Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Di Balik Sambutan Manis Kampus: Ketakutan Mahasiswa Baru untuk Bersikap Kritis

Di Balik Sambutan Manis Kampus: Ketakutan Mahasiswa Baru untuk Bersikap Kritis

  • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
  • visibility 510
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Momentum paling istimewa bagi perguruan tinggi adalah kedatangan mahasiswa baru setiap tahun. Mereka datang dari berbagai daerah dengan semangat tinggi, membawa harapan tentang kehidupan kampus yang kerap digambarkan sebagai ruang yang membebaskan, mencerahkan, dan membentuk karakter. Mahasiswa baru yang telah memilih jurusan di berbagai fakultas disambut dengan senyum ramah serta narasi manis tentang dunia perkuliahan sebagai fase paling berkesan dalam membangun mimpi menuju masa depan yang gemilang.

Namun, di balik euforia Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan jargon idealisme akademik, terdapat realitas yang tidak selalu seindah yang dibayangkan. Dunia akademik, dalam banyak kasus, justru menghadirkan relasi kuasa yang tidak sehat. Mahasiswa dituntut untuk tunduk dan patuh, sementara kritik terhadap birokrasi universitas kerap dipandang sebagai bentuk perlawanan, bukan sebagai bagian dari proses berpikir kritis yang seharusnya dijunjung tinggi.

Intimidasi dan ancaman sering hadir dalam berbagai bentuk ketika mahasiswa menyuarakan kritik. Akibatnya, mahasiswa menjadi korban dari sistem yang menekan, sehingga banyak yang memilih diam—bukan karena tidak memahami persoalan, melainkan karena takut. Yang lebih memprihatinkan, mahasiswa baru kerap hanya dibekali pesan normatif seperti “jaga nama baik almamater,” tanpa pernah diingatkan bahwa mereka juga memiliki hak untuk bersuara ketika diperlakukan tidak adil.

Kampus sering digambarkan sebagai rumah intelektual, tempat ilmu pengetahuan tumbuh dan pemikiran kritis diberi ruang. Namun gambaran tersebut menjadi absurd ketika mahasiswa justru takut menyampaikan masalah yang mereka alami akibat tekanan dari pihak kampus. Kampus bukanlah ruang yang sepenuhnya netral; ia adalah sebuah sistem. Universitas seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi kaum intelektual, tetapi dapat berubah menjadi mesin penindasan ketika budaya feodal dan ketakutan terus dilestarikan.

Budaya diam di kalangan mahasiswa bukanlah tanpa sebab. Ancaman terhadap proses akademik membuat mahasiswa takut melakukan aksi, termasuk demonstrasi. Keberanian dipersepsikan sebagai ancaman, sementara sistem pengaduan internal kampus sering kali hanya menjadi formalitas yang tidak benar-benar menyelesaikan persoalan. Dalam sistem yang timpang ini, penting untuk terus mengingatkan bahwa mahasiswa bukan objek yang harus tunduk, melainkan subjek yang memiliki hak.

Mahasiswa bukan sekadar angka dalam daftar presensi atau pemenuh beban SKS. Mereka adalah manusia yang berpikir dan berhak mendapatkan keadilan atas kewajiban akademik yang telah mereka tunaikan. Jika dunia akademik ingin mencetak generasi pemikir, maka mahasiswa harus diajarkan untuk berpikir kritis. Jika kampus ingin melahirkan agen perubahan, maka keberanian harus dihargai, bukan diintimidasi.

Pendidikan tumbuh dari ruang dialog, bukan dari dominasi satu pihak. Universitas yang sehat adalah universitas yang membuka ruang kritik, bukan yang menakut-nakuti mereka yang bertanya. Dari sinilah solidaritas dapat dibangun, suara kolektif dapat diperkuat, dan harapan akan perubahan tetap hidup.

Kampus memang bukan ruang yang sepenuhnya ramah, tetapi mahasiswa baru adalah generasi yang memiliki potensi untuk memulai perubahan itu. Sudah saatnya kampus berhenti mendidik mahasiswa untuk sekadar patuh, dan mulai mengarahkan mereka untuk sadar, kritis, dan berani. Sebab pendidikan tanpa keberanian hanya akan melahirkan lulusan yang pintar, tetapi takut berbicara. Dan kampus yang menindas hanya akan menghasilkan gelar, bukan manusia yang merdeka.

  • Penulis: Mursid Puko
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Mursid Puko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gambar Ilustrasi : Indonesiana.id

    ARGUMEN TITIK TEMU AGAMA-AGAMA

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Oleh: Fahrul Abd Muid Adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua PW. GP. Ansor Maluku Utara
    • visibility 531
    • 0Komentar

    Adalah membahas untuk menemukan dasar argumennya perihal titik temu-nuqthatu al-liqa’ akar konflik antara Israel dan Palestina yang sampai hari ini masih saja terjadi. Kita jadikan upaya maksimal sebagai dasar yang kuat secara teologi agar terciptanya sebuah hubungan perdamaian dan keselamatan yang hakiki antara Israel dan Palestina, karena ini adalah konflik etnik Yahudi dan etnik Arab-bukan […]

  • KH. Sarbin Sehe, Wakil Gubernur Maluku Utara, dalam seminar Road to Go Public di Ternate 2025

    Tambang Bukan Segalanya: Aktivis PMII Yogyakarta Menanggapi Pemikiran Visioner Wagub Maluku Utara

    • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
    • account_circle Muzsta Oscar
    • visibility 500
    • 0Komentar

    Baru-baru ini publik diramaikan dengan kabar yang cukup mencengangkan: pertumbuhan ekonomi Maluku Utara berhasil melesat hingga 32,09% (yoy) pada kuartal II 2025, menurut catatan Databoks yang bersumber dari Badan Pusat Statisik (BPS). Angka ini menempatkan Maluku Utara sebagai salah satu daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Namun, di balik euforia tersebut, ada satu […]

  • Suasana kegiatan santunan anak yatim dan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh PC SAPMA Pemuda Pancasila Kota Tangerang di Gedung Pemuda KNPI Kota Tangerang, Sabtu (14/03/2026).

    SAPMA PP Kota Tangerang Gelar Santunan Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama di Gedung KNPI

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 190
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Kota Tangerang — Pimpinan Cabang Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kota Tangerang menggelar kegiatan santunan anak yatim dan buka puasa bersama pada Sabtu (14/03/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pemuda KNPI Kota Tangerang yang berlokasi di Jalan A. Damyati No.28, RT 003/RW 006, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Acara […]

  • Rempah Legendaris dari Timur: Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Kenal Buah Pala

    Rempah Legendaris dari Timur: Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Kenal Buah Pala

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.229
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE- Buah pala, tanaman endemik asli Indonesia Timur, buah dengan nama latin Myristica fragrans tumbuh subur di wilayah seperti Ternate, Banda, Sulawesi, hingga Papua. Sejak abad ke-6, rempah ini telah dikenal hingga Byzantium, berjarak 12.000 kilometer dari Banda. Pada tahun 1000 M, Ibnu Sina, seorang dokter Persia, menulis tentang “jansi ban” atau “kacang dari […]

  • Tabaru Meletus lagi : Warga Desa Goin berjaga dalam kewaspadaan

    Tabaru Meletus lagi : Warga Desa Goin berjaga dalam kewaspadaan

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 843
    • 0Komentar

    Sumber foto : Wilton Nyoma Halmahera Barat : Sabtu (11/1/25) Gunung Tabaru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meletus dan memuntahkan awan panas pada pukul 19.50 WIT. Erupsi kali ini memunculkan pemandangan dramatis dengan lava pijar, gumpalan awan, dan abu vulkanik yang menyelimuti Desa Goin, Kecamatan Ibu, Halmahera Barat. Wilton Nyoma, salah seorang warga Desa Goin, […]

  • Source : Istimewa

    Warga Sagea-Kiya Melawan Kriminalisasi: “Tanah Kami Bukan Barang Dagangan, Cabut Laporan 14 Warga!

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 383
    • 0Komentar

    HALMAHERA TENGAH (BALENGKO), 23 Februari 2026 – Upaya pembungkaman terhadap pejuang lingkungan kembali terjadi di Maluku Utara. Koalisi Save Sagea mengecam keras langkah PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia yang melaporkan 14 warga Desa Sagea dan Desa Kiya ke Kepolisian Daerah Maluku Utara. Langkah hukum tersebut dinilai sebagai bentuk kriminalisasi dan intimidasi nyata terhadap […]

expand_less