Gandeng Siswa SD, BPK Malut Gelar Lokakarya Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole Berbasis Etnosains
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Para siswa SD di Kota Ternate antusias mengikuti praktik mencukur kelapa dalam lokakarya Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole berbasis etnosains, Rabu (5/8/2026). (Foto: Dok. BPK Malut/Balengko Space)
BALENGKO SPACE, TERNATE – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku Utara menggelar lokakarya edukatif bertajuk Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Kota Ternate, Rabu (05/08/2026).
Mengangkat tema “Pengetahuan Lokal dan Etnosains untuk Siswa Sekolah Dasar”, agenda ini diikuti oleh puluhan siswa gabungan dari SD N 3, SD N 4, SD N 8, dan SD N 10 Kota Ternate. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan kekayaan tradisi lokal masyarakat sekaligus menyambungkannya dengan konsep-konsep sains modern yang dipelajari di bangku sekolah.
Hadir dalam pembukaan acara jajaran Kepala Sekolah SDN 4 Ternate, perwakilan BPK Maluku Utara, para narasumber, serta guru pendamping.
Mengenal Fungsi dan Etnosains Alat Tradisional Kukuran
Lokakarya ini menghadirkan perajin Kukuran asal Kelurahan Tongole, Safrin Sabtu, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Safrin memperagakan cara pengamatan material pembuat kukuran, mulai dari pemilihan karakter kayu hingga pemrosesan besi.
“Manfaat dari Kukuran adalah buah kelapa dicukur sampai menjadi ampas kelapa untuk dibuatkan santan dan lain-lain. Praktik budaya lokal seperti inilah yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Safrin di hadapan para siswa.
Perwakilan BPK Maluku Utara, Dwi Sri, saat ditemui jurnalis Balengko Space menjelaskan bahwa pendekatan etnosains mengajak peserta didik memahami bahwa tradisi leluhur pada dasarnya memiliki dasar-dasar ilmiah (scientific basis) yang rasional dan dapat dijelaskan secara akademis.
Antusiasme Praktik dan Menumbuhkan Bangga Berbudaya
Ketua Panitia Kegiatan, Suryani Taib, S.Pd., M.Sc. (akrab disapa Ibu Hani), menyampaikan harapan agar forum ini menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Nusantara sekaligus memicu minat belajar sains para siswa. Menurutnya, pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari jauh lebih mudah diserap peserta didik.
Selain menerima teori, para peserta yang dibagi menjadi empat kelompok diajak langsung mengikuti simulasi praktik mencukur buah kelapa, diskusi interaktif, serta presentasi hasil analisis kelompok.
“Melalui lokakarya ini diharapkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki kepedulian untuk melestarikan budaya lokal serta menerapkan nilai-nilai ilmiah dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Ibu Hani saat menutup rangkaian acara.
(BS/Red)
- Penulis: Mursid Puko
- Editor: Mustakim
- Sumber: Mursid Puko

Saat ini belum ada komentar