Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » RADAR KAMPUS » “Alam & Manusia” di Living Law Art Stage: Seni sebagai Kritik Masyarakat Adat

“Alam & Manusia” di Living Law Art Stage: Seni sebagai Kritik Masyarakat Adat

  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 230
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA — Suasana penuh refleksi menyelimuti gelaran Living Law Art Stage, sebuah panggung seni yang melampaui batas estetika untuk menjadi medium kritik sosial yang tajam. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian publik adalah kolaborasi multidimensi bertajuk “Alam & Manusia”.

Karya orisinal dari Andika Budi Saputra ini dibawakan melalui aksi visual yang menggandeng rekan-rekan USHP, alumni UJB, serta seniman Lidwina Riestanti. Pertunjukan tersebut memadukan sastra, seni rupa, dan ekspresi teatrikal untuk menggambarkan relasi kompleks antara manusia dan alam yang kian tergerus oleh eksploitasi.

Simbol Badut dan Ironi Kekuasaan

Puncak ketegangan artistik muncul saat penampilan lukisan sosok badut dipamerkan di atas panggung. Simbol badut ini merepresentasikan tiga entitas besar: negara, korporasi, dan masyarakat adat. Melalui visual tersebut, para seniman menghadirkan ironi tentang bagaimana kekuasaan dan kepentingan ekonomi kerap “memainkan peran” di atas penderitaan, sementara masyarakat adat menjadi pihak yang paling terdampak.

Dalam setiap bait puisinya, Andika menyoroti perubahan drastis alam dari ruang hidup yang harmonis menjadi sekadar objek keuntungan tanpa henti. Kritik keras diarahkan pada negara yang dinilai abai, serta korporasi yang mengutamakan profit di atas keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal.

Hukum yang Hidup dalam Realitas Sosial

“Alam bukan untuk ditaklukkan,” menjadi pesan kuat yang menggema, mengingatkan audiens pada nilai-nilai masyarakat adat yang menjunjung tinggi keseimbangan hidup. Living Law Art Stage sendiri hadir sebagai ruang alternatif bagi mahasiswa hukum untuk mengekspresikan gagasan secara kreatif.

Kegiatan ini membuktikan bahwa hukum tidak hanya hidup dalam teks normatif di ruang kelas, tetapi juga berdenyut dalam realitas sosial, budaya, dan seni. Melalui panggung ini, tersampaikan pesan bahwa keadilan sejati adalah tentang keberpihakan kepada yang lemah, termasuk alam dan masyarakat adat yang sering kali terpinggirkan oleh arus industri. (BS)

  • Penulis: Redaksi Balengko Space
  • Editor: Redaksi BS

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengurus Wilayah Ansor Maluku Utara Gelar Rapat Persiapan Hari Lahir Gerakan Pemuda Ansor

    Pengurus Wilayah Ansor Maluku Utara Gelar Rapat Persiapan Hari Lahir Gerakan Pemuda Ansor

    • calendar_month Rabu, 9 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 725
    • 0Komentar

    Ternate, (9/4/25) – Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Maluku Utara menggelar rapat kedua dalam rangka mempersiapkan peringatan Hari Lahir GP Ansor. Rapat ini dilaksanakan di Sekretariat PW Ansor Maluku Utara dan dipimpin langsung oleh Ketua PW GP Ansor Maluku Utara, Syarif. Dalam arahannya, Syarif menyampaikan beberapa poin penting terkait agenda organisasi, antara lain: […]

  • Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

    Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Rabbiul Nguna Nguna
    • visibility 872
    • 0Komentar

    Pendidikan sering kali dilekatkan pada perilaku baik dan terpuji. Karena itu, ketika seseorang memasuki dunia pendidikan formal baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ia kerap dicap sebagai pribadi baik. Terlebih lagi apabila seorang anak melanjutkan studi hingga perguruan tinggi, ia hampir pasti dianggap sebagai sosok paling bermoral dan berakhlak terpuji.

  • Bela 11 Masyarakat Adat Maba Sangaji, LBH Ansor Susun Nota Keberatan dan Siap Ajukan Amicus Curiae

    Bela 11 Masyarakat Adat Maba Sangaji, LBH Ansor Susun Nota Keberatan dan Siap Ajukan Amicus Curiae

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 603
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE, 29 Juli 2025 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate menyampaikan sikap solidaritas dan keprihatinan atas proses hukum yang menimpa 11 warga adat Maba Sangaji, Kabupaten Halmahera Timur, serta seorang aktivis Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Kota Ternate. Mereka saat ini tengah diproses secara hukum terkait aksi penolakan […]

  • Negara dalam Cengkeraman Kapitalisme: Membaca Krisis Ekologis Indonesia

    Negara dalam Cengkeraman Kapitalisme: Membaca Krisis Ekologis Indonesia

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Zidni Ilman Warnangan
    • visibility 1.115
    • 0Komentar

    Krisis ekologis Indonesia hari-hari ini tidak dapat dipahami sebagai persoalan teknis dalam tata kelola lingkungan.

  • Album Ketiga, Gym dan Lari Bareng HipHop Run It : Transformasi Dewasa Penikmat Soto

    Album Ketiga, Gym dan Lari Bareng HipHop Run It : Transformasi Dewasa Penikmat Soto

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 455
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Instagram @penikmatsoto Dunia musik rap Indonesia selalu penuh dengan kejutan, dan salah satu nama yang sedang menjadi sorotan adalah Penikmat Soto, rapper asal Jakarta yang kini tengah sibuk mengerjakan album ketiganya. Dalam wawancara santai, ia berbagi cerita tentang perjalanan musik, kecintaannya pada kebugaran, hingga asal-usul nama panggungnya yang unik. Album Ketiga: Lebih […]

  • Source : Istimewa

    Penurunan Indeks Kerukunan dan Isu Provokatif Mencuat, Kader PMII D.I.Yogyakarta Desak Wagub Evaluasi dan Penguatan FKUB Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Yogyakarta (Balengko) – 1 April 2026 – Dinamika kerukunan umat beragama di Maluku Utara kembali menjadi sorotan, menyusul beredarnya dugaan narasi provokatif di ruang percakapan digital yang dinilai memicu keresahan di tengah masyarakat. Situasi ini memunculkan pertanyaan publik terhadap efektivitas peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Maluku Utara dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai penjaga […]

expand_less