Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » LOKAL UPDATE » Negara Bertembok Beton, Bertiang Bambu

Negara Bertembok Beton, Bertiang Bambu

  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 339
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Indonesia hari ini menyerupai sebuah bangunan raksasa. Dari luar, ia tampak kokoh: tembok-temboknya terbuat dari beton tebal, berdiri tinggi dan menjulang. Jalan tol membentang, gedung pemerintahan menjamur, proyek strategis nasional digulirkan, dan regulasi diproduksi hampir tanpa jeda. Namun siapa pun yang berani masuk dan menyentuh bagian dalam bangunan itu akan merasakan getarannya. Bangunan ini memang bertembok beton, tetapi bertiang bambu ringkih, lapuk, dan mudah patah.

Negara tampak kuat secara visual, tetapi rapuh secara substansial.

Tembok beton itu adalah simbol kekuasaan negara: proyek pembangunan, tumpukan undang-undang, izin investasi, dan perangkat koersif yang menyertainya. Ia dibangun dengan logika percepatan dan pertumbuhan, dengan ukuran keberhasilan yang disederhanakan menjadi angka dan grafik. Sementara tiang bambu yang seharusnya menopang bangunan adalah keadilan, etika kekuasaan, kejujuran hukum, dan kepercayaan publik. Sayangnya, bagian inilah yang paling jarang dirawat.

Negara sibuk menuang beton, tetapi lupa memperkuat tiang.

Kondisi ini terlihat paling jelas dalam praktik hukum. Secara formal, Indonesia memiliki sistem hukum yang lengkap, bahkan berlebihan. Peraturan datang bertubi-tubi, revisi undang-undang menjadi rutinitas, dan negara tampak sangat aktif mengatur. Namun di tingkat pengalaman warga, hukum kerap kehilangan makna keadilan. Ia terasa tegas ke bawah, tetapi longgar ke atas. Pelanggaran kecil cepat diproses, sementara pelanggaran besar sering berakhir kabur. Negara tampak berwibawa secara normatif, tetapi compang-camping secara moral.

Hukum akhirnya berdiri seperti tembok beton: dingin, keras, dan menjauh dari rasa keadilan masyarakat. Sementara bambu nurani yang seharusnya memberi kelenturan dan arah dibiarkan rapuh.

Demokrasi pun mengalami nasib serupa. Dari sisi prosedur, demokrasi Indonesia masih berjalan. Pemilu diselenggarakan, lembaga perwakilan bekerja, dan konstitusi terus dirujuk. Namun secara substantif, demokrasi makin kehilangan ruh deliberasi. Keputusan publik lebih sering lahir dari ruang sempit elite ketimbang dari percakapan luas warga. Partisipasi rakyat direduksi menjadi angka kehadiran, bukan kualitas gagasan.

  • Penulis: Rahmat Rajak Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TARA NO ATE;  MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

    TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

    • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.034
    • 0Komentar

    Perintah wahyu Iqra’ (bacalah) merupakan peradaban literasi pertama kali yang tertuju kepada Nabi Muhammad Saw dalam rangka menghidupkan spirit rohaniyyah untuk membangun desain program peradaban manusia dan alam semesta, amar atau perintah “membaca” sarat dengan aneka ragam makna yaitu, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah tanda-tanda alam, tanda-tanda zaman, membaca fakta sejarah, mengenal diri sendiri, […]

  • KH. Sarbin Sehe Langsung Tinjau Jamaah Haji Sakit di Makassar, Dinyatakan Siap Terbang ke Tanah Suci Play Button

    KH. Sarbin Sehe Langsung Tinjau Jamaah Haji Sakit di Makassar, Dinyatakan Siap Terbang ke Tanah Suci

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • account_circle Balengko Space
    • visibility 852
    • 0Komentar

    Makassar (balengkospace.com) – Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, mengunjungi jamaah haji asal Maluku Utara yang mengalami sakit saat transit di Makassar. Kunjungan berlangsung di Asrama Haji Sudiang, Jumat (9/5/2025) pukul 09.30 WITA. Tim medis menyatakan jamaah tersebut telah pulih dan dinyatakan siap berangkat ke Tanah Suci sesuai jadwal yang ditetapkan. Usai memastikan kondisi […]

  • Ilustrasi : Source : Istimewa

    JALUR ENERGI, DOLAR, DAN HEGEMONI: IRAN DAN AS MEMPENGARUHI EKONOMI ASIA PASIFIK

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Fahri Sibua Magister Akuntansi
    • visibility 672
    • 0Komentar

    Ketegangan geopolitik yang sudah berlangsung lama antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya menciptakan gejolak di Timur Tengah, tetapi juga menimbulkan dampak yang jauh lebih luas terhadap perekonomian global, khususnya kawasan Asia Pasifik. Persaingan antara kedua negara ini bukan sekadar persoalan diplomasi atau pertikaian politik semata, melainkan merupakan perjuangan terbuka untuk menguasai jalur-jalur energi vital […]

  • Solusi Digital Containder Atasi Sampah dari Hulu ke Hilir

    Solusi Digital Containder Atasi Sampah dari Hulu ke Hilir

    • calendar_month Sabtu, 22 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 1.155
    • 0Komentar

    Dok. Balengko Space Ternate, 22 Februari 2025 – Ciko Molle, Operation Manager dari Containder, melakukan kunjungan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Ternate di Kecamatan Ternate Barat hari ini. Dari kejauhan, tumpukan sampah yang semakin menggunung menyambut kedatangan tim. Ciko menegaskan, masalah sampah harus segera ditangani secara serius agar tidak menjadi boomerang di masa depan. […]

  • Source : Istimewa

    Ketua GP Ansor Haltim: Polemik Tunjangan DPRD Malut Harus Disikapi Objektif, Hindari ‘Trial by Opinion’

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 374
    • 0Komentar

    HALMAHERA TIMUR (BALENGKO) – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Halmahera Timur, Julkarnain Rajak, angkat bicara mengenai polemik tunjangan DPRD Provinsi Maluku Utara yang kini tengah ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara. Julkarnain menegaskan bahwa supremasi hukum harus ditegakkan di atas landasan yang objektif, bukan dibentuk oleh desakan opini publik. Ia meminta semua […]

  • Sumber Foto: porostimur.com

    HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Joma
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Ada masa ketika bendera hijau-hitam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkibar bukan sekadar kain simbol, tapi api kesadaran. Dari sekretariat sempit di Yogyakarta tahun 1947, Lafran Pane menyalakan obor gerakan intelektual Islam yang menolak kejumudan dan kolonialisme. HMI lahir bukan dari ruang nyaman, tapi dari kebutuhan eksistensial bangsa, mencerdaskan umat, memperjuangkan keadilan, dan menggabungkan iman dengan […]

expand_less