Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » MAKNA BUDAYA DAN IDENTITAS TARIAN CAKALELE: JANGAN DIMODIFIKASI MENJADI KONTEN HIBURAN SEMATA

MAKNA BUDAYA DAN IDENTITAS TARIAN CAKALELE: JANGAN DIMODIFIKASI MENJADI KONTEN HIBURAN SEMATA

  • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
  • visibility 356
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

P

erkembangan media sosial saat ini telah membuka ruang ekspresi budaya yang luas, memungkinkan tradisi lokal dilihat, dibagikan, dan dinikmati oleh khalayak global. Di satu sisi, hal ini menjadi peluang emas bagi pelestarian budaya, termasuk tarian Cakalele dari Maluku Utara. Namun, di sisi lain, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: tarian Cakalele sering kali dipertontonkan sekadar sebagai bahan konten hiburan tanpa mempertimbangkan makna sakral dan konteks budayanya. Fenomena ini terlihat dari maraknya modifikasi gerakan tari demi mengikuti tren digital atau mengejar engagement semata. Masalah ini perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi menggerus makna budaya dan identitas Cakalele, serta memengaruhi pola pikir generasi muda, khususnya di Maluku Utara.

Tarian Cakalele bukan sekadar pertunjukan gerak, melainkan warisan adat dan budaya yang mengakar kuat dalam sejarah masyarakat Maluku Utara. Tarian ini memiliki nilai historis, filosofis, dan identitas yang mendalam. Sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat, budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat. Dalam konteks sejarah, Cakalele adalah tarian perang tradisional yang lekat dengan jiwa kepahlawanan dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Cakalele merupakan tarian tradisional yang masih lestari di kalangan masyarakat suku Togale di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan. Tarian ini sarat dengan nilai-nilai luhur, seperti keberanian, persatuan, penghormatan terhadap pahlawan, serta nilai religius. Cakalele tidak hanya ditampilkan dalam festival budaya, tetapi juga menjadi bagian integral dalam upacara penyambutan tamu kehormatan dan ritual adat lainnya. Setiap elemen dalam tarian ini—mulai dari gerakan ekspresif, alunan musik, hingga penggunaan alat perang seperti parang dan salawaku (perisai)—memiliki makna simbolis yang dalam dan tidak boleh dipisahkan dari konteks aslinya.

Mengingat kedalaman nilai sejarah dan budayanya, pelestarian Cakalele kepada generasi muda harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Tarian ini memiliki makna yang terlalu sakral untuk direduksi menjadi hiburan murahan. Oleh sebab itu, modifikasi tarian Cakalele yang hanya bertujuan untuk menarik perhatian publik atau viral di media sosial adalah bentuk ketidakpahaman terhadap esensi budaya itu sendiri.

Hemat saya, fenomena perubahan bentuk penyajian Cakalele perlu dikritisi secara bijak. Memisahkan tarian dari filosofi aslinya sama saja dengan mencabut akar identitasnya. Harapan kita bersama adalah agar para pembuat konten mempelajari budaya secara komprehensif sebelum menyajikannya ke publik. Pengenalan budaya harus dilakukan dengan benar dan hormat, sehingga tidak justru menjadi bahan lelucon atau hiburan dangkal yang berpotensi memicu kesalahpahaman bahkan perpecahan.

Sesungguhnya, tarian Cakalele adalah simbol identitas dan martabat masyarakat Maluku Utara yang mengandung kearifan lokal bernilai tinggi bagi bangsa ini. Warisan budaya ini harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, bukan dieksploitasi demi kepuasan sesaat di dunia maya. Jangan biarkan keinginan untuk “viral” membuat kita kehilangan jati diri dan melupakan jerih payah leluhur dalam merawat tradisi ini selama berabad-abad.

Sebagai simpulan, jangan biarkan budaya kehilangan nilainya di mata publik hanya karena dikemas sebagai hiburan semata. Mari rawat dan lestarikan tarian Cakalele dengan menjaga integritas filosofinya, menghormati identitasnya, dan menjunjung tinggi martabat orang Maluku Utara. Pelestarian yang benar adalah kunci agar budaya tetap hidup, bermakna, dan dihormati.

