Indeks Kebinekaan Sekolah Maluku Utara Melonjak, Abubakar Abdullah: Ini Prestasi Besar
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara Abubakar Abdullah bersama Gubernur Sherly meninjau sekolah. Source : Istimewa
Ternate (BALENGKO), 2 April 2026 – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengapresiasi capaian indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara yang berada di atas rata-rata nasional berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2025.
Menurut Abubakar, capaian indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari keberhasilan membangun karakter siswa yang inklusif dan toleran.
“Ini sangat menggembirakan. Kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Capaian ini menandai keberhasilan sekolah dalam membangun nilai kebinekaan,” ujarnya saat melakukan monitoring awal pembelajaran di SMA Negeri 4 Ternate, Rabu (1/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sofyan. Dari hasil pemantauan Rapor Pendidikan SMA Negeri 4 Ternate, sejumlah indikator seperti literasi, numerasi, kualitas pembelajaran, iklim inklusivitas, serta indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara berada pada kategori “hijau”.
Abubakar menegaskan bahwa capaian ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar sekolah semakin diminati masyarakat. Ia juga berharap data dalam Rapor Pendidikan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Meski demikian, ia menyoroti sejumlah aspek yang masih perlu dibenahi, seperti fasilitas penerangan ruang belajar, kebersihan toilet, serta pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, Abubakar menyebut seluruh jenjang SMA, SMK, dan SLB di Maluku Utara telah mencapai kategori hijau dalam indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara. Ia menilai capaian ini sebagai prestasi penting yang harus dijaga secara konsisten.
“Kami berharap seluruh sekolah terus mendorong tumbuhnya ekosistem kebinekaan, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan peran guru dan siswa sebagai teladan dalam membangun toleransi dan relasi sosial yang inklusif. Nilai-nilai kebinekaan yang diterapkan di sekolah, seperti hidup rukun tanpa membedakan latar belakang agama, harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Waktu di sekolah terbatas, hanya enam sampai tujuh jam. Karena itu, nilai kebinekaan harus terus dihidupkan di masyarakat. Guru dan siswa harus menjadi garda terdepan,” ujarnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, lanjutnya, akan terus melakukan monitoring dan evaluasi guna memastikan pembentukan karakter berbasis kebinekaan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan kehidupan sosial.
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar