Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Kiri Islam, Oksidentalisme, dan Kritik Hasan Hanafi

Kiri Islam, Oksidentalisme, dan Kritik Hasan Hanafi

  • calendar_month Rabu, 2 Apr 2025
  • visibility 929
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Secara fundamental ajaran Islam sejak dari Nabi Adam hinggah Nabi Muhammad SAW dapat kita pahami sebagai sebuah paradigma”Kiri” yang berorientasi kepada keadilan social. Konteks “Kiri” yaag di maksudkan tentu merujuk kepada prinsip teologi yang kritis terhadap sturuktus social diskriminatif dan berkomitmen untuk membongkar sistim penindasan sebagai problem structural dan personal. Teologi  Islam melalui perspektif ini tidah hanya bersifat spiritual tetapi juga praksis yang menjadi gerakan emansipasi menantang hierarki kekuasaan yang timpang.  Hasan Hanafi filsuf asal Mesir dengan gagasan al-Yasar al-Islamia (Kiri Islam) memberikan sebuah konsep ini sebagai respon terhadap polarisasi kelas dalam  masyarakat. Di satu sisi  terdapat kelas elit (kanan) yang mendominasi alat produksi dan kekuasaan politik, pada saat yang sama dapat kelas mayoritas (kiri) yang terekspolitasi secara ekonomi maupun social.

Hasan Hanafi merupakan tokoh pemiki Muslim kontemporer yang lahir di Kairo-Mesir pada 13 Februari 1935. Pendidikan dasarnya  diselesaikan pada tahun 1948 dimana ketika proses menempuh pendidikan tersebut Hasan Hanafi telah mampu menghafal al-Qur’an.  Hasan Hanafi melanjutkan studi selanjutnya di Madrasah Tsanawiyah Khalil Agha Kairo dan selesai pada 1952. Dalam proses pendidikannya selama di Madrasah Tsanawiyah Khalil Agha, berbagai kajian keislaman yang diselenggarakan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin aktif diikuti sehingga hal-hal tersebut membentuk kesadaran intelektualnya terkait dengan Islam dan berbagai ideologi pergerakan yang mendasarinya. Hanafi memperoleh gelar sarjana mudanya dari Universitas Kairo, Jurusan Filsafat Fakultas Adab pada tahun 1956. Selanjutnya ia melanjutkan ke Universitas Sorbone Perancis dengan konsentrasi kajian pemikiran Barat modern dan pra-modern tepatnya pada tahun 1966. Pendidikannya di Perancis diselesaikan pada dua jenjang pendidikan dalam hal ini adalah magister dan doktor (Bahrudin, 2008). Selama di Perancis, Hanafi mempelajari berbagai disiplin ilmu termasuk yang berkaitan erat dengan metode berfikir, mulai dari pemikiran fenomenologi Husserl (1859-1938) yang mengakui kebenaran empiris, kebenaran teoritis (akal) dan kebenaran nilai. Kemudian ia juga mendalami pemikiran pembaruan dan sejarah filsafat Jean Guitton (1901- 1999), sampai analisis kesadaran Paul Ricouer (1913-2005), pemikiran Louis Masiggnon (1883-1962) dalam bidang logika pembaruan. Berbagai metode berpikir tersebut kemudian membentuk potensi intelektualnya dalam memahami berbaga fenomena sosial yang ada pada zamannya termasuk relasi antara Islam dan Barat (Musramin K. 2021).

Hasan Hanafi secara terbuka memperkenalkan konsep oksidentalisme sebagai antitesa dari orientalisme  Barat. Jika orientalisme adalah cara Barat memandang Timur sebagai bangsa yang inferior yang bertujuan membalik narasi tersebut sebagai kritikan atas hegomoni Barat secara intelektual dan kultur. Sejalan dengan itu Kiri Islam oleh Haan Hanafi berupaya memberikan sebuah perhatian besar terhadap tardisi masyarakat  Islam yang dibelengu oleh dominasi yang bersifat internal (oligarki local) atau secara sederhana disebut dengan kalangan agamawan yang terjebak dalam doktrin agama yang menghilangkan nilai revolusioner  untuk melawan penindasan maupun  yang bersifat eksternal (imperialisme Barat).

