Dinilai Melecehkan Warisan Luhur, Barisan Pemuda Adat Nusantara Kecam Konten Video Influencer
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 115
- comment 0 komentar
- print Cetak

Barisan Pemuda Adat Nusantara mendesak para pembuat konten digital untuk mengedepankan etika dan pemahaman filosofis saat menampilkan tarian tradisional Maluku Utara. (Foto: Dok. Istimewa)
BALENGKO SPACE, TERNATE – Beredarnya sebuah unggahan video di berbagai platform media sosial yang menampilkan aksi sejumlah influencer asal Maluku Utara memicu polemik luas. Pasalnya, gaya koreografi yang dipertontonkan dalam video tersebut dinilai melenceng dan tidak menghormati pakem asli tarian tradisional setempat. Langkah ini langsung memantik reaksi keras dari Barisan Pemuda Adat Nusantara serta para pegiat budaya regional.
Pihak aliansi menilai, pembuatan konten video tersebut secara gamblang telah merendahkan nilai-nilai filosofis, sakralitas, serta aspek historis yang melekat erat pada warisan leluhur masyarakat adat Maluku Utara.
Anggota Barisan Pemuda Adat Nusantara sekaligus Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara, Mujais Apling, menyampaikan keprihatinan mendalam atas fenomena digital yang dinilai mengabaikan etika kebudayaan ini. Ia mengimbau agar para figur publik di media sosial dapat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam mengemas unsur kebudayaan daerah.
“Budaya daerah bukanlah bahan hiburan semata, apalagi hanya untuk mengejar popularitas. Tarian tradisional memiliki sejarah dan filosofi yang diwariskan leluhur. Ketika ditampilkan tanpa pemahaman konteks, itu sama dengan melukai rasa hormat masyarakat terhadap warisan budaya,” tegas Mujais Apling dalam keterangan resminya, Selasa (23/06/2026).
Etika Digital dan Kehormatan Budaya
Barisan Pemuda Adat Nusantara menggarisbawahi bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital sejatinya tetap harus dibatasi oleh kesadaran moral dan kode etik setempat. Di era digital yang berkembang pesat saat ini, konten-konten media sosial memegang peraruh masif dalam membentuk pola pikir generasi muda terhadap identitas kedaerahannya.
Oleh karena itu, ruang siber diharapkan mampu menjadi jembatan edukasi dan pelestarian yang positif, alih-alih menjadi panggung penyeragaman tren yang mengorbankan muruah adat.
“Kami menghormati kreativitas, tetapi jangan sampai alasan tren justru mengorbankan kehormatan budaya. Setiap simbol budaya yang dibawa ke ruang publik adalah amanat yang harus dijaga. Jangan tukarkan nilai budaya dengan popularitas sesaat. Budaya adalah identitas; ketika direndahkan, yang tersentuh bukan hanya seni, tetapi juga jati diri dan sejarah masyarakat,” tambah Mujais.
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan ataupun klarifikasi resmi yang dirilis oleh para influencer terkait yang terlibat dalam video tersebut. Kendati demikian, gelombang protes ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bersama bagi para kreator konten agar ke depan dapat mengangkat khazanah kebudayaan daerah dengan pendekatan riset yang matang dan penuh rasa hormat.
(BS/Red)
- Penulis: Mursid Puko
- Editor: Redaksi Balengko Space

Saat ini belum ada komentar