Proyeksi IAIN Ternate Menuju UIN Sultan Baabullah: Transformasi Akademik dan Tantangan Masa Depan
- calendar_month Sab, 4 Okt 2025
- visibility 793
- comment 0 komentar

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Wakil Ketua GP. Ansor Maluku Utara
Ada sebuah ekspektasi lain yang menurut ijtihad penulis memiliki urgensitas penting dibalik terjadinya transformasi tersebut, yaitu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam ini harus menjadi trendsetter-menciptakan tren baru bagi keilmuan yang akan mengembangkan role mode “Masyarakat Islam Kepulauan” yang menjadi misi besar kampus ini. Memang tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut, akan tetapi bukan pula hal yang tidak mungkin untuk mengimplementasikannya jika dikerjakan secara bersama-sama oleh civitas akademika. Merumuskan paradigma trendsetter keilmuan memerlukan pemikiran yang mendalam, berkeringat, kolaboratif, dan sharing ideas dalam nuqthah iltiqa’-titik perjumpaan pada forum akademik yang setiap saat wajib diadakan di kampus ini. Maka timbul pertanyaannya: mengapa paradigma trendsetter ini diperlukan? Jawabannya adalah: bahwa paradigma trendsetter keilmuan dalam konteks rekonstruksi masa depan IAIN Ternate adalah menjadi artikulasi image-gambaran yang komprehensif tentang kekuatan sumber daya manusia kampus ini, visi-misi kelembagaan, mandat, skala prioritas, distingsi, ekselensi sampai pada tataran ekspektasi itu sendiri. Dan ini adalah sebuah keniscayaan yang harus menjadi pembuktiaan atas terjadinya rekontruksi untuk transformasi menuju masa depan IAIN Ternate menjadi al-markaz al-hadharah wa al-tsaqafah al-islamiyyah-pusat peradaban dan kebudyaan islam yang memiliki daya tarik tersendiri dan setiap saat menyedot perhatian semua pihak untuk berkunjung di IAIN Ternate.
IAIN Ternate harus didesain untuk membangun sebuah peradaban dunia secara andal karena kebesaran nama Kesultanan Ternate “Baabullah” yang dikenal oleh dunia dan dibaca dunia hingga saat ini, tetapi dalam realitasnya kita masih jumpai perkataan sebagian besar pihak yang mengasumsikan bahwa IAIN Ternate masih berjalan stagnan dan berproses hanya atas dasar berfikir deduktif semata. Sehingga IAIN Ternate belum menunjukkan eksistensi sebagai sebuah lembaga Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam yang berpihak full kepada pengembangan seluruh budaya kampus yang berbasis pada sains dan teknologi pada Tri Dharmanya, dan Kampus keagamaan ini belum terlihat secara signifikan mendorong bagaimana civitas akademika berfikir menggunakan “nalar kritis” karena dimatikan, bahkan lembaga Pendidikan Tinggi ke-Islaman ini memiliki kecenderungan yang dianggap sebagai institusi yang masih kurang tendangannya dalam kandangnya sendiri, dan jika enggan dikatakan kepemimpinannya sama sekali tidak fokus pada skala perioritas berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang modern dan holistik.
- Penulis: Fahrul Abd. Muid
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar