Resmi dilantik, Pengurus HIMAIT Universitas Alma Ata Berkomitmen Kawal Isu Ruang Hidup Masyarakat Adat di Indonesia Timur
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 54
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jajaran pengurus HIMAIT Universitas Alma Ata periode 2026-2027 saat mengambil sumpah jabatan dalam prosesi pelantikan di Balecatur, Sleman, Sabtu (27/6/2026). (Dok. Balengko Space)
BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Himpunan Mahasiswa Indonesia Timur Universitas Alma Ata Yogyakarta (HIMAIT) resmi memulai babak baru kepengurusan. Prosesi pelantikan pengurus periode 2026-2027 tersebut berlangsung khidmat di Kantor Kelurahan Balecatur, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta, pada Sabtu (27/06/2026).
Mengangkat tema besar “Saling Merangkul dalam Kebersamaan untuk Organisasi yang Kuat dan Maju”, agenda ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang merepresentasikan berbagai organisasi internal maupun eksternal kampus. Tak hanya itu, pelantikan ini juga turut dihadiri oleh perwakilan berbagai himpunan pelajar mahasiswa Indonesia Timur dari lintas kampus yang tersebar di Yogyakarta.
Dalam prosesi tersebut, Almizan Orowola resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum didampingi Muhammad Ikmal sebagai Wakil Ketua Umum. Duet kepemimpinan baru ini menggantikan pasangan Afif Sahli Buton dan Muhammad Kevin Sarkol yang bertindak sebagai ketua dan wakil ketua demisioner periode 2025-2026. Hingga saat ini, wadah kekeluargaan mahasiswa Indonesia Timur di Alma Ata ini tercatat menaungi sekitar 130 anggota aktif dari berbagai program studi.
Implementasi Semboyan Hidup di Perantauan
Dalam pidato sambutannya mewakili jajaran pengurus baru, Wakil Ketua Terpilih Muhammad Ikmal menekankan pentingnya komitmen kekompakan dan keaktifan dari seluruh elemen anggota. Menyadari posisi kolektif sebagai anak rantau di Yogyakarta, ia berharap ikatan kekeluargaan di internal organisasi dapat diresapi secara mendalam.
“Potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa katong samua basudara. Semboyan ini tidak boleh hanya sekadar menjadi slogan atau kata-kata manis belaka, melainkan wajib diwujudkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak HIMAIT. Kita harus saling peduli, peka, dan menyayangi satu sama lain,” cetus Muhammad Ikmal emosional.
Suasana pelantikan kian bermakna dengan kehadiran jajaran pendiri organisasi, salah satunya Musta. Mahasiswa tingkat akhir Universitas Alma Ata Yogyakarta yang akrab disapa Kaka Musta tersebut kini mengemban amanah sebagai Dewan Pengawas Organisasi. Dalam arahannya, Musta yang juga sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Timur Universitas Alma Ata Yogyakarta menggarisbawahi bahwa rahim berdirinya HIMAIT didasarkan sepenuhnya pada rasa senasib sepenanggungan.
“Semua mahasiswa yang berasal dari Indonesia Timur di Universitas Alma Ata Yogyakarta adalah bagian utuh dari HIMAIT. Jangan pernah merasa asing, sekalipun kalian jarang berkumpul karena padatnya kesibukan akademik kampus. Kesibukan bukan berarti kalian menjadi asing lalu mengabaikan rumah sendiri,” tutur Musta.
Asah Soft Skill dan Kepekaan Isu Daerah
Lebih lanjut, Musta memantik daya kritis para pengurus baru agar tidak menutup mata terhadap dinamika sosiologis yang tengah melanda tanah kelahiran mereka di bagian timur nusantara, khususnya mengenai benturan ruang hidup dan kedaulatan adat.
“Akhir-akhir ini wilayah Indonesia Timur terus menjadi sorotan nasional. Mulai dari isu lingkungan pelik yang menyangkut operasional industri pertambangan yang merampas hak-hak serta ruang hidup masyarakat adat, hingga isu kesejahteraan sosial yang belum terdistribusi merata. Saya berharap seluruh anggota himpunan semakin peka, kritis, dan peduli terhadap isu-isu krusial tersebut, kajian-kajian serta diskusi harus terus diadakan” pungkasnya tegas.
Sebagai informasi, HIMAIT Universitas Alma Ata pertama kali diinisiasi dan didirikan pada tahun 2024. Kepengurusan anyar ini merupakan generasi angkatan ketiga dengan persebaran anggota serta alumni yang mencakup wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.
Selain menjadi ruang bernostalgia kedaerahan, organisasi ini didesain sebagai laboratorium inkubasi bakat mahasiswa di luar ruang kuliah formal. Anggota digembleng untuk menguasai berbagai keterampilan sekunder (soft skill) penunjang dunia kerja, mulai dari kemampuan berbicara di depan publik (public speaking), pemecahan masalah (problem solving), seni sastra, hingga literasi menulis. Melalui bekal tersebut, restrukturisasi SDM Indonesia Timur diharapkan mampu bersaing secara global pascakelulusan, sekaligus membangun jejaring alumni yang solid untuk saling membesarkan.
(BS/Red)
- Penulis: Musta
- Editor: Tim Redaksi Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar