Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » HALAL BI HALAL dan ANTI-OTORITARIANISME

HALAL BI HALAL dan ANTI-OTORITARIANISME

  • calendar_month Jumat, 4 Apr 2025
  • visibility 214
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Halal bi Halal sebagai terminologi khas yang hanya dikenal di Indonesia. Jika dilihat dari struktur bahasanya, bahwa Halal bi Halal ini adalah murni bahasa arab yang terdiri dari tiga suku kata, yakni Halal, bi, dan Halal. Tapi orang arab sendiri tidak mengerti apa itu istilah Halal bi Halal ini dan didalam kamus bahasa arab tidak ditemukan kata Halal bi Halal itu sendiri. Karena memang itu merupakan terminologi khusus yang digagas oleh ‘ulama Indonesia yaitu Hadhratus Syaikh KH. Abdul Wahab Hasbullah sang Kiyai kedua sebagai pendiri organisasi Nahdlatul ‘Ulama (NU) setelah Hadhratus Syaikh KH.  Hasyim Asy’ari. Ternyata, KH Abdul Wahab Hasbullah adalah tangan kanannya KH. Hasyim Asy’ari. Jadi, KH. Abdul Wahab Hasbullah memiliki kreasi (ijtihad) yang sangat cerdas dalam mencetuskan terminologi Halal bi Halal yang kemudian berlaku istilah ini dari sejak dulu sampai dengan hari ini.

Maka, makna Halal bi Halal itu pada intinya adalah shilaturrahim yaitu membangun hubungan atau memperkuat hubungan ukhuwwah (persaudaraan), sehingga apabila terjadi suatu perbuatan yang dilakukan oleh sesama manusia (hablumminannaas)dengan kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja, besar atau kecil kesalahan itu pada hari-hari kemarin, maka wajib hukumnya untuk di Halal-kan atau dimaafkan atau di nolkan dan/atau di zero-kan dalam hatinya masing-masing. Makna lainnya, bahwa Halal bi Halal harus dilakukan secara transparan dalam acara bermaaf-maafan (tashafahu) yang sangat kental dengan niat yang tulus (ikhlas) dalam membangun nilai-nilai insaniyyah (kemanusiaan) dengan sebenar-benarnya dalam hati sanubari kita masing-masing. Tidak ada lagi menyimpan yang unek-unek dalam hati kita ketika melakukan Halal bi Halal ini, bukan hanya kita berkata “saya maafkan anda” tapi dalam hatinya masih menyimpan rasa dendam kepadanya, jika kita masih menaruh rasa dendam kepada orang lain dalam hatinya, padahal kita sudah memberikan maaf dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, maka percuma saja kita melakukan Halal bi Halal itu yang pada hakekatnya atau substansinya daripada Halal bi Halal itu tidak tercapai sama sekali.

Jika terdapat dua orang Muslim yang tidak saling menyapa melebihi tiga hari, maka keduanya akan dilaknat oleh Allah Swt. Apalagi ada orang Muslim yang mengancam kepada Muslim lainnya dengan mengatakan, misalnya “saya bunuh anda atau saya celakan kamu” dengan bahasa mengancam, mengintimidasi, dan sengaja melakukan teror. Dan, kepada orang Muslim yang mengancam, meng-intimidasi, dan meneror itu, jika ia tidak cepat-cepat meminta maaf kepada seorang Muslim yang diancam itu, maka Allah Swt tidak akan memaafkannya. Sehingga yang terjadi adalah Allah Swt dan para Malaikat-Nya akan melaknat orang Muslim yang mengancam atau meneror itu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hadis Nabi Muhammad Saw, “Man rafa’a shilaahahu amaama wajhi muslimin la’anahu Allahu wa al-Malaaikatuhu” artinya, “Siapa saja yang mengancam atau meneror sesama orang Muslim dengan mengatakan “saya bunuh kamu atau saya habisi kamu” jika kamu tidak mengikuti keinginan saya, maka sebelum yang mengancam itu meminta maaf kepada seorang Muslim yang diancam itu, maka Allah dan para Malaikat-Nya akan melaknatnya”. Jadi, jangan sembarang untuk mengancam-ngancam sesama saudaramu dalam Islam, apalagi sampai benar-benar melakukan tindakan bom bunuh diri yang bukan hanya menewaskan dirinya sendiri, tetapi orang lain juga yang tidak bersalah harus ikut tewas dengan tindakannya itu. Singkatnya, bahwa mengancam saja sudah dilaknat oleh Allah dan para Malaikat-Nya, apalagi benar-benar dia melakukannya.

Jika, ada orang Islam Indonesia yang melakukan kejahatan atau kekerasan di atas dunia ini dengan mengatasnamakan Islam, maka model kejahatan atau kekerasan itu merupakan sebuah tindakan kezaliman yang besar. Dalam QS. Al-Shaf: 7) “Siapa saja yang melakukan kejahatan atas nama agama Islam, maka tidak ada orang yang lebih zalim daripada orang itu”. Katakanlah para kelompok teroris itu. Maka, Halal bi Halal itu mengandung nilai-nilai al-insaniyyah (kemanusiaan) yang sangat mulia dan ia merupakan ciri khas, dan tipelogi (khoshoish, mumayyizaat) dari umat Islam Indonesia yang harus dilestarikan dan dipelihara ilaa yaumil qiyamah (sampai datangnya hari kiamat). Dan, Halal bi Halal ini merupakan sebuah ‘amal sholeh-budaya yang sudah melebur dengan agama yang sangat kuat ikatannya, sehingga susah untuk dilepas-pisahkan antara keduanya bagi umat Islam Indonesia. Tapi, yang dilarang dalam melakukan serimonial acara Halal bi Halal adalah tabdzir yaitu dengan cara menghambur-hamburkan anggaran dalam melakukannya. Maka, budaya atau tradisi ini sudah sangat mengakar di Indonesia hari ini yang tidak akan pernah hilang atau punah digilas oleh arus zaman, karena kita selalu melestarikannya, sehingga Islam Indonesia akan tampil menjadi Islam yang ramah (bukan Islam yang marah-marah), Islam yang sarat dengan nilai-nilai budaya atau tradisi, Islam yang moderat dan toleran, dan Islam yang benar-benar membawa Rahmat bagi umat manusia dan bukan Islam yang membawa malapetaka bagi alam semesta ini.

Oleh karena itu, bahwa terjadinya kekerasan yang ada di Indonesia hari ini bukan merupakan bentuk watak aslinya atau orisinilitas bagi orang Indonesia. Maka kelompok teroris yang melakukan kekerasan atas nama agama Islam dengan tindakan mengebom itu wataknya sudah dipengaruhi oleh watak yang ada di Timur Tengah katakanlah wataknya orang Afghanistan. Karena pada hakikatnya watak orang Indonesia itu sangat kental dengan nilai-nilai budayanya atau tradisinya yang luhur dan berbudi pekerti. Sehingga, orang-orang Indonesia sangat menolak watak-watak yang sangat keras seperti itu. Jika, ada watak-watak kekerasan itu di Indonesia, maka pasti watak-watak itu adalah produk budaya asing yang masuk ke Indonesia. Karena, tidak ada Kiyai atau ‘Ulama Nahdlatul “Ulama (NU) yang ada di Indonesia yang mengajarkan tentang kekerasan dengan mengatas-namakan Islam. Justru, para Kiyai dan ‘Ulama NU di Indonesia ini dalam mengajarkan murid-muridnya (santri-santrinya) adalah tentang Islam yang ramah, damai, akur, saling gotong-royong, persatuan, dan persaudaraan sesama warga bangsa (ukhuwwah wathaniyyah).

Karena Halal bi Halal yang substansinya adalah merawat hubungan shilaturrahim, maka hukumnya adalah wajib bagi umat Islam Indonesia, dan sebaliknya jika dengan sengaja memutuskan hubungaan shilatuurahim antar sesama orang Islam adalah hukumnya haram yakni sebagai dosa besar bagi umat Islam. Sehingga, tidak ada dosa yang lebih cepat dibalas oleh Allah Swt di atas dunia ini kecuali ada dua macam dosa, pertama, adalah dosa para pejabat negara yang hobinya menindas dan kejam (otoriter) terhadap rakyatnya, dan kedua, adalah dosa pemutus tali persaudaraan (orang yang memutuskan) hubungan shilaturrahim. Kedua model dosa ini akan cepat dibalas oleh Allah Swt di dunia ini, dan tidak sampai harus menunggu balasannya di akhirat nanti. Oleh karena itu, jika ada pejabat negara (Presiden, Gubenur, Bupati dan Walikota) di Indonesia yang suka menindas, dan sangat kejam (otoriter) dalam memanfaatnya kewenangannya terhadap rakyatnya, maka pejabat negara itu cepat atau lambat akan diberikan balasan yang mengerikan oleh Allah Swt di atas dunia ini tanpa harus menunggu pejabat itu mati.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa sesuatu yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw wajib bagi kita untuk melaksanakannya, dan sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah Saw maka harus kita tinggalkan atau jangan kita melakukannya. Sehingga, disini lahirlah kaidah hukum dalam Islam, bahwa sesuatu yang tidak ada perintah dan tidak ada larangan, maka sesuatu itu boleh saja untuk dilaksanakan sampai adanya dalil yang melarang atau memerintahkannya. Misalnya, dalam urusan keduniaan, maka Nabi Saw mengatakan “Antum ‘alamu bi umuuri dunyaakum” bahwa kalian yang lebih mengetahui tentang perkara-perkara dunia kalian. Misalnya, dalam mempelajari ilmu pengetahuan umum seperti fisika, biologi, kimia, matematika, perbankkan, perikanan, kelautan, pertanian, dan ilmu pengetahuan lainnya, bahwa tidak ada dalil yang memerintahkannya dan tidak ada dalil yang melarangnya, maka hukumnya boleh saja bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan ini.

Pernah suatu ketika di Madinah para petani kurma hendak menamam pohon kurma yang caranya harus mengawinkan biji kurma itu antara jenis bijinya yang jantan dan betina, tetapi kata Nabi Saw kepada para petani kurma itu agar tidak perlu mengawinkan kedua biji kurma itu. Ternyata pohon kurma yang ditanam dengan cara tidak mengawinkan bijinya itu, maka akan tumbuh dalam keadaan rusak dan sama sekali tidak berbuah. Justru yang tepat adalah jika menanam kurma itu harus dilakukan dengan cara okulasi (perkawinan) antara bijinya yang jantan dan betina, maka pohon kurma akan tumbuh bagus dan pasti menghasilkan buah yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kalian melanjutkannya dengan cara okulasi (perkawinan) itu. Nabi Saw mengatakan, sebenarnya aku hanya berpendapat secara pribadi, oleh karena itu jangan kalian menyalahkanku karena pendapat pribadiku. Tetapi, jika aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu dari Allah, maka hendaklah kalian menerimanya, karena aku tidak pernah mendustakan Allah Swt.

Berdasarkan pada konteks historisnya, bahwa hal ini berkaitan dengan teknis penyerbukan kurma yang tidak ada kaitannya dengan muatan-muatan keagamaan (perintah atau anjuran yang bersifat syar’i). Ungkapan Nabi Muhammad Saw tentang bagaimana menanam kurma itu tidak perlu dilakukan perkawinan pada akhirnya kurang tepat, dan berakibat buruk pada hasil pertanian kurma para petani saat itu. Maka, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Kalian yang lebih mengetahui urusan dunia kalian”. Perlu diketahui bahwa Nabi Saw bukan ahli di bidang pertanian dan tanaman. Bahwa, Nabi Muhammad Saw dilahirkan di Mekkah yang saat itu lembahnya tandus dan sangat sulit untuk dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Beda halnya dengan kondisi yang ada di Madinah yang memiliki tanah yang subur dan sangat cocok untuk menanam pohon kurma. Dan hari ini yang banyak terdapat tumbuhan pohon kurma itu ada di Kota Madinah, bukan di Kota Mekkah. Artinya, bahwa Nabi Muhammad Saw sama sekali tidak menganut paham otoritarianisme dalam membangun peradaban politik kekuasaan pada posisinya sebagai kepala pemerintahan di negara Madinah. Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi sayyidina Muhammad. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshawab.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembangunan Masjid Mangkrak, Aktivis PMII Desak Inspektorat Audit Anggaran Desa Pas Ipa

    Pembangunan Masjid Mangkrak, Aktivis PMII Desak Inspektorat Audit Anggaran Desa Pas Ipa

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 905
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com , Mangoli Barat, 29 Juni 2025 – Masjid Desa Pas Ipa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, yang semula diharapkan menjadi pusat ibadah dan kegiatan keagamaan warga, kini justru menyisakan kekecewaan. Proyek pembangunan rumah ibadah tersebut terlihat mangkrak dan nyaris tidak ada aktivitas pekerjaan selama berbulan-bulan terakhir. Kondisi ini memicu keresahan di tengah masyarakat […]

  • Wagub Maluku Utara Sarbin Sehe melepas kontingen Pramuka Maluku Utara menuju Kemah Pramuka Berkebutuhan Khusus Nasional 2025 di Cibubur

    Wagub Maluku Utara Lepas Kontingen Pramuka Berkebutuhan Khusus ke Kemah Nasional 2025

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 387
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, melepas secara resmi 19 kontingen Pramuka Maluku Utara untuk mengikuti Kemah Pramuka Berkebutuhan Khusus (KPBK) Nasional 2025 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, pada 13–19 Agustus 2025. Acara pelepasan berlangsung di Syamatira Caffe, Selasa (12/8/25) Dalam sambutannya, Sarbin menegaskan bahwa gerakan pramuka […]

  • KONTROVERSIALITAS NUZULUL QUR’AN

    KONTROVERSIALITAS NUZULUL QUR’AN

    • calendar_month Minggu, 23 Mar 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Turunnya al-Qur’an adalah terjemahan harfiah dari kata-kata “Nuzul al-Qur’an”. Kata “nuzul” terambil dari kata “nazala” yang secara loghawiyyah paling minimal memiliki dua ta’rif. Al-awwalu, bahwa kata “nazala” berarti singgah atau menempati, seperti dalam ungkapan bahasa arabnya, ”nazala al-amir al-madinah” yang artinya, “kepala negara itu telah singgah di kota. Al-tsani, bahwa kata “nazala” memiliki arti aktifitas […]

  • MUSWIL IKA PMII MALUKU UTARA: “MERAWAT KEMANUSIAAN, MENATA MASA DEPAN”

    MUSWIL IKA PMII MALUKU UTARA: “MERAWAT KEMANUSIAAN, MENATA MASA DEPAN”

    • calendar_month Minggu, 16 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Ternate, (16/2/25) – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Maluku Utara sukses menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) ketiga dengan tema “Merawat Kemanusiaan, Menata Masa Depan.” Para alumni PMII, akademisi, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi keagamaan dan kepemudaan hadir dalam acara ini. Pembukaan Acara Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan […]

  • Ketua GP Ansor Maluku Utara memberikan pernyataan sikap terkait DOB Sofifi

    GP Ansor Maluku Utara Sayangkan Pernyataan Senator Hasbi Yusuf: “Sikap Emosional Tidak Menjawab Substansi Masalah DOB Sofifi”

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 2.461
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Ternate, 29 Juli 2025 — Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Maluku Utara menyayangkan pernyataan Senator DPD RI dari Maluku Utara, Hasbi Yusuf, yang meminta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda untuk “diam saja” dalam menyikapi wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kota Sofifi. Pernyataan tersebut dinilai tidak hanya keliru secara posisi kelembagaan, tetapi […]

  • Ketua LBH Ansor Ternate Zulfikran Bailussy memberikan keterangan pers soal pencalonan Sarbin Sehe dan Rio C. Pawane di HIPMI dan KONI Maluku Utara.

    Jangan Sesatkan Publik, LBH Ansor Tegaskan Pencalonan Pejabat di HIPMI dan KONI Tidak Langgar Hukum

    • calendar_month Senin, 6 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO), 6 Oktober 2025 – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate menegaskan bahwa pencalonan Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, sebagai Ketua KONI Maluku Utara dan Wakil Bupati Pulau Morotai, Rio C. Pawane, sebagai Ketua HIPMI Maluku Utara, tidak melanggar hukum. Menurut LBH Ansor, opini publik yang menyebut keduanya melanggar Undang-Undang Nomor […]

expand_less