Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Di Balik Sambutan Manis Kampus: Ketakutan Mahasiswa Baru untuk Bersikap Kritis

Di Balik Sambutan Manis Kampus: Ketakutan Mahasiswa Baru untuk Bersikap Kritis

  • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
  • visibility 456
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Momentum paling istimewa bagi perguruan tinggi adalah kedatangan mahasiswa baru setiap tahun. Mereka datang dari berbagai daerah dengan semangat tinggi, membawa harapan tentang kehidupan kampus yang kerap digambarkan sebagai ruang yang membebaskan, mencerahkan, dan membentuk karakter. Mahasiswa baru yang telah memilih jurusan di berbagai fakultas disambut dengan senyum ramah serta narasi manis tentang dunia perkuliahan sebagai fase paling berkesan dalam membangun mimpi menuju masa depan yang gemilang.

Namun, di balik euforia Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan jargon idealisme akademik, terdapat realitas yang tidak selalu seindah yang dibayangkan. Dunia akademik, dalam banyak kasus, justru menghadirkan relasi kuasa yang tidak sehat. Mahasiswa dituntut untuk tunduk dan patuh, sementara kritik terhadap birokrasi universitas kerap dipandang sebagai bentuk perlawanan, bukan sebagai bagian dari proses berpikir kritis yang seharusnya dijunjung tinggi.

Intimidasi dan ancaman sering hadir dalam berbagai bentuk ketika mahasiswa menyuarakan kritik. Akibatnya, mahasiswa menjadi korban dari sistem yang menekan, sehingga banyak yang memilih diam—bukan karena tidak memahami persoalan, melainkan karena takut. Yang lebih memprihatinkan, mahasiswa baru kerap hanya dibekali pesan normatif seperti “jaga nama baik almamater,” tanpa pernah diingatkan bahwa mereka juga memiliki hak untuk bersuara ketika diperlakukan tidak adil.

Kampus sering digambarkan sebagai rumah intelektual, tempat ilmu pengetahuan tumbuh dan pemikiran kritis diberi ruang. Namun gambaran tersebut menjadi absurd ketika mahasiswa justru takut menyampaikan masalah yang mereka alami akibat tekanan dari pihak kampus. Kampus bukanlah ruang yang sepenuhnya netral; ia adalah sebuah sistem. Universitas seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi kaum intelektual, tetapi dapat berubah menjadi mesin penindasan ketika budaya feodal dan ketakutan terus dilestarikan.

Budaya diam di kalangan mahasiswa bukanlah tanpa sebab. Ancaman terhadap proses akademik membuat mahasiswa takut melakukan aksi, termasuk demonstrasi. Keberanian dipersepsikan sebagai ancaman, sementara sistem pengaduan internal kampus sering kali hanya menjadi formalitas yang tidak benar-benar menyelesaikan persoalan. Dalam sistem yang timpang ini, penting untuk terus mengingatkan bahwa mahasiswa bukan objek yang harus tunduk, melainkan subjek yang memiliki hak.

Mahasiswa bukan sekadar angka dalam daftar presensi atau pemenuh beban SKS. Mereka adalah manusia yang berpikir dan berhak mendapatkan keadilan atas kewajiban akademik yang telah mereka tunaikan. Jika dunia akademik ingin mencetak generasi pemikir, maka mahasiswa harus diajarkan untuk berpikir kritis. Jika kampus ingin melahirkan agen perubahan, maka keberanian harus dihargai, bukan diintimidasi.

Pendidikan tumbuh dari ruang dialog, bukan dari dominasi satu pihak. Universitas yang sehat adalah universitas yang membuka ruang kritik, bukan yang menakut-nakuti mereka yang bertanya. Dari sinilah solidaritas dapat dibangun, suara kolektif dapat diperkuat, dan harapan akan perubahan tetap hidup.

Kampus memang bukan ruang yang sepenuhnya ramah, tetapi mahasiswa baru adalah generasi yang memiliki potensi untuk memulai perubahan itu. Sudah saatnya kampus berhenti mendidik mahasiswa untuk sekadar patuh, dan mulai mengarahkan mereka untuk sadar, kritis, dan berani. Sebab pendidikan tanpa keberanian hanya akan melahirkan lulusan yang pintar, tetapi takut berbicara. Dan kampus yang menindas hanya akan menghasilkan gelar, bukan manusia yang merdeka.

  • Penulis: Mursid Puko
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Mursid Puko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sejumlah massa aksi dari Komite Mahasiswa Pemerhati Pembangunan Maluku Utara–Jakarta saat menggelar unjuk rasa di depan Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, (13/2). Mereka mendesak pengusutan dugaan korupsi proyek Embung Pulau Hiri senilai Rp13 miliar di BWS Maluku Utara. (Foto: Istimewa/Dok. Komite Mahasiswa)

    Dugaan Mafia Proyek di Embung Pulau Hiri, Komite Mahasiswa Minta KPK Bongkar Aliran Dana BWS Malut

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 281
    • 0Komentar

    JAKARTA (BALENGKO) – Komite Mahasiswa Pemerhati Pembangunan Maluku Utara–Jakarta kembali mengelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta, pada Jumat (13/2). Aksi ini bertujuan mendesak penegakan hukum terhadap dugaan penyimpangan anggaran pada sejumlah proyek strategis di bawah kendali Balai Wilayah Sungai (BWS) […]

  • KH. Sarbin Sehe: Kesejahteraan Buruh, Kesejahteraan Bangsa

    KH. Sarbin Sehe: Kesejahteraan Buruh, Kesejahteraan Bangsa

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 556
    • 0Komentar

    Ternate, Kamis (1/5/2025) -Menghormati buruh dan menjaga martabat bangsa menjadi pesan utama Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, dalam peringatan Hari Buruh Internasional, Kamis (1/5/2025). Dalam keterangannya, KH. Sarbin Sehe menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh buruh dan pekerja yang telah berkontribusi besar bagi pembangunan nasional. “Buruh adalah pekerja tangguh. Mereka tidak hanya berkontribusi di […]

  • Spiritual Anak Rantau; Menjemput Ramadhan

    Spiritual Anak Rantau; Menjemput Ramadhan

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Kasman j. Momole
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Ramadhan adalah rangkaian aktivitas yang penuh dengan berbagai bentuk ibadah, baik pada ranah teologis, psikologis, maupun sosial. Secara teologis, Ramadhan menegaskan ketaatan manusia dalam menjalankan perintah agama. Secara psikologis, Ramadhan melatih jiwa agar lebih tertib dan tenang. Secara sosial, Ramadhan menguatkan silaturahmi dan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama. Secara teologis, puasa telah ditegaskan dalam firman Allah […]

  • sumber foto : Istimewa

    PKPM NUKU Yogyakarta Siap Gelar Kongres XXII dan Simposium Kepemimpinan

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 232
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA (BALENGKO) — Perkumpulan Keluarga dan Mahasiswa Nuku (PKPM NUKU) Yogyakarta akan menggelar Kongres ke-XXII yang dirangkaikan dengan Simposium Kepemimpinan pada 16–18 Januari di Asrama PKPM NUKU Yogyakarta. Kongres merupakan forum tertinggi organisasi yang bertujuan mengevaluasi kinerja kepengurusan, merumuskan arah kebijakan, serta menetapkan kepemimpinan dan program kerja periode selanjutnya. Kegiatan ini diharapkan berlangsung demokratis, tertib, […]

  • Dari Tambang ke Tubuh: Deretan Penyakit Akibat Aktivitas Pertambangan

    Dari Tambang ke Tubuh: Deretan Penyakit Akibat Aktivitas Pertambangan

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 676
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com – Maluku Utara dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan alam yang melimpah. Tak hanya memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, tetapi juga dianugerahi kandungan tambang seperti nikel, emas, dan mineral lainnya yang menjadi incaran berbagai perusahaan besar. Namun, di balik gemerlap pembangunan dan pemasukan daerah yang menjanjikan, aktivitas pertambangan menyimpan ancaman yang semakin […]

  • LUMPUL TOTAL: Massa aksi dari Desa Gita Raja melakukan pemblokiran jalan lintas utama di Tidore Kepulauan, Kamis (12/2/2026). Aksi ini merupakan bentuk protes keras warga yang menuntut pencopotan Kepala Desa Ade M. Rasid atas dugaan tindakan amoral dan desakan agar Walikota mencopot Kadis PMD yang dinilai melakukan pembohongan publik terkait janji pemecatan Kades. (Source : Agung Selang/Jurnalis Balengko)

    Janji Pecat Kades Tak Ditepati, Warga Gita Raja Tuntut Pencopotan Kadis PMD Tidore dan Boikot Akses Jalan

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 679
    • 0Komentar

    TIDORE KEPULAUAN (BALENGKO) – Kekecewaan mendalam menyelimuti warga Desa Gita Raja, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Untuk ketiga kalinya, massa aksi kembali turun ke jalan dan melakukan pemblokiran akses transportasi umum serta penyegelan kantor desa pada Kamis (12/2). Aksi ini dipicu oleh sikap Pemerintah Daerah (Pemda) Tidore Kepulauan yang dinilai lamban dan tidak konsisten dalam […]

expand_less