Kiri Islam tidak hanya menjadi sebuah teori social semata malainkan juga kerangka etis yang mendorong trasformasi structural melalui sitesis antara nilai Islam dan prinsip pembebasan, Hasan Hanafi dalam banyak karya di antaranya Dirasat Islamiyyah, ditulis sejak tahun 1978 dan terbit tahun 1981, memuat deskripsi dan analisis pembaruan terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik, seperti ushul fikih, ilmu-ilmu ushuluddin dan filsafat. Juga karya Min al-Aqidah ila Al-Tsaurah, (dari Akidah Menuju Revolusi) yang terdiri dari 5 jilid, ditulis selama hampir sepuluh tahun dan baru terbit pada tahun 1988. Buku ini memuat uraian rinci tentang pokok-pokok pembaruan yang ia canangkan, sebagaimana yang termuat dalam karyanya yang terdahulu. Religion, Ideologi and Development, yang terbit pada tahun 1993 dan masih banyak karya lainnya. Hasan menawarkan jalan untuk merespon tantangan kontemporer. Seperti  kesenjagan ekonomi, diskriminasi sistemik, dan alienasi spiritual di era modern . pemikirannya mengajak umat manusia untuk tidak hanya berhenti pada refleksi teoritis, tetapi bergerak aktif menciptakan keadilan yang inklusif yang berkelanjutan.

Membaca Kembali Hegomoni Barat

Lewat catatan singkat ini saya tidak berupaya untuk menjelaskan secara etimologi apa itu oksidentalisme  malainkan mencari rumus baru dalam membaca kembali wajah Islam di tengah benturan antara peradaban. Jika kembali merefleksikan karya Samuel P. Huntington (Benturan Antara Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia) sebagai tangapan terhadap tesis Francis Fukuyama dalam karyanay “The End of History and the Last Man”. Lewat buku ini Huntington mengidentifikasi benturan utama dari dari peradaban adalah identitas  budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama dunia, benturan peradaban bukan lagi konflik ideologi atau ekonomi, akan menjadi sumber utama konflik masa depan. Meskipun tesis Samuel memicu kontroversi dan polemic di berbagai belahan dunia dengan banyak tangapan pihak yang menantang Huntington namun bagi saya buku ini menjadi sebuah jalan masuk untuk membaca posisi Islam dalam melawan hegomoni Barat dalam pertarungan ekonomi dan politik dunia.

Kelahiran oksidentaslisme Hasan Hanafi bukan merupakan suatu konsep yang tidak memiliki dasar pikir historis. Hadirnya oksidentalisme sebagai konsep perlawanan dalam menyikapi relasi Islam dengan Barat dalam pergolakan  sosi-politik dan kita sebut sebagai gerakan anti Barat. Oksidentalisme  yang di tawarkan oleh Hasan tidak sekedar mengajukan tiga agenda. Pertama: rekonstruksi sikap kritis terhadap tradisi local (Islam). Kedua: pembongkaran mitos superioritas Barat. Ketiga: respon terhadap tansformasi atas realitas kontemporer tetapi juga menjadi epistemologi perlawanan yang mengitegrasikan  antara ralasi kuasa dan pengetahuan antara Timur dan Barat.

Terlihat bahwa epistemology sebagai fondasi filsafat yang mengkaji prasyarat dan metodologi pengetahuan yang dihadapkan pada pertanyaan secara radikal. Bagaimana hegomoni Barat berhasil menciptakan sturktur kesadaran yang menempatkan Islam sebagai bangsa yang lemah? Peradaban Barat memosisikan diri sebagai subjek pengetahuan yang universal sementara Islam dijadikan sebagai objek yang direduksi nilainya juga di ukur melalaui standar kebenaran Barat, pada bagian inilah perlu ada pembacaan secara kritis  oleh generasi Islam saat ini, bukan saja menempatkan posisi di tengah revolusi teknologi. Juga membaca konsekuensi  umat Islam yang terjebak dalam paradoks epistemic. Kita menjadi aktor di panggung sejarah, tetapi dengan naskah yang ditulis oleh Barat sebagai sutradara.

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara Abubakar Abdullah bersama Gubernur Sherly meninjau sekolah Play Button

    Indeks Kebinekaan Sekolah Maluku Utara Melonjak, Abubakar Abdullah: Ini Prestasi Besar

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO), 2 April 2026 – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengapresiasi capaian indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara yang berada di atas rata-rata nasional berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2025. Menurut Abubakar, capaian indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga […]

  • Suasana pembukaan Konfercab II dan PKD III GP Ansor Halmahera Selatan

    Konfercab II dan PKD III GP Ansor Halmahera Selatan Resmi Dibuka

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 314
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, BACAN – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Halmahera Selatan resmi menyelenggarakan Konferensi Cabang (Konfercab) II sekaligus Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) III. Hajatan akbar organisasi kepemudaan ini dipusatkan di Aula Hotel Buana Lipu, Bacan, pada Jumat (17/07/2026). Mengusung tema “Merawat Nilai, Memperkuat Khidmat dan Meneguhkan Kepemimpinan Menuju Ansor Masa Depan”, forum […]

  • Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara Resmi Lepas Jamaah Haji 2025 di Ternate

    Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara Resmi Lepas Jamaah Haji 2025 di Ternate

    • calendar_month Rabu, 7 Mei 2025
    • account_circle Balengko Space
    • visibility 1.205
    • 0Komentar

    Ternate (Balengkospace.com) – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, bersama Wakil Gubernur KH. Sarbin Sehe, secara resmi melepas keberangkatan Jamaah Haji asal Maluku Utara pada Selasa, 6 Mei 2025. Acara pelepasan berlangsung khidmat di Asrama Haji Ternate dan dihadiri oleh unsur Forkopimda dan sejumlah tokoh penting daerah. Tampak hadir perwakilan dari Kapolda Maluku Utara, Kajati […]

  • Tenaga dapur MBG menjalankan SOP keamanan pangan

    Makan Bergizi Gratis (MBG): Niat Baik yang Harus Dijaga dengan Kualitas dan Kepercayaan Publik

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Fahmil Usman, S.Gz.,M.Gz.,AIFO
    • visibility 1.100
    • 0Komentar

    Jika benar bahwa tujuan dari MBG (Makan Bergizi Gratis) adalah sebuah niat baik yang telah dirancang untuk mencapai lebih dari sekadar ketahanan pangan. Program ini berfungsi sebagai katalis untuk pembangunan ekonomi lokal, yakni melalui dukungan kepada UMKM dan penciptaan pekerjaan dibidang pertanian. Dampak akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan melalui penurunan kemiskinan dan meningkatkan gizi masyarakat tetutama […]

  • M. Ade Bahtiar, SKM., MM., Bendahara Umum PC GP Ansor Kota Tidore Kepulauan, saat memberikan keterangan pers terkait rencana pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) GP Ansor tahun 2025 di Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan.

    GP Ansor Kota Tidore Kepulauan Akan Gelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD)

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, akan kembali melaksanakan agenda kaderisasi formal melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) pada bulan Jumadil Akhir 1447 H mendatang. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5–8 Desember 2025 di Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan. PKD akan diikuti oleh […]

  • KH. Sarbin Sehe: Kesejahteraan Buruh, Kesejahteraan Bangsa

    KH. Sarbin Sehe: Kesejahteraan Buruh, Kesejahteraan Bangsa

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 611
    • 0Komentar

    Ternate, Kamis (1/5/2025) -Menghormati buruh dan menjaga martabat bangsa menjadi pesan utama Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, dalam peringatan Hari Buruh Internasional, Kamis (1/5/2025). Dalam keterangannya, KH. Sarbin Sehe menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh buruh dan pekerja yang telah berkontribusi besar bagi pembangunan nasional. “Buruh adalah pekerja tangguh. Mereka tidak hanya berkontribusi di […]

expand_less