Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Fenomena Surplus Perawat: Saat Jurusan Favorit Justru Jadi Jalan Terjal

Fenomena Surplus Perawat: Saat Jurusan Favorit Justru Jadi Jalan Terjal

  • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
  • visibility 1.403
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tenaga kesehatan memegang peran penting dalam menunjang kehidupan bernegara. Bidang ini mencakup berbagai profesi, mulai dari kesehatan lingkungan, kesehatan masyarakat, dokter, analis kesehatan, gizi, farmasi, bidan, hingga perawat dan masih banyak lagi yang penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu.

Di antara profesi tersebut, sebagian besar orang tua menjadikan perawat sebagai salah satu jurusan favorit untuk anak mereka. Mereka percaya bahwa perawat memiliki masa depan cerah dan lebih cepat diterima di dunia kerja. Hampir semua kampus kesehatan membuka jurusan keperawatan untuk memenuhi minat itu. Namun, di balik keyakinan tersebut, tersembunyi fakta yang sering luput dari perhatian: fenomena surplus perawat.

Surplus perawat terjadi ketika jumlah lulusan keperawatan jauh melampaui kebutuhan lapangan kerja. Akibatnya, banyak perawat kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.

Di kutip dari situs resmi PPNI Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 1,2 juta perawat terdaftar. Setiap tahun, lebih dari 60 ribu perawat baru memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perawat di Indonesia pada 2023 mencapai 582.023 orang, sementara menurut BPS pada tahun 2023 Maluku Utara sendiri memiliki 4.384 perawat. Jumlah itu jelas tidak sebanding dengan kebutuhan tenaga perawat di lapangan maupun kapasitas fasilitas kesehatan.

Kondisi ini mendorong banyak perawat bekerja di luar bidang medis atau merantau ke luar negeri. Beberapa faktor utama penyebabnya antara lain:

  1. Distribusi tenaga kerja tidak merata dan lapangan pekerjaan terbatas.
  2. Kurikulum pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
  3. Beban kerja berat dengan kondisi kerja yang tidak ideal.
  4. Upah rendah dibandingkan dengan tanggung jawab yang mereka emban.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dampak Pembukaan Lahan di Kalimantan Barat Play Button

    Hutan Adat Terancam? Menimbang Dampak Pembukaan Lahan di Kalimantan Barat

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Pembukaan lahan terus menjadi isu yang diperbincangkan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat. Di satu sisi, aktivitas ini dianggap mampu mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan juga menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan sosial, budaya, dan lingkungan mereka. Dalam episode podcast Balengko Space […]

  • Tunjangan DPRD Malut

    GP Ansor Tidore Kepulauan Minta Semua Pihak Hormati Proses Hukum Kasus Tunjangan DPRD Malut

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 235
    • 0Komentar

    TIDORE (BALENGKO) – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus, memberikan pernyataan resmi terkait dinamika hukum yang tengah berkembang di Maluku Utara. Ia mengingatkan pentingnya menempatkan penanganan dugaan persoalan tunjangan di DPRD Provinsi Maluku Utara periode 2019–2024 dalam koridor asas legalitas yang tepat. Dalam pernyataannya pada Selasa (17/2/2026), Jafar menegaskan bahwa […]

  • Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

    Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Rabbiul Nguna Nguna
    • visibility 936
    • 0Komentar

    Pendidikan sering kali dilekatkan pada perilaku baik dan terpuji. Karena itu, ketika seseorang memasuki dunia pendidikan formal baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ia kerap dicap sebagai pribadi baik. Terlebih lagi apabila seorang anak melanjutkan studi hingga perguruan tinggi, ia hampir pasti dianggap sebagai sosok paling bermoral dan berakhlak terpuji.

  • HMI Cabang Morotai Tolak Morofest: Pemda Dinilai Lebih Pilih Seremonial daripada Tangani Karhutla

    HMI Cabang Morotai Tolak Morofest: Pemda Dinilai Lebih Pilih Seremonial daripada Tangani Karhutla

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 135
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Morotai menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Pemerintahan Terpadu, Jalan Muhajirin Baru, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Kamis (15/10/2026). Massa aksi secara tegas menolak pelaksanaan Festival Morotai (Morofest) dan menyoroti berbagai permasalahan mendasar yang dinilai diabaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Koordinator Lapangan, Hasanudin Saba, […]

  • PW IKA PMII Maluku Utara menggelar bedah buku 'Rekam Jejak Menuju Perubahan PMII' karya Idhar Man Moti di Ternate. Kader didorong terus menulis dinamika pergerakan.

    Bedah Buku Rekam Jejak PMII, IKA PMII Malut Dorong Kader Aktif Menulis

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 443
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE – Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Maluku Utara sukses menggelar bedah buku bertajuk “Rekam Jejak Menuju Perubahan PMII” karya Idhar Man Moti. Kegiatan intelektual ini berlangsung khidmat di Rotasi Cafe, Kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate, Jumat (15/05/2026). Acara ini sengaja diinisiasi sebagai ruang refleksi bersama untuk […]

  • Santrany Sehe, SE (Ketua DPW GENINUSA Maluku Utara)

    Dari Sarung ke Pasar: Saatnya Santri Maluku Utara Jadi Penggerak Ekonomi Umat

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Santrany Sehe, SE (Ketua DPW GENINUSA Maluku Utara)
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober kerap diwarnai pemakaian sarung dan peci, pelaksanaan upacara bendera, serta peneladanan sejarah Resolusi Jihad. Namun, begitu seremoni usai, pertanyaan mendasar yang sepatutnya mengendap adalah: setelah perjuangan fisik era kemerdekaan, apa bentuk jihad santri hari ini? Di Provinsi Maluku Utara, jawabannya kian benderang: Jihad Ekonomi. Maluku Utara merupakan provinsi kepulauan […]

expand_less