JALUR ENERGI, DOLAR, DAN HEGEMONI: IRAN DAN AS MEMPENGARUHI EKONOMI ASIA PASIFIK
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 137
- comment 0 komentar

Ilustrasi Source : Istimewa
Krisis Harga dan Dampaknya pada Sektor Energi
Ketidakpastian pasokan energi di kawasan Asia Pasifik telah menimbulkan krisis harga yang dampaknya kini mulai dirasakan secara luas. Ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah dengan ancaman gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, telah memicu kenaikan signifikan harga minyak dan gas di pasar dunia. Kondisi ini tidak hanya mengancam kestabilan perekonomian secara global, tetapi juga memberikan tekanan berat bagi sektor manufaktur dan transportasi di kawasan Asia Pasifik.
Industri manufaktur di wilayah ini memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap ketersediaan energi dengan harga terjangkau untuk mendukung berbagai proses produksinya. Ketika harga energi mengalami nyala, biaya produksi otomatis ikut membengkak dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang jadi. Situasi ini sangat mempengaruhi sektor-sektor yang berorientasi ekspor, karena produk-produk dari Asia Pasifik berisiko kehilangan daya saing di pasar internasional. Tiongkok sebagai negara produsen terbesar di dunia, misalnya, kini menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan daya saing ekspornya di tengah kenaikan biaya energi yang terus berlanjut.
Alternatif dan Resiliensi Energi
Krisis energi global dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong negara-negara Asia Pasifik untuk menyadari risiko ketergantungan berlebihan pada pasokan energi impor. Lonjakan harga energi internasional akibat ketegangan geopolitik—mulai dari konflik di Timur Tengah hingga perang di Eropa Timur—memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian domestik kawasan ini, memaksa pemerintah membangun sistem energi yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.
Diversifikasi sumber energi menjadi strategi utama yang dijalankan berbagai negara di kawasan ini. Tiongkok muncul sebagai kekuatan dominan dalam transformasi energi global dengan menggelontokan investasi besar-besaran untuk infrastruktur energi hijau. Negeri Tirai Bambu berhasil menjadi produsen panel surya terbesar di dunia dan tekad mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan gas demi menjaga stabilitas ekonomi sebagai konsumen energi terbesar dunia. Sementara itu, India menggenjot investasi sektor energi terbarukan dengan target kapasitas 175 gigawatt pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 500 gigawatt pada tahun 2030, bertujuan membangun perekonomian yang lebih tangguh, menurunkan emisi karbon, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
India menggenjot investasi energi terbarukan dengan target kapasitas 175 GW pada tahun 2022 dan 500 GW pada tahun 2030, bertujuan membangun ketahanan ekonomi, menurunkan emisi, dan memperkuat ketahanan energi. Namun, kendala signifikan tetap ada: teknologi baru memerlukan investasi besar, Korea Selatan masih bergantung pada bahan bakar fosil, sementara pasca-Fukushima memperumit transisi energi. Untuk menjamin pasokan, kawasan memperkuat kerja sama Australia dengan cadangan LNG terbesar kedua di dunia, serta Indonesia dan Vietnam yang mengembangkan kapasitas terbarukan. Tantangan utama lainnya adalah ketergantungan impor dari Timur Tengah yang menyediakan lebih dari 60% kebutuhan minyak kawasan.
- Penulis: Fahri Sibua Magister Akuntansi
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar