warga Maluku Utara di Yogyakarta 2025

    • calendar_month Sabtu, 19 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 918
    • 0Komentar

    Yogyakarta, (19/4/25) — Sesepuh Maluku Utara, mahasiswa, dan perwakilan Organda kabupaten berkumpul di Pantai Depok, Yogyakarta, dalam acara syawalan dan silaturahmi. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB dan menjadi momen halal bihalal warga Maluku Utara yang menetap di Yogyakarta. Acara berlangsung santai namun penuh makna. Para sesepuh dan mahasiswa mengikuti rangkaian […]

  • KONTROVERSIALITAS NUZULUL QUR’AN

    KONTROVERSIALITAS NUZULUL QUR’AN

    • calendar_month Minggu, 23 Mar 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 357
    • 0Komentar

    Turunnya al-Qur’an adalah terjemahan harfiah dari kata-kata “Nuzul al-Qur’an”. Kata “nuzul” terambil dari kata “nazala” yang secara loghawiyyah paling minimal memiliki dua ta’rif. Al-awwalu, bahwa kata “nazala” berarti singgah atau menempati, seperti dalam ungkapan bahasa arabnya, ”nazala al-amir al-madinah” yang artinya, “kepala negara itu telah singgah di kota. Al-tsani, bahwa kata “nazala” memiliki arti aktifitas […]

  • Tangkai dan helai daun singkong hijau sebagai sumber protein nabati dan zat besi

    Manfaat Daun Singkong untuk Kesehatan: Superfood Lokal Kaya Nutrisi

    • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.020
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Daun singkong (Manihot esculenta) menjadi salah satu sayuran hijau populer di Indonesia, di Indonesia Timur khususnya di wilayah Maluku Utara, masyarakat lokal biasa menyebut “Daun Kasbi”. Masyarakat lokal Maluku Utara mengkonsumsinya sudah sejak lama, salain karena enak daun singkong mudah ditemukan, harganya terjangkau, dan kandungan nutrisinya sangat melimpah, biasanya daun singkong ini […]

  • DPRD Halmahera Barat Bentuk Pansus RSUD Jailolo, F. Glen Balatjai: Tak Ada Lagi yang Ditutup-tutupi

    DPRD Halmahera Barat Bentuk Pansus RSUD Jailolo, F. Glen Balatjai: Tak Ada Lagi yang Ditutup-tutupi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Jailolo (BALENGKO) – DPRD Kabupaten Halmahera Barat resmi membentuk Panitia Khusus (Pansus) RSUD Jailolo dalam rapat paripurna, Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil untuk menelusuri berbagai persoalan yang mencuat, mulai dari pelayanan hingga pengelolaan rumah sakit. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Halmahera Barat, F. Glen Balatjai, mengapresiasi seluruh fraksi yang telah bersepakat hingga pansus terbentuk. “Ini […]

  • Ilustrasi

    Terisolasi dan Gelap, Fasilitas Gedung Baru FTIK IAIN Ternate Bikin Sekjen Kemenag Geleng Kepala

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 378
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Alih-alih menjadi simbol kemajuan akademik, peresmian gedung baru Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Ternate di kawasan Gambesi pada Minggu (15/2/2026) justru berujung polemik. Kehadiran Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin, yang diharapkan membawa suasana sukacita, justru diwarnai raut kekecewaan mendalam saat meninjau langsung kondisi bangunan. Berdasarkan pantauan di […]

expand_less