Sastra dan Politik: Apakah Sastra Berhubungan Dengan Politik?
- calendar_month Jum, 9 Jan 2026
- visibility 97
- comment 0 komentar

Penulis : Muhammad Muzijad Mandea. Foto : Istimewa
Menurut Aprinus Salam, Mengungkapkan bahwa karya sastra diletakkan dalam satu kerangka representasi-representasi tentangan dalam kehidupan. Teori ini memiliki dan memberikan kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah stagnasi, tradisi, konflik dalam masyarakat, dan bagaimana praktik kekuasaan (politik) dioperasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Teori ini juga memberikan perhatian bagaimana “membongkar” karya sastra sebagai bagian dan satu hegemoni kekuasaan sehingga masalah “apa yang dikeluarkan (ekslusi)” dan “apa yang dimasukkan (inklusi)” sebuah karya sastra secara langsung berhubungan dengan konteks sosial dan politik masyarakat, yakni tempat karya sastra tersebut hadir.
Sastra tidak hanya mencerminkan realitas politik, tetapi juga mempengaruhi dan membentuk pandangan politik. Dari karya Shakespeare yang mengenai isu kekuasaan dan legitimasi hingga novel-novel dystopian seperti tahun 1984 George Orwell yang mengkritik totalitarianism. Artinya sastra bukan hanya dijadikan sebagai bahan merebut kekuasaan, tetapi, sastra juga menjadi bagian dari medium untuk mengomentari dan mereflekasikan realitas politik, karena sastra memiliki catatan sejarah berfungsi untuk memberikan wawasan tentang, norma, nilai dan politik.
Dengan demikian, karya sastra perlu diilhami dengan sungguh-sungguh agar kita dapat memahami dan menjadikan karya sastra sebagai refleksi untuk membela yang benar. Karena sejatinya, sastra bukan hnya sekedar untuk merebut kekuasaan, melainkan membela kemanusiaan.
“Sesulit apapun kehidupan ini, hiduplah hidup dengan damai”
- Penulis: Muhammad Muzijad Mandea. Pengurus Komisariat Unkhair Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII),
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar