Konsolidasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama untuk Sula Bermartabat
- calendar_month Jum, 19 Des 2025
- visibility 402
- comment 0 komentar

Oleh: Sahabuddin Lumbessy (Ketua PC IKA PMII Kepulauan Sula) | Sumber foto : Istimewa
Perkembangan Jam’iyah Nahdlatul Ulama dari tahun ke tahun juga menegaskan satu hal penting: jamaah NU tetap solid dan konsisten menjaga nilai-nilai luhur warisan para pendirinya. Latar belakang berdirinya NU sebagai organisasi resmi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terlepas dari upaya merespons dinamika internasional sekaligus mempertahankan tradisi keagamaan Islam Nusantara.
Martin van Bruinessen dalam bukunya “NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru” menjelaskan bahwa konflik antara kelompok Islam reformis dan Islam tradisional menjadi salah satu faktor lahirnya NU. Di samping itu, perkembangan dunia Islam secara global juga turut mendorong berdirinya NU, meskipun dalam persepsi internalnya, tujuan utama NU adalah menjaga dan mempertahankan tradisi keagamaan.
Sejarah berdirinya NU—yang berawal dari perintah KH Hasyim Asy’ari dan gerakan-gerakan yang dirintis KH Wahab Khasbullah—menunjukkan bahwa NU dibangun di atas fondasi nilai-nilai luhur Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Nilai inilah yang menjadi pegangan seluruh warga NU dalam beragama, bermasyarakat, dan berorganisasi.
Ahlussunnah Wal Jamaah bukan sekadar identitas, melainkan manhajul fikr (kerangka berpikir) yang menyatukan seluruh warga NU. Kesamaan pemahaman inilah yang membuat sistem keorganisasian NU berjalan terarah dan terkoordinasi, meskipun tidak terlepas dari dinamika dan konflik internal. Namun, sejarah mencatat bahwa NU selalu memiliki kearifan dalam menyelesaikan persoalan-persoalannya. Sebagaimana disampaikan KH Nasaruddin Umar, “NU itu selalu punya cara untuk menyelesaikan persoalannya sendiri” (Detiknews, 9 Desember 2025).
- Penulis: Sahabuddin Lumbessy (Ketua PC IKA PMII Kepulauan Sula)
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Mursid Puko

Saat ini belum ada komentar