Era Baru PMII: Menggugat Paradigma Gerakan atau Sekadar Romantisme Sejarah?
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- visibility 262
- comment 0 komentar

(Fahri Sibua) Sekretaris Cabang PMII Pasifik Morotai Periode 2022-2023. Sumber foto : Istimewa
Sistem kaderisasi PMII terlalu menekankan transfer nilai-nilai organisasi dan kesetiaan tanpa memberikan kesempatan bagi kader untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mencari solusi untuk masalah sosial. Ini dapat menyebabkan kemandegan intelektual di kalangan kader. Oleh karena itu, kurikulum kaderisasi yang lebih luas harus memasukkan pemikiran yang lebih kritis dan kreatif, sehingga kader dapat menghadapi tantangan zaman dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif.
Malas Membaca Buku: Intelektual dan Kualitas Akademis Kader PMII
Salah satu masalah yang sering dibahas adalah bahwa anggota PMII tidak memiliki budaya membaca buku. Meningkatkan pengetahuan akademis dan kualitas pemikiran sangat penting untuk meningkatkan kualitas pemikiran dan kemampuan menganalisis. Namun, fenomena yang dikenal sebagai “kecenderungan malas membaca” yang dialami beberapa anggota dari Tingkat Rayon hingga Komisariat dapat berdampak negatif pada perkembangan intelektual mereka. Tanpa literasi yang memadai, anggota akan kesulitan mengikuti perkembangan dinamika sosial-politik dan menghasilkan solusi yang dilandasi oleh pemikiran yang komprehensif.
Pergerakan PMII secara keseluruhan mungkin lebih buruk jika tidak ada budaya membaca buku ini. Ketika anggota tidak memahami sepenuhnya berbagai masalah sosial yang ada, advokasi yang dibuat cenderung tidak akan memiliki efek yang signifikan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. Selain itu, ketidakmampuan anggota untuk berpikir kritis dan membuat solusi yang lebih akurat dapat disebabkan oleh kurangnya literasi.
Antara Menggugat dan Romantisme: Apakah PMII Siap untuk Perubahan atau Terjebak dalam Masa Lalu?
Terdapat ketegangan antara upaya PMII untuk menentang paradigma lama dan keinginan untuk mempertahankan gambaran sejarah gerakan di balik dinamika ini. PMII berusaha mempertahankan relevansinya terhadap masalah sosial-politik yang berkembang, tetapi mereka juga merasa memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan prinsip perjuangan yang telah diwariskan. Pertanyaan penting muncul sebagai akibat dari ketegangan ini: apakah PMII benar-benar siap untuk mengalami transformasi total atau malah terperangkap dalam mempertahankan identitas masa lalunya, yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan zaman modern?
Meskipun ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi tantangan saat ini, perubahan yang terjadi dalam PMII belum mencerminkan transformasi yang benar-benar mendasar dan radikal. Pergerakan PMII tampaknya lebih berkonsentrasi pada menjaga warisan yang ada daripada melakukan inovasi baru yang membawa perubahan besar. Akibatnya, sangat penting bagi PMII untuk melakukan introspeksi mendalam mengenai masa depan organisasinya untuk menghindari terjebak dalam romantisme sejarah yang tidak lagi relevan dengan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini.
- Penulis: (Fahri Sibua) Sekretaris Cabang PMII Pasifik Morotai Periode 2022-2023
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Mursid Puko

Saat ini belum ada komentar