JALUR ENERGI, DOLAR, DAN HEGEMONI: IRAN DAN AS MEMPENGARUHI EKONOMI ASIA PASIFIK
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 138
- comment 0 komentar

Ilustrasi Source : Istimewa
Iran tak tinggal diam menghadapi tekanan ekonomi Barat. Negeri para mullah ini menggenjot diversifikasi ekonomi dan mencari celah baru dalam perdagangan energi untuk meloloskan diri dari dominasi dominasi AS. Teheran membangun hubungan yang lebih erat dengan kekuatan-kekuatan besar seperti Tiongkok, Rusia, dan India. Negara-negara besar ini berlomba tengah melepaskan diri dari ketergantungan pada dolar AS. Iran pun bereksperimen menjual minyaknya menggunakan mata uang lokal serta membangun sistem perdagangan alternatif yang tidak bergantung pada dolar meski berbagai kendala masih menghalangi.
Gerakan perlawanan ini menandai perubahan mendasar dalam tatanan ekonomi dunia. Kekuatan-kekuatan ekonomi besar mulai berani menantang dominasi AS di pasar energi dan membangun jalur perdagangan yang lebih mandiri. Kedigdayaan dolar AS sebagai mata uang utama dunia kini mulai dipertanyakan. Negara-negara besar kini berlomba-lomba mengurangi ketergantungan pada sistem yang selama ini mengendalikan Washington.
Asia Pasifik: Menghadapi Ketergantungan dan Ketidakstabilan Ekonomi
Wilayah Asia Pasifik menyandang posisi sebagai kawasan dengan ekonomi terbesar dan pertumbuhan paling dinamis secara global. Namun demikian, kebutuhan energi yang terus meningkat sebagian besar masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan yang signifikan bagi negara-negara di kawasan ini.
China, India, dan Jepang merupakan contoh negara yang sangat bergantung pada impor energi untuk mencukupi kebutuhan dalam negerinya. Ketergantungan tersebut membuat perekonomian besar ketiga ini mudah terpengaruh oleh dinamika yang mengganggu pasokan energi. Gangguan tersebut jarang sekali dipicu oleh ketegangan di tingkat geopolitik, khususnya yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan antara kedua negara tersebut sering menciptakan kesenjangan dalam rantai pasokan energi global, yang pada akhirnya berdampak langsung pada stabilitas ekonomi pengimpor negara-negara.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20% produksi minyak global di seluruhnya setiap tahun sebagian besar ditujukan untuk negara-negara Asia Pasifik. Posisi strategi ini menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan, terutama akibat sanksi AS terhadap Iran dan ketegangan militer di kawasan. Gangguan di selat ini berpotensi memicu penurunan signifikan harga minyak dan gas di pasar dunia.
- Penulis: Fahri Sibua Magister Akuntansi
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar