Dinilai Melecehkan Tarian Cakalele, KPMG-D.I.Yogyakarta Kecam Keras Konten Video Angga Darmawan dkk
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 66
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Umum KPMG-D.I.Yogyakarta, Sahrial Fabanyo
BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Kerukunan Pelajar Mahasiswa Galela Daerah Istimewa Yogyakarta (KPMG-D.I.Y) secara resmi melayangkan kecaman keras terhadap materi konten digital yang diproduksi oleh sejumlah kreator konten, yakni Angga Darmawan, Rahman Muhammad, dan Riski Saimama. Unggahan video yang beredar luas di platform Instagram tersebut memicu polemik lantaran dinilai telah melecehkan martabat kebudayaan Maluku Utara dengan menjadikan tarian adat Cakalele sebagai objek lelucon.
Ketua Umum KPMG-D.I.Y, Sahrial Fabanyo, menegaskan bahwa visualisasi kebudayaan dalam konten tersebut telah mencederai rasa hormat terhadap sakralitas warisan leluhur. Ia menjelaskan, tarian adat Cakalele bukan sekadar koreografi hiburan atau tarian perang biasa, melainkan sebuah simbol kehormatan, jiwa patriotisme, serta identitas sosial yang memuat nilai historis mendalam bagi masyarakat adat.
“Kami menegaskan dengan keras bahwa tarian budaya Cakalele jangan pernah dianggap remeh! Budaya merupakan identitas yang mempunyai nilai tersendiri dan harus dihormati oleh siapa pun. Menjadikannya sebagai bahan lelucon demi konten media sosial adalah bentuk kedangkalan berpikir dan tidak menghargai nilai kemanusiaan serta kebudayaan nusantara,” tegas Sahrial Fabanyo dalam rilis resminya, Rabu (24/06/2026).
Tiga Poin Tuntutan Organisasi
Sebagai representasi kolektif pelajar dan mahasiswa asal Galela yang tengah menempuh studi di Yogyakarta, KPMG-D.I.Y secara terbuka menyatakan tiga poin sikap dan tuntutan moral:
- Mengecam Keras: Mengutuk tindakan pembuatan konten kreatif oleh para oknum kreator yang dinilai merendahkan esensi luhur tarian adat Cakalele.
- Desakan Permintaan Maaf Terbuka: Menuntut pihak-pihak terkait untuk segera menghapus (take down) video tersebut dari seluruh jejaring platform digital serta menyampaikan permohonan maaf terbuka yang tulus kepada masyarakat adat.
- Pemberian Efek Jera: Mendesak adanya pertanggungjawaban moral yang konkret dari para pelaku agar insiden serupa tidak kembali terulang di masa mendatang, baik terhadap kebudayaan Maluku Utara maupun budaya daerah lainnya di Indonesia.
Sahrial Fabanyo juga mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para kreator konten dan figur publik nasional, untuk lebih bijak, dewasa, dan beretika dalam mengadopsi unsur-unsur kedaerahan ke dalam ruang kreatif. Ruang media sosial sejatinya dimanfaatkan sebagai wadah edukasi untuk merawat khazanah kebudayaan bangsa, bukan panggung komedi yang mengorbankan identitas kesukuan.
Pelaku Telah Rilis Video Klarifikasi
Pantauan terbaru redaksi di media sosial, pasca-mencuatnya gelombang protes dari berbagai elemen pemuda dan organisasi masyarakat adat Maluku Utara, pihak Angga Darmawan bersama rekan-rekannya diketahui telah mengunggah video klarifikasi resmi.
Dalam unggahan tersebut, para kreator konten ini menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat adat Maluku Utara, mengakui kekeliruan mereka dalam mengemas materi konten, serta berkomitmen untuk menurunkan (take down) video yang menjadi sumber polemik demi menjaga situasi tetap kondusif.
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Balengko Creative Media
- Sumber: Rausan

Saat ini belum ada komentar