Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

  • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
  • visibility 635
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Ada masa ketika bendera hijau-hitam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkibar bukan sekadar kain simbol, tapi api kesadaran. Dari sekretariat sempit di Yogyakarta tahun 1947, Lafran Pane menyalakan obor gerakan intelektual Islam yang menolak kejumudan dan kolonialisme.

HMI lahir bukan dari ruang nyaman, tapi dari kebutuhan eksistensial bangsa, mencerdaskan umat, memperjuangkan keadilan, dan menggabungkan iman dengan ilmu. Kini, lebih dari tujuh dekade berlalu, yang tersisa dari obor itu hanyalah nyala tipis di pinggir arus kekuasaan. HMI sudah mati dan yang hidup hanya benderanya.

Kematian yang saya maksud bukan biologis, tapi eksistensial. Ia bukan mati secara organisasi, melainkan secara makna. Seperti tubuh tanpa jiwa, struktur HMI masih berdiri, AD/ART masih berlaku, kongres masih rutin digelar, tetapi ruh perjuangan telah lama pergi.

Di banyak kampus, sekretariat lebih ramai oleh agenda seremonial ketimbang wacana kritis. Forum yang dulu melahirkan pemikir seperti Nurcholish Madjid kini berubah jadi arena foto bersama dan rebutan posisi. HMI masih ada di papan nama, tapi absen di medan ide.

Padahal, fondasi HMI dibangun atas Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai doktrin moral yang menggabungkan tauhid, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Dokumen itu mengajarkan bahwa Islam adalah gerakan pencerahan, bukan sekadar identitas.

Tapi NDP kini hanya dibuka saat pelatihan Basic Training, lalu dilupakan setelah penutupan. Ia dikhotbahkan, tapi tidak dihidupi. Akibatnya, kader mengenal NDP sebatas kutipan bukan kesadaran.

HMI harus menjadi penjaga moral bangsa. Artinya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan laboratorium etika. Tapi hari ini, laboratorium itu disulap menjadi pabrik politisi muda yang berebut jalur karier. Di sini, politik identitas berubah menjadi identitas politik, yang akhirnya simbol Islam dipakai bukan untuk menebar nilai, tetapi untuk menambah legitimasi. HMI menjadi anak tangga menuju kekuasaan, bukan ruang pembentukan kesadaran.

Fenomena ini bukan sekadar anomali kader, tapi gejala struktural. Banyak cabang kehilangan arah karena tersandera patronase alumni jejaring KAHMI yang kadang menjelma menjadi tangan kekuasaan. Dukungan alumni yang seharusnya menguatkan justru menjebak HMI dalam politik balas budi. Ketika loyalitas lebih diukur dari siapa yang membiayai acara ketimbang gagasan apa yang diperjuangkan, maka kematian moral itu menjadi keniscayaan.

Dalam terminologi filsafat eksistensialis, kematian HMI adalah bentuk alienasi diri yang terpisah dari esensi yang melahirkannya. Eksistensi organisasi ini masih ada, tapi substansi perjuangannya telah tercerabut.

Seperti kata Albert Camus, “yang tragis bukan kematian, tapi hidup tanpa makna.” HMI hari ini hidup, tetapi tanpa makna perjuangan. Berjalan, tapi tak tahu ke mana. Bergerak, tapi tanpa arah moral. Inilah absurditas gerakan mahasiswa modern yang hidup dalam rutinitas tanpa kesadaran.

Di sisi lain, dunia berubah cepat. Gelombang digital, krisis etika publik, dan politik pasca-kebenaran menuntut keberanian moral baru. Mahasiswa hari ini memerlukan HMI yang berani menabrak arus, bukan menumpang di dalamnya. Tapi yang kita saksikan justru kebalikannya, kader sibuk menjaga hubungan dengan kekuasaan bukannya menantangnya. HMI kehilangan fungsi kritisnya sebagai penyeimbang negara dan penjaga nurani publik. Terjebak menjadi ornamen demokrasi indah di permukaan, hampa di dalam.

Krisis ini tidak bisa disembuhkan dengan seruan klise, tetapi menuntut rekonstruksi total kesadaran kader, bahwa Islam bukan alat untuk meneguhkan ego, tetapi jalan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Bahwa menjadi kader HMI bukan sekadar mengenakan jas almamater hijau, tapi menjalani panggilan intelektual yang jujur dan berani.

Bahwa perjuangan bukan diukur dari jabatan, melainkan dari keberpihakan pada kebenaran. Inilah saatnya membangkitkan kembali spirit inquisitive, semangat bertanya, membaca, menulis, dan menggugat.

HMI juga perlu keluar dari “zona nyaman kampus” dan kembali ke realitas rakyat. Perjuangan hari ini tidak lagi hanya tentang politik kampus, tapi tentang keadilan sosial, krisis lingkungan, korupsi, dan ketimpangan digital. Di sinilah HMI seharusnya hadir memproduksi pengetahuan, bukan sekadar orasi. Membuka diskusi publik, bukan mengulang jargon lama. Menjadi think tank muda Islam Indonesia, bukan sekadar penonton politik nasional.

Namun untuk itu, HMI harus berani mengakui kematiannya sendiri, karena hanya yang berani menghadapi kematian yang bisa lahir kembali. Mengakui bahwa idealisme telah mati adalah langkah pertama untuk menyalakannya lagi. Bendera hijau-hitam akan kembali bermakna hanya jika di baliknya berdiri kesadaran baru, bahwa perjuangan sejati bukan tentang nama besar, tapi tentang keberanian menegakkan nilai di tengah kegelapan.

HMI tidak boleh menjadi menara gading, HMI harus menjadi mercusuar. Kini mercusuar itu padam, tapi bara kecil masih ada di dada segelintir kader yang menolak tunduk. Dari bara itulah kebangkitan bisa dimulai bukan dengan bendera, tapi dengan kesadaran. Sebab bendera hanya kain, tapi kesadaran adalah nyawa. Dan selama ada yang berani berpikir jujur, HMI tak akan benar-benar mati. Kembali membenahi diri kita sebagai oraganisasi perjuangan yang menolak bentuk apapun penindasan.

  • Penulis: Muhammad Asmar Joma
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Source : Istimewa

    Kohati HMI Ternate Desak Evaluasi Kepala SDN 32 Kalumata Galian Terkait Dugaan Kekerasan

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 324
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) — Korps HMI-Wati (Kohati) HMI Cabang Ternate mendesak Pemerintah Kota Ternate segera mengevaluasi Kepala SDN 32 Kalumata Galian menyusul adanya dugaan kekerasan terhadap siswi kelas 5 oleh oknum keamanan sekolah. Selain kekerasan fisik, sekolah tersebut juga dilaporkan mengalami berbagai kasus perundungan hingga intimidasi terhadap orang tua wali. Kegagalan Pengawasan Sekolah Kohati menilai rentetan […]

  • M. Ade Bahtiar, SKM., MM., Bendahara Umum PC GP Ansor Kota Tidore Kepulauan, saat memberikan keterangan pers terkait rencana pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) GP Ansor tahun 2025 di Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan.

    GP Ansor Kota Tidore Kepulauan Akan Gelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD)

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, akan kembali melaksanakan agenda kaderisasi formal melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) pada bulan Jumadil Akhir 1447 H mendatang. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5–8 Desember 2025 di Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan. PKD akan diikuti oleh […]

  • hendra kasim

    PROPHETIC ELECTION (Dari Kompetisi Kekuasaan Menuju Amanah Publik)

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle HENDRA KASIM (Mahasiswa Program Doktor FH UII)
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Bagian penutup tulisan sebelumnya – Demokrasi Profetik – saya mengumbar janji untuk menyajikan kelanjutannya, Pemilu Profetik. Tulisan yang sedang anda baca ini, cara saya membayar hutang janji itu. Kalau ada yang belum melahap Demokrasi Profetik, saran saya ringkas, balik dulu lahap tulisan itu baru lanjut baca essay ini. Caranya gampang, scrool saja akun media sosial […]

  • DPRD Halmahera Barat Bentuk Pansus RSUD Jailolo, F. Glen Balatjai: Tak Ada Lagi yang Ditutup-tutupi

    DPRD Halmahera Barat Bentuk Pansus RSUD Jailolo, F. Glen Balatjai: Tak Ada Lagi yang Ditutup-tutupi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Jailolo (BALENGKO) – DPRD Kabupaten Halmahera Barat resmi membentuk Panitia Khusus (Pansus) RSUD Jailolo dalam rapat paripurna, Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil untuk menelusuri berbagai persoalan yang mencuat, mulai dari pelayanan hingga pengelolaan rumah sakit. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Halmahera Barat, F. Glen Balatjai, mengapresiasi seluruh fraksi yang telah bersepakat hingga pansus terbentuk. “Ini […]

  • Korban Kecelakaan di Morotai Mengaku Ditekan Saat Teken Surat Damai, Kaki Terancam Infeksi

    Korban Kecelakaan di Morotai Mengaku Ditekan Saat Teken Surat Damai, Kaki Terancam Infeksi

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 481
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI — Seorang ibu rumah tangga berinisial CMB, warga Kabupaten Pulau Morotai, mengalami patah kaki serius setelah diduga ditabrak sepeda motor yang dikendarai seorang oknum anggota polisi berinisal AS (24/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIT. Kecelakaan tersebut terjadi di pertigaan depan Kantor Samsat Daruba, tepatnya di depan Toko Haji Murni. Saat itu, korban baru […]

  • HMI Ali Maksum Universitas Alma Ata Kutuk Keras Aksi Brutal Oknum Brimob di Tual yang Menewaskan Pelajar

    HMI Ali Maksum Universitas Alma Ata Kutuk Keras Aksi Brutal Oknum Brimob di Tual yang Menewaskan Pelajar

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 254
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA (BALENGKO), 21 Februari 2026 – Ketua HMI Komisariat Ali Maksum Universitas Alma Ata Yogyakarta, M. Asril Sermaf, mengecam keras dugaan penganiayaan oleh oknum anggota Brimob berinisial Bripda MS yang menyebabkan tewasnya Arianto Tawakal (14), seorang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs) di Kota Tual, Maluku. Peristiwa tragis yang terjadi pada Kamis (19/2) pagi tersebut bermula […]

expand_less