Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dari Iman ke Revolusi: Palestina sebagai Simbol Perlawanan Global

Dari Iman ke Revolusi: Palestina sebagai Simbol Perlawanan Global

  • calendar_month Senin, 14 Apr 2025
  • visibility 1.359
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Di tengah gempuran Israel dan dukungan sekutunya, Palestina berdiri di tanah yang diduduki sebagai simbol yang pantang menyerah. Sebuah cerminan dari perjuangan yang dilakukan oleh Palestina sebagai gerakan perlawanan melawan penindasan dan ketidakadilan, ini bukan hanya konflik politik dan teritorial tetapi simbol yang melampaui semua itu. Semangat revolusioner merembes ke dalam jiwa dalam setiap gerakan perjuangan melawan penindasan dan hegemoni global. Jika dilihat secara radikal, Palestina tidak hanya memicu perlawanan fisik tetapi juga menginspirasi nilai-nilai Islam sebagai kompas moral yang membimbing iman, yang bukan sekadar dogma tetapi ajaran agama yang tetap teguh bahkan dalam kesulitan.

Palestina bukan hanya wilayah yang dijajah, juga bukan hanya tanah yang telah direbut, sebaliknya, itu adalah luka yang terus melekat di hati setiap individu yang memahami arti perjuangan. Palestina telah menjadi pusat revolusi di permukaan dunia, sebuah keyakinan yang bukan hanya masalah spiritualitas tetapi telah menjadi bahan bakar untuk revolusi yang tak kenal lelah. Iman bukan hanya keyakinan pribadi yang menghubungkan dunia spiritual dan dunia nyata tetapi lebih dari itu. Iman adalah kekuatan pendorong yang secara kolektif memotivasi jutaan orang Palestina untuk berjuang, bertahan, dan berjuang melawan ketidakadilan yang berkepanjangan.

Hasan Hanafi, dalam “Akidah ke Revolusi” memberikan peringatan keras bahwa agama dan iman tidak boleh menjadi alat tunduk pada tirani sebaliknya, agama dan iman harus menjadi kekuatan revolusioner dalam membebaskan berhala yang merebut jiwa. Sistem kepercayaan harus berubah menjadi kekuatan politik yang mendorong perubahan sosial yang nyata.

Sebagai simbol perlawanan global, Palestina menunjukkan bahwa keyakinan dan yang mendalam pada prinsip-prinsip moral yang tinggi dapat menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menggulingkan penindasan dan memperjuangkan kebebasan dan keadilan di dunia. Untuk memahami revolusi perlawanan Palestina dari nilai-nilai Islam yang telah menjadi ideologi perlawanan yang berakar pada agama (Aqidah) hingga perjuangan revolusioner yang lebih luas, perlu diperiksa bagaimana unsur agama dan politik berinteraksi dalam konteks konflik yang sedang berlangsung di Palestina. Kompleksitas identitas Palestina, dikombinasikan dengan ketidakadilan historis yang dialami selama beberapa dekade, sangat penting untuk mengkonseptualisasikan Palestina sebagai simbol perlawanan global terhadap penindasan, terutama dalam perjuangannya melawan kolonialisme dan militerisasi Israil dan sekutunya Amerika Serikat.

Perlawanan selalu teradi di Palestina dengan narasi agama yang sebagian besar didasarkan pada pandangan Islam. Relevansi agama dari situs-situs seperti Al-Quds (Yerusalem) telah menjadi penentu utama identitas dan perlawanan Palestina. Perjuangan untuk melestarikan tempat-tempat suci ini tidak hanya bersifat budaya tetapi juga terletak dalam kerangka teologis yang lebih besar di mana pelestarian tradisi agama seseorang dianggap sebagai kewajiban ilahi (Nasie and Bar‐Tal 2012; Rock‐Singer 2024). Seperti yang ditekankan dalam literatur yang menghubungkan keyakinan agama dengan sentimen nasional di kalangan pemuda dan komunitas Palestina, kerangka Iman ini yang pada dasarnya merupakan aspek kunci dari ajaran agama telah menjadi penting dalam memotivasi tindakan kelompok.

Selain itu, cara media menyajikan subjek agama ini telah berubah drastis. Analisis komparatif sumber media Palestina oleh (Awais 2024), mengungkapkan betapa berbedanya mereka meliput perlawanan. Menekankan konsep kewajiban agama, televisi Palestina mempromosikan pentingnya melestarikan tempat-tempat suci dan bangsa itu sendiri. Ini bukan hanya pernyataan afiliasi tetapi juga seruan untuk mobilisasi politik yang lebih luas, sehingga menunjukkan bahwa konsep agama terkait erat dengan perjuangan nasional.

Beberapa kegiatan kelompok-kelompok Palestina membantu menunjukkan pergeseran dari perspektif perlawanan yang dibentuk oleh agama ke sikap revolusioner yang lebih berfokus pada politik. Faktor lokal dan global jelas mempengaruhi strategi yang digunakan oleh kelompok-kelompok seperti Hamas, yang awalnya menggabungkan retorika agama dengan aksi militan, menjadi semakin canggih secara politik (Alsoos 2021). Gerakan ini mewakili kesadaran akan perlunya beradaptasi dalam lingkungan sosial-politik yang sangat kompleks di mana sentimen lokal dan internasional secara signifikan memengaruhi perilaku. Penekanan dari narasi perlawanan ini adalah konsekuensi sosio-psikologis dari peperangan berkepanjangan, yang telah mengakibatkan perubahan signifikan dalam identitas masyarakat dan mekanisme penanggulangan.

Pada akhirnya perjalanan dari Akidah menuju cita-cita revolusioner mencerminkan permadani keyakinan, ingatan kolektif, dan strategi adaptif yang kompleks yang terjalin melalui perjuangan selama beberapa dekade. Interaksi yang kompleks ini menyoroti semangat tangguh rakyat Palestina, yang terus mencari keadilan, pengakuan, dan kedaulatan di dunia yang seringkali acuh tak acuh terhadap penderitaan mereka. Dengan demikian, Palestina tetap menjadi simbol perlawanan global yang kuat, mewujudkan perjuangan yang lebih besar untuk martabat dan hak-hak melawan kekuatan zionis  dan penindasan.

Identitas kolektif dan agensi politik perempuan Palestina menggambarkan lapisan lain dalam perjuangan ini, di mana suara perempuan secara signifikan berkontribusi pada narasi perlawanan. Saat mereka terlibat secara mendalam dalam aktivisme lokal dan wacana internasional, perempuan menantang peran tradisional sambil mendefinisikan ulang perlawanan melalui lensa feminis (Thakore 2022).

Secara radikal ingin saya katakan perlawanan Palestina bukan hanya tentang pembebasan tanah dan hak atas negara mereka tetapi pembebasan jiwa yang secara fundamamental bertentangan dengan penjajahan yang menghancurkan martabat manusia. Saya kira ini alasan mengapa perjuangan Palestina tidak hanya  dipahami sebagai tuntutan politik. Perlawann Palestina adalah eksperesi keinginan untuk hidup dalam kebenaran yang sesuai dengan ajaran agama, yaitu keadilan, kebebasan dan kesetaraan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, nilai-nilai inilah yang saat ini rampas oleh kekuatan global yang berkuasa.

Secara keseluruhan akidah berfungsi sebagai kekuatan revolusioner yang menggerakkan perjuangan Palestina. Perjuangan yang didorong oleh akidah bukan hanya sekadar upaya merebut kembali tanah, tetapi lebih jauh lagi bahwa sebuah perjuangan untuk membebaskan umat manusia dari penjajahan yang lebih mendalam penjajahan terhadap martabat manusia. Akidah adalah dasar dari revolusi sosial yang melawan ketidakadilan.

*Doa Tangisan dan Perlawanan*

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Source : Istimewa

    Tuntut Penyelesaian Sengketa Lahan, Massa SMIT Desak Kementerian ESDM Cabut IUP PT Arumba Jaya Perkasa

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 105
    • 0Komentar

    JAKARTA, 13 Februari 2026 (BALENGKO) – Solidaritas Masyarakat Indonesia Timur (SMIT) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Jumat (13/2). Massa menuntut intervensi pemerintah pusat terkait sengketa pembebasan lahan yang melibatkan PT Arumba Jaya Perkasa di Desa Saramaake, Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Koordinator […]

  • Massa aksi BATOMA Jabodetabek membawa poster dan spanduk penolakan rasisme saat menggelar aksi di depan Komnas HAM RI, Jakarta.

    BATOMA Datangi KemenHAM dan Komnas HAM, Tuntut Negara Hentikan Rasisme terhadap Yakob dan Yance Sayuri

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Jakarta (BALENGKO) — Barisan Terobos Maluku Utara (BATOMA) Jabodetabek bersama massa dari Maluku, Maluku Utara, dan Papua menggelar aksi solidaritas di Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) RI dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI, Jakarta, menolak tindakan rasisme yang menimpa pesepak bola nasional Yakob Sayuri dan Yance Sayuri. Aksi bertajuk “Dari Timur untuk […]

  • Kolaborasi DKP dan Warga, Taman Lelong Ternate Dibersihkan dari Tanaman Air

    DKP Ternate Bersihkan Taman Lelong dari Tanaman Air pada Hari Clean Up Day

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Agung Selang
    • visibility 742
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) – Taman Lelong, salah satu ikon ruang publik di Kota Ternate, dipenuhi tanaman air yang mengganggu estetika dan fungsi kolam. Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ternate turun tangan langsung melakukan aksi pembersihan pada Sabtu sore (27/9/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Clean Up Day. Kepala DKP Kota Ternate, Faisal Harun […]

  • Menghidupkan Suara yang Diam: Perjalanan Tantri Atmodjo Menulis Buku Ruang Gelap di Dalam Diri

    Menghidupkan Suara yang Diam: Perjalanan Tantri Atmodjo Menulis Buku Ruang Gelap di Dalam Diri

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Di balik rutinitas sebagai mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Tantri Atmodjo menyimpan sebuah misi sunyi namun bermakna: menulis buku yang bisa menyentuh hati banyak orang, terutama perempuan. Besar di Ternate, Maluku Utara, Tantri kini tengah menulis buku self-improvement berjudul Ruang Gelap di Dalam Diri. Sebuah karya yang bukan hanya menawarkan kisah, tetapi juga keberanian untuk […]

  • Nelayan dan Petani di Tengah Gempuran Industri: Menakar Keadilan Sosial di Maluku Utara

    Nelayan dan Petani di Tengah Gempuran Industri: Menakar Keadilan Sosial di Maluku Utara

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Joma
    • visibility 787
    • 0Komentar

    Maluku Utara negeri di pingran bibir pasifik diberkahi laut dan tanah yang subur, namun ironis terbesar hari ini di depan mata bukanlah kemiskinan, kelaparan, melainkan penghiyanatan terhadap sumber daya penghidupan kita. Atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi, kebijakan publik telah mengadaikan hak-hak nelayan dan petani kepada korporasi tambang yang rakus dan acuh terhadap keadilan ekologi.  […]

  • DEKONSTRUKSI TAMANSISWA: TRANSFORMASI DARI “TAMAN SISWA” MENJADI “TAMAN ORANGTUA”

    DEKONSTRUKSI TAMANSISWA: TRANSFORMASI DARI “TAMAN SISWA” MENJADI “TAMAN ORANGTUA”

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Ain Dadong/ Ketua BEM UST Yogyakarta
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Tamansiswa, yang secara historis lahir sebagai antitesis terhadap hegemoni kolonial, kini justru terjebak dalam hegemoni usang di dalam tubuhnya sendiri. Cita-cita revolusioner Ki Hadjar Dewantara untuk memerdekakan manusia secara lahir dan batin tampak kehilangan daya ledaknya di era modern ini. Alih-alih bertransformasi menjadi poros pemikiran pendidikan kontemporer, organisasi ini justru mengalami kemandekan struktural yang sangat […]

expand_less