Lulusan Magister IPB University, Pemuda Morotai Teliti Kerentanan Nelayan Tuna di Pesisir Pasifik
- calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
- visibility 247
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilham Gogasa, pemuda asal Pulau Morotai dan lulusan Magister Teknologi Perikanan Laut IPB University, meneliti kerentanan nelayan tuna skala kecil di Morotai. Risetnya menjadi kontribusi penting bagi pembangunan perikanan berkelanjutan di wilayah timur Indonesia. | Sumber foto : Istimewa
Meneliti Kerentanan Nelayan Tuna Skala Kecil
Saat menempuh studi magister, Ilham menulis tesis berjudul “Kajian Tingkat Kerentanan Usaha Perikanan Handline Tuna Skala Kecil di Kabupaten Pulau Morotai.” Penelitian ini berangkat dari kepeduliannya terhadap kehidupan nelayan kecil yang bergantung pada perikanan tuna — salah satu komoditas unggulan daerah.
Pulau Morotai dikenal sebagai wilayah penghasil tuna sirip kuning (Thunnus albacares) dengan posisi strategis di perbatasan Samudra Pasifik, Laut Halmahera, Selat Morotai, dan Laut Sulawesi. Secara administratif, wilayah ini termasuk dalam tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Nasional (WPPNRI 715, 716, dan 717). Pada tahun 2021, produksi tuna di Morotai tercatat mencapai 2.612 ton.
Di balik potensi besar itu, Ilham menemukan persoalan yang tidak sederhana. Nelayan skala kecil yang menggunakan alat tangkap pancing ulur (handline) menghadapi beragam tantangan: cuaca ekstrem, biaya operasional tinggi, hasil tangkapan yang menurun, hingga risiko keselamatan di laut.
Melalui pendekatan lima aspek — sumber daya alam, sumber daya manusia, sosial, ekonomi, dan kelembagaan — Ilham melakukan survei dan wawancara terhadap nelayan di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Timur. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa usaha perikanan handline tuna di Morotai paling rentan pada aspek sumber daya alam dan kelembagaan. Sebaliknya, aspek sosial justru menjadi kekuatan utama karena masih terjaga solidaritas antar-nelayan yang tinggi.
Ia juga menemukan bahwa ukuran ikan yang tertangkap cenderung semakin kecil, pertanda adanya tekanan terhadap stok ikan. Beberapa nelayan bahkan harus melaut hingga 30 mil dari pantai untuk memperoleh hasil tangkapan yang layak jual. Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi menjadi risiko rutin bagi kapal berukuran kecil dengan mesin 15–30 PK, sementara dukungan kelembagaan seperti koperasi, asuransi, dan akses pembiayaan belum berjalan optimal.
Ketangguhan Sosial dan Strategi Adaptif
Meski kondisi di lapangan penuh tantangan, Ilham menemukan bahwa masyarakat pesisir Morotai memiliki daya tahan sosial yang kuat. Semangat gotong royong, kebersamaan di laut, serta tradisi saling membantu saat bencana menjadi modal sosial yang penting bagi keberlanjutan komunitas nelayan.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Ilham menyusun delapan strategi utama untuk memperkuat ketahanan dan keberlanjutan usaha perikanan nelayan kecil, antara lain pengawasan terhadap ukuran minimum ikan tangkapan, pelatihan adaptasi cuaca berbasis teknologi, penguatan koperasi nelayan, dan diversifikasi ekonomi rumah tangga.
Strategi lain mencakup pelatihan vokasi bagi generasi muda, penyuluhan berbasis lokal yang berkelanjutan, serta integrasi program bantuan pemerintah melalui kelembagaan nelayan. Semua rekomendasi tersebut disusun untuk memperkuat ketahanan sosial-ekonomi nelayan dan menjaga kelestarian sumber daya laut.
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar