AKU MENEMUKAN TUHAN LEWAT NDP
- calendar_month Ming, 23 Nov 2025
- visibility 1.154
- comment 0 komentar
Aku menemukan Tuhan bukan di mimbar yang gaduh, melainkan di simpul tajam antara iman, ilmu, dan amal. Di situlah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam menyalakan makna tauhid sebagai pusat gravitasi, kemanusiaan sebagai medan kerja, dan keadilan sosial sebagai faktor gerakan. Jika di baca dengan amat teliti NDP memiliki tiga poin penting yang perlu dipahami, yaitu monoteisme, individu, sosial-kemanusiaan, dari tiga hal inilah NDP sebagai mesin peradaban yang mendorong kedewasaan beragama dan keterbukaan lintas iman. Hal serupa yang di uraikan oleh Wahyuni dalam penelitinnya. Di titik inilah NDP menjadi strategi dan kerangka nilai yang membebaskan kader HMI dari mentalitas inferior menuju gerakan pembebasan.
Filsafat Islam menyediakan pisau bedah bagi pembaca NDP. Jika di baca dengan kerangka filsafat Islam, tauhid sebagai prinsip paling dasar dalam Islam, tidak hanya ungkapan teologi semata, justru lebih dari itu. Maka tauhid bila dibaca secara serius selalu mengandung dimensi pembebasan yang paling radikal. Anda bisa memungkinkan untuk memahami bahwa pernyataan “Tiada Tuhan Selain Allah” bukan hanya kalimat ikatan dengan Islam, tetapi juga deklarasi menolak atas segala bentuk penindasan, dan tidak ada otoritas yang berhak menundukan manusia secara mutlak selain Tuhan.
Maka tauhid bukan proposisi beku melainkan etika radikal yang meruntuhkan segala “berhala” kekuasaan, identitas, dan kepentingan yang menuntut kepatuhan di luar Yang Esa. Olehnya itu, “radikal” di sini bukan tindakan fanstisme agama, tetapi kembali ke akar keesaan yang menolak kultus golongan.
Saya melihat Nurcholish Madjid melalui NDP menerjemahkan ini ke praksis kader, untuk menghubungkan antara iman yang berpikir, ilmu yang beramal, dan amal yang membebaskan. Pada saat yang sama NDP bukan dogma baru, melainkan hermeneutika imajinatif yang bergerak atas Al-Qur’an dan Sunnah dalam horizon keIndonesiaan.
Secara historis kelahiran HMI pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta, menandai bahwa tauhid tidak saja dimaknai sebagai identitas hamba dengan Tuhan yang diikat dalam etika agama, tetapi menurut saya Lafran Pane sadar betul bahwa tauhid harus keluar dipertaruhkan sebagai tenaga kemerdekaan dalam kerangka perjuangan yang diaktualisasikan lewat pemuda Islam (HMI), bukan sekadar identitas seremonial.
Untuk itu NDP bukan hanya menjadi kurikulum wajib perkaderan, tetapi melalui NDP menuntun kader membaca Indonesia, juga melihat posisi umat Islam dan HMI di tengah pergulatan konflik global yang tidak menentu saat ini. Pada satu bagian penting dalam isi NDP tentang konsep “Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir)” dari bagian inilah terlihat jelas bahwa kebebasan manusia bukan dorongan nafsu untuk bertindak, melainkan kesanggupan moral dalam ikhtiar menuju dihadapan ketetapan Tuhan.
Meskipun NDP pernah diubah dan diperdebatkan dalam percakapan besar kader HMI, hal ini menunjukkan NDP hidup, dan ketika Kongres XXVII PB HMI di Depok (2010) mengembalikan NDP ke versi Cak Nur, itu bukan nostalgia, melainkan kritik epistemik terhadap formalisme yang mematikan daya kritis iman. Pada aspek praksis, riset Heryati & Rusdiana, 2018, menunjukkan NDP bekerja sebagai etos gerakan moral yang menolak ketidakadilan, menjaga damai, dan mengawal reformasi dan juga sebuah jihād al-nafs kolektif melawan korupsi dan kemunafikan struktural.
Di sini saya menemukan Tuhan bukan “di luar” sejarah, melainkan di dalam nalar yang bertauhid. NDP memaksa akal menyeberang dari sekadar benar-doktrinal ke benar-politik yakni adil. NDP menolak dua ekstrim radikal-religiositas yang memutihkan tirani dan aktivisme yang memerah tanpa pusat etik. Dengan memadukan ontologi tauhid dan antropologi khalifah, NDP menempatkan manusia sebagai subjek berpengetahuan yang memilih dan bertanggung jawab atas ilmu sebagai aql, amal sebagai adl. Ini sebabnya, NDP bukan “ilmu kaderisasi”, tetapi ilmu membongkar berhala, berhala fanatisme dalam beragama, fanatisme mazhab yang tidak menerimah pendapat orang lain, berhala angka indeks pembangunan yang tak menyentuh kebutuhan publik, berhala politik identitas yang menukar tauhid menjadi slogan, dan berhala menjual HMI kepada kekuasaan atas kepentingan perut dan mengabaikan tujuan Islam (komitmen keIslaman dan komitmen keIndonesiaan).
Sederhana saja saya katakan, jika Tuhan tidak lagi kita temukan dalam keberpihakan pada yang rintihan migran yang diusir, pekerja yang dieksploitasi, hak warga negara tidak diberikan, perampasan ruang hidup oleh negara-oligarki kepada rakyat kecil, dan bumi yang rusak atas kerakusan kekuasaan, mereka yang lapar di persimpangan jalan. Pada saat yang sama Islam menuntut kita untuk berpihak kepada mereka.
Maka secara tegas, kita tak sedang bertauhid, hanya sedang bersekutu dengan berhala-berhala baru. Dengan demikian, NDP menantang kita untuk membaca kembali agama dengan kekuatan logika, filsafat dan argumentasi yang rasional, untuk merumuskan ijtihad sosial. Karena itu NDP harus diajarkan bukan sebagai “kitab suci organisasi”, tetapi sebagai disiplin berpikir yang selalu siap diuji oleh realitas dan dikoreksi oleh nas-nas yang lebih terang.
Menemukan Tuhan lewat NDP karena ada ikatan yang transenden pada yang imanen-iman yang memerintah nalar, nalar yang menuntun amal, dan amal yang menguji iman. Di titik temu itulah teologi menjadi etika publik, dan etika publik kembali menjadi doa dan perlawanan.
- Penulis: Muhammad Asmar Joma
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Heryati, & Rusdiana, Y. T. (2018). Implementasi Nilai Dasar Perjuangan HMI terhadap pembinaan kader HMI Kota Palembang. Jurnal HISTORIA, 6(1), 29–44. -Wahyuni, D. (2017). Nilai-nilai dasar perjuangan HMI: Suatu ikhtiar mewujudkan kerukunan hidup umat beragama di Indonesia. Jurnal Ilmu Agama, 17(2), 157–166.

Saat ini belum ada komentar