Proyeksi IAIN Ternate Menuju UIN Sultan Baabullah: Transformasi Akademik dan Tantangan Masa Depan
- calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
- visibility 1.233
- comment 1 komentar
- print Cetak

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Wakil Ketua GP. Ansor Maluku Utara
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia yang di dalamnya adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate. Menjadi sesuatu yang niscaya bahwa ada sisi dan dinamika lain yang mengemuka dari civitas akademika agar dinyalakan api perubahan atau transformasi yang terjadi di lingkungan Kampus ke-islaman ini adalah besarnya ekspektasi-harapan publik Maluku Utara untuk bisa melihat secara nyata mutaghayyirah-perubahan paradigma akademik yang harus terjadi di Kampus IAIN Ternate. Implikasi terbesar untuk mewujudkan transformasi di lingkungan IAIN Ternate adalah bagaimana Kampus Keagamaan Islam Negeri ini mampu berkiprah dalam konteks dan perspektif yang waasi’un-luas dalam membangun dan mengembangkan secara tajam al-hadharah-budaya akademik, budaya penelitian, dan budaya pengabdian terhadap pengembangan masyakarat Islam Kepulauan di Maluku Utara. Transliterasi atas perubahan tersebut secara komprehensif harus mampu dibuktikan oleh IAIN Ternate untuk cepat dan sesegera mungkin men-contruct pemikiran role model Islam Kepulauan yang memiliki kesigapan dan kesiapan untuk merespon dan mengembangkan paham ke-Islaman yang mendorong terwujudnya kemashlahatan al-waqi’yyah-realistis bagi masyarakat Islam Kepulauan di Jaziratul Muluk.
Konstruktivisme yang dimunculkan atas terwujudnya proses transformasi tersebut harus dikonsepsikan dalam format-bentuk terciptanya sebuah polarisasi dalam “frame” aktualisasi pemikiran ke-Islaman yang lebih-lebih peka lagi dalam merespon berbagai musykilah-persoalan kebangsaan, kerakyatan, dan ke-ummatan sekaligus di Provinsi Maluku Utara, sehingga transformasi dimaksud tidak kemudian hanya dipandang sebagai “kemubaziran akademik” yang tak jelas orientasinya-dis-orientasi. Memang perlu diakui bahwa kekuatan dan kebesaran dunia akademik yang dimiliki oleh PTKIN di Indonesia, khsusnya di IAIN Ternate tidak bisa diukur dan ditentukan hanya dengan keberhasilan peningkatan alih status dari STAIN ke IAIN Ternate dan adanya rencana besar untuk beralih status lagi dari IAIN ke UIN SUBA-Sultan Baabullah Ternate. Akan tetapi lebih dari itu, kebesaran dan kekuatan akademik di IAIN Ternate terletak pada pembuktian terhadap eksistensi dan kiprah nyata secara kelembagaannya sendiri. Kampus Keagamaan Islam ini harus mampu membuktikan sekaligus membangun serta mengokohkan diri menjadi institusi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri satu-satunya di Maluku Utara yang memiliki budaya riset unggul, meningkatkan frekuensi instrumen baru untuk menunjukkan reputasi Kampus Keagamaan Islam ini untuk mendapatkan apresisasi oleh masyarakat Maluku Utara dan stakeholders kelembagaan lainnya di Provinsi Maluku Utara.
- Penulis: Fahrul Abd. Muid
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Sangat setuju dengan pandangan Pak Fahrul mengenai pentingnya nalar kritis dalam transformasi IAIN Ternate menuju UIN Sultan Baabullah, terutama agar kampus tidak hanya menjadi “cagar budaya” tapi pusat peradaban yang modern. Terkait visi universitas yang berbasis teknologi dan kebutuhan holistik, apakah dalam perencanaan transformasi ini juga mencakup standar kesehatan lingkungan kampus yang lebih baik? Saya sedang meriset standar pengobatan darurat untuk civitas akademika di daerah kepulauan, dan menemukan referensi ini https://e-residence.com/nifonline/ mengenai ketersediaan obat-obatan esensial. Menurut Bapak, sejauh mana kesiapan infrastruktur medis kampus dalam mendukung produktivitas mahasiswa agar tetap unggul dan sehat di masa depan?
1 Maret 2026 7:49 am