  • Penulis: Jidan M. Jein | Mahasiswa Magister Jurusan PBSI Universitas Lambung Mangkurat
  • Editor: Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rumah Layak untuk Warga, PMII Ternate Dukung Langkah Gubernur Sherly dan Wagub Sarbin

    Rumah Layak untuk Warga, PMII Ternate Dukung Langkah Gubernur Sherly dan Wagub Sarbin

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 609
    • 0Komentar

    Ternate (Balengko Space) – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Ternate mendukung penuh program 700 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda Laos dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Ketua PMII Kota Ternate, Safrian Sula, menilai program ini memberi dampak nyata. Banyak warga dengan […]

  • Warga Tanah Tinggi Ternate Tanam Pohon Pisang di Depan RSUD Chasan Boesoirie

    Protes Jalan Rusak, Warga Tanah Tinggi Ternate Tanam Pohon Pisang di Depan RSUD Chasan Boesoirie

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Balengko Space, Ternate – Warga Kelurahan Tanah Tinggi, Kota Ternate Selatan, melakukan aksi unik dengan menanam pohon pisang di badan jalan rusak tepat di depan RSUD Chasan Boesoirie Ternate. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus penanda bahaya bagi para pengendara yang melintas di lokasi tersebut. Penanaman pohon pisang itu dilakukan di lubang jalan yang […]

  • Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) semester satu melaksanakan praktik lapangan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Masjid Raya Ternate, 20 November 2025. Kegiatan dipandu oleh dosen pengampu, Bapak Firman Amir, M.Pd.I, sebagai upaya memperkuat pemahaman aqidah dan pengamalan ibadah sesuai ajaran Ahlussunnah Waljamaah.

    Kegiatan Praktik Lapangan Pendidikan Agama Islam Mahasiswa UNUTARA di Masjid Raya Ternate

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) – Dalam rangka mewujudkan visi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) untuk “menciptakan insan toleran berdasarkan Ahlussunnah Waljamaah (ASWAJA)”, mahasiswa semester satu melaksanakan kegiatan praktik lapangan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Masjid Raya Ternate, pada tanggal 20 November 2025. Kegiatan ini dipandu langsung oleh dosen pengampu mata kuliah PAI, Bapak Firman […]

  • Kondisi banjir setinggi atap rumah yang merendam permukiman warga di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Rabu (7/1/2026). (Istimewa)

    Banjir Setinggi Atap Rumah Rendam Kecamatan Ibu Halmahera Barat, Warga Selamatkan Diri ke Atap

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Halmahera Barat (BALENGKO) – Banjir dengan ketinggian dilaporkan mencapai atap rumah melanda Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Rabu (7/1/2026). Peristiwa tersebut terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang sejak dini hari. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari keterangan warga setempat, banjir merendam sejumlah wilayah permukiman, di […]

  • Pembangunan Masjid Pas Ipa Terhenti, LBH Ansor Ternate Desak Audit dan Apresiasi Suara Masyarakat

    Pembangunan Masjid Pas Ipa Terhenti, LBH Ansor Ternate Desak Audit dan Apresiasi Suara Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.141
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Mangoli Barat, Kepulauan Sula – Pekerjaan pembangunan Masjid di Desa Pas Ipa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, hingga pertengahan Juli 2025 masih terhenti tanpa kejelasan. Padahal, proyek tersebut telah dimulai sejak 8 Agustus 2024 dengan nilai kontrak sebesar Rp626.814.686,00 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sula melalui Bagian Kesejahteraan […]

  • Prosesi pemakaman almarhum Piet Rudolf Sahertian di Jakarta, Minggu (18/1/2026). Setelah polemik selama 16 bulan, jenazah almarhum akhirnya berhasil dipindahkan dari Ambon ke Jakarta sesuai hak hukum istri sah berdasarkan KUHPerdata. (Foto: Dok. Istimewa/Kantor Hukum Muhammad Hamzah)

    Akhir Polemik 16 Bulan: Jenazah Alm. Piet Rudolf Sahertian Resmi Dimakamkan di Jakarta

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.374
    • 0Komentar

    JAKARTA (BALENGKO), 21 Januari 2026 – Setelah melalui perjuangan hukum dan emosional selama kurang lebih 16 bulan, Ny. Mathilda Malaiholo/Sahertian akhirnya berhasil memindahkan jenazah suaminya, almarhum Piet Rudolf Sahertian, dari Ambon ke Jakarta. Jenazah telah dimakamkan dengan layak pada Minggu, 18 Januari 2026. Pemindahan ini menandai berakhirnya polemik panjang antara Ny. Mathilda selaku istri sah […]

expand_less