Gurita ‘Bohir’ di Urat Nadi Demokrasi: Investasi Politik atau Perampokan APBN?
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 52
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut. Source : Istimewa
Makhluk ‘Bohir’ atau dalam istilah tekhniknya adalah kumpulan manusia oligarki—kerjanya hanya merampok kekayaan rakyat, merupakan sebuah istilah yang banyak dikenal di berbagai negara yang menganut sistem demokrasi. Hanya saja memang dalam ekosistem politik dimungkinkan kaum oligarki ini tumbuh subur dan begitu cepat merasuki urat nadinya calon-calon Presiden, DPR, DPD, DPRD serta calon-calon kepala daerah—Gubernur—Bupati—Walikota di Indonesia. Ekosistem ini harus di menej dan dikontrol secara baik oleh para pihak yang bercalon itu, dan pasti ada ‘Bohir’-nya. Karena negara yang menganut ekosistem Presidensial seperti Indonesia, makhluk ‘Bohir’ ini pasti ada saja yang ikut bermain dibelakangnya. Makhluk ‘Bohir’ itu sulit untuk dihilangkan kemaujudannya. Kenapa? Karena ekosistem pemilihan umum di Indonesia ada dua. Pertama pemilihan umum Presiden pasti ada “bohir’-nya. Kedua, pemilihan umum—DPR—DPD—DPRD juga pasti ada ‘Bohir’-nya. Dan, lebih-lebih pada pemilihan kepala daerah pasti banyak ‘Bohir’-nya.
Ekosistem oligarki ini—mengamankan kepentingan bisnisnya merupakan pressure group—kelompok penekan yang memiliki kepentingan—interest yang berbeda-beda pada suksesi proses pemilihan umum dalam rangka ikut menentukan pergantian pucuk kekuasaan di Indonesia. Jadi, kesalahan kita selama ini adalah seringkali memaknai ‘Bohir’ itu memiliki kepentingan yang sama. Padahal faktanya para ‘Bohir’ itu mereka saling berkompetisi, berlomba-lomba, saling sikut sana—sini dengan menawarkan investasi capitalnya ke banyak partai politik—pasangan calon. Dan, jangan lupa bahwa ‘Bohir’ juga ini tidak bodoh—bahlul dalam meletakkan investasi capitalnya dalam mengambil bagian pada proses pemilihan umum Presiden, DPR, DPD, DPRD dan pemilihan kepala daerah di Indonesia. Para ‘Bohir’ tidak akan meletakkan telur-telurnya di satu keranjang, melainkan telur-telur itu akan diletakkan ke dalam banyak keranjang. Dalam rangka untuk memastikan agar investasi capitalnya aman—telurnya tidak akan pecah sia-sia. Karena jika telur-telur itu diletakkan pada banyak keranjang, maka telur-telur itu akan aman—tidak akan busuk bahkan selanjutnya banyak melahirkan telur-telur baru.
- Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar