Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”
- calendar_month Kamis, 11 Des 2025
- visibility 618
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber Foto: Istimewa
Pendidikan sering kali dilekatkan pada perilaku baik dan terpuji. Karena itu, ketika seseorang memasuki dunia pendidikan formal baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ia kerap dicap sebagai pribadi baik. Terlebih lagi apabila seorang anak melanjutkan studi hingga perguruan tinggi, ia hampir pasti dianggap sebagai sosok paling bermoral dan berakhlak terpuji.
Sebaliknya, anak yang tidak pernah mengecap pendidikan formal, bahkan sekadar SMA, biasanya langsung diberi label sebagai anak kurang ajar atau berakhlak buruk. Apalagi jika ia tidak pernah bersekolah di SMP atau SD, ia sering dimarginalkan, dianggap tidak berguna, dan diposisikan selalu salah. Jika terjadi suatu masalah, dialah yang pertama disalahkan. Dan bila ia benar-benar berbuat salah, kita dapat membayangkan betapa berat stigma yang harus ia tanggung.
Cara pandang seperti ini telah menjadi kebenaran yang diyakini masyarakat. Mereka beranggapan bahwa untuk menjadi orang baik, seseorang harus berpendidikan, dan semua orang berpendidikan pasti baik tanpa mempertimbangkan jenis pendidikan, proses, maupun nilai apa yang sebenarnya membentuk pribadi manusia.
Padahal paradigma bahwa pendidikan adalah kunci mutlak bagi kebaikan seseorang adalah bentuk pembodohan yang nyata. Bila kita menilik sejarah bangsa Arab pra-Islam, banyak dari mereka yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Namun masa itu tetap disebut sebagai Zaman Jahiliyah atau “Zaman Kebodohan.” Mengapa disebut demikian? Karena meski mereka berpengetahuan, mereka tidak memiliki akhlakul karimah akhlak yang mulia.
Oleh sebab itu, pendidikan tidak boleh dijadikan jaminan bahwa seseorang atau kelompok pasti mampu berperilaku manusiawi. Sikap menghargai dan menjaga sesama harus tumbuh dari dalam diri, dibangun melalui pembiasaan, dan menjadi pondasi utama dalam kehidupan.
Nilai humanis harus ditanamkan sejak dini, sebab pendidikan setinggi apa pun tanpa akhlak yang kokoh hanya menghasilkan kehampaan. Pendidikan bahkan dapat menjadi wadah lahirnya orang-orang jahil, atau justru dimanfaatkan orang jahil untuk memarginalkan kelompok lain, mengeksploitasi, bahkan mendiskriminasi.
“Jangan berteman dengan dia, dia itu tidak sekolah.”
Ungkapan semacam ini lazim diucapkan lintas generasi. Orang yang tidak sekolah dianggap berbahaya dan harus dijauhi. Padahal tanpa kita sadari, banyak pula orang jahil yang justru lahir dari dunia pendidikan sebut saja para koruptor. Mereka adalah orang-orang terdidik, lulusan perguruan tinggi, namun ilmu yang mereka miliki digunakan untuk menciptakan kerusakan. Mereka bukan hanya jahil terhadap sesama manusia, melainkan juga jahil terhadap seluruh alam.
Alam adalah paru-paru bumi, tempat seluruh makhluk bergantung. Maka menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Namun realitasnya justru berbalik, hutan dibabat habis, alam dieksploitasi tanpa batas. Padahal hutan adalah tempat perlindungan makhluk hidup. Ketika hutan musnah, manusia pun menanggung akibatnya banjir, kerusakan ekosistem, dan berbagai bencana lain yang mengancam keberlangsungan hidup.
Menurut Aristoteles, manusia adalah zoon politicon makhluk yang selalu hidup dan bekerja sama. Dalam kajian biologi, manusia terdiri dari organ-organ yang saling terhubung, sebagaimana dalam kehidupan sosial, manusia adalah bagian dari manusia lainnya. Artinya, manusia tidak dapat hidup sendiri. Seorang bayi saja membutuhkan ibu untuk hadir ke dunia.
Sutan Sjahrir bahkan mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bersifat sosialis atau setidaknya cenderung demikian.
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa kecerdasan atau kepintaran yang diperoleh melalui pendidikan baik pendidikan keluarga, lingkungan, masyarakat, maupun sekolah bukanlah tolok ukur utama kebaikan seseorang.
Kebaikan seseorang tampak dari sejauh mana ia berguna bagi orang lain, mampu menjaga ucapan, serta memperhatikan tindakannya. Allah Swt. Dalam Surah At-Tin (95): ayat 4:
(Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya).
Manusia paling baik di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
“Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula potensi kezaliman yang dapat ia lakukan apabila tidak disertai akhlak al-karimah—akhlak yang terpuji”.
- Penulis: Rabbiul Nguna Nguna
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar