Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ancaman Era Globalisasi Terhadap Eksistensi Bahasa Loloda

Ancaman Era Globalisasi Terhadap Eksistensi Bahasa Loloda

  • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
  • visibility 1.013
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, bahasa juga menjadi  identitas suatu bangsa. Berkaitan dengan itu, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri. Lebih jauh,

Thomas M. Scheidel salah satu pemikir besar di bidang komunikasi, menekankan bahwa melalui komunikasi, kita mampu memperkenalkan identitas diri. Hal ini menunjukkan peran fundamental bahasa; selain sebagai sarana penghubung, bahasa adalah tanda pengenal yang memungkinkan manusia hidup rukun dan saling memahami.

Thomas M. Scheidel juga menyatakan bahwa melalui komunikasi, manusia mampu memperkenalkan identitas dirinya. Pernyataan ini menegaskan bahwa bahasa memiliki peran fundamental. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan tanda pengenal yang memungkinkan manusia hidup secara aman dan rukun dalam tatanan sosial.

Pada saat yang sama, kita menyaksikan eksistensi bahasa Loloda yang perlahan mulai bergeser, bahkan terancam punah. Salah satu indikator penting dari pergeseran identitas lokal ini adalah derasnya arus perkembangan zaman.

Sebegai generasi yang lahir dari percakapan identitas historis Loloda, tentu melihat ini sebagai sebuah tantangan yang yang besar. Olehnya, dari percakapan yang bisa menyimpan rahasia, dari percakapan identitas bahasa menghadirkan nilai yang terjaga dalam kehidupan sosio-cultural. Artinya bahwa, keharusan menjaga bahasa adalah kewajiban bersama, bukan hanya generasi Loloda semata, tetapi semua generasi bangsa memiliki nyawa cita untuk membangun dan merawat peradaban bangsa.

Tidak dapat dimungkiri, era globalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Perkembangan teknologi, keterbukaan informasi, dan kemudahan akses komunikasi membuat dunia seolah tanpa batas. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan mendasar. Bagaimana nasib bahasa daerah di tengah arus globalisasi yang begitu deras?

Era globalisasi tidak hanya berdampak pada perubahan gaya hidup dan perilaku manusia, tetapi juga mempercepat penyebaran nilai dan budaya suatu bangsa ke seluruh penjuru dunia. Kondisi ini berpotensi mengancam eksistensi identitas lokal, termasuk bahasa Loloda sebagai warisan budaya masyarakat setempat.

Dalam fenomena yang mengkhawatirkan ini, peran generasi muda menjadi sangat fundamental dalam menjaga dan melestarikan bahasa Loloda. Bahasa Loloda bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kekayaan intelektual leluhur yang sarat akan nilai historis, filosofis, dan adat istiadat. Ironisnya, bahasa Loloda kini semakin jarang terdengar, baik di ruang publik maupun dalam percakapan sehari-hari generasi muda Loloda.

Modernisasi turut membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat. Penggunaan bahasa Indonesia yang masif di lingkungan pendidikan dan media sosial, meskipun penting sebagai perekat persatuan, sering kali menempatkan bahasa ibu sebagai pilihan kedua yang dianggap ketinggalan zaman. Tidak sedikit orang tua yang lebih bangga apabila anaknya fasih berbahasa nasional atau asing, tetapi lupa mewariskan kosakata bahasa Loloda yang kaya akan makna budaya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, berkurangnya penggunaan bahasa Loloda bukan hanya berarti hilangnya sebuah alat komunikasi, melainkan juga terputusnya akar identitas. Bahasa adalah wadah tradisi lisan, mantra adat, serta sejarah lokal. Tanpa bahasa Loloda, generasi mendatang akan kesulitan memahami jati diri mereka sebagai bagian dari masyarakat adat yang besar dan bersejarah.

Oleh karena itu, upaya penyelamatan bahasa Loloda membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Digitalisasi bahasa melalui media sosial dapat menjadi langkah strategis agar bahasa Loloda lebih dekat dengan generasi milenial dan Gen Z. Selain itu, kebijakan muatan lokal di sekolah perlu diperkuat dan dijalankan secara serius, bukan sekadar formalitas administratif. Kita perlu menyadari bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan warisan lama.

Modernisasi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pelestarian, misalnya melalui penyusunan kamus digital atau aplikasi pembelajaran bahasa daerah. Jangan sampai di masa depan, bahasa Loloda hanya tersisa sebagai catatan kaki dalam buku sejarah, sementara para penuturnya telah kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan diri mereka sendiri.

  • Penulis: Ibnu Haikal Basir (Kader Ulil AlBab IAIN Ternate )
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HERMENEUTIKA PEMBEBASAN DAN PERAN STRATEGIS TOKOH AGAMA

    HERMENEUTIKA PEMBEBASAN DAN PERAN STRATEGIS TOKOH AGAMA

    • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
    • account_circle Sahrul Ali Poipessy
    • visibility 968
    • 0Komentar

    Hermeneutika pembebasan berangkat dari pendekatan yang ditawarkan oleh Hasan Hanafi dalam rangka untuk memahami Al-Qur’an. Pendekatan ini merupakan salah satu cara dan alternatif baru dalam menafsirkan teks suci dengan tujuan untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi. Dalam pengembangannya, Hanafi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Hans-Georg Gadamer dan Edmund Husserl yang merupakan dua […]

  • Oleh : Asmaul Jinudin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia) Foto : Istimewa

    Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut Marut

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Asmaul Jinudin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia)
    • visibility 467
    • 0Komentar

    “Di tengah gemerlap kota yang bising, disudut ruang yang hampa. Terdengar suara tangisan rakyat jelata yang menunggu dan menagih janji pemerinta terhadap kesejatraan rakyatnya.” Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut-Marut memanifestasikan sebuah resistensi epistemologis terhadap dekadensi moral yang terbungkus dalam retorika banal. Dalam menggunakan kacamata fenomenologi Edmund Husserl, janji semestinya merupakan sebuah bentuk intensionalitas […]

  • Source : Istimewa

    LBH Ansor Maluku Utara Desak Polda Hentikan Kriminalisasi 14 Warga Sagea–Kiya

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 289
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO)— Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara secara resmi menyatakan sikap solidaritas terhadap LBH Marimoi dalam mengawal pendampingan hukum bagi 14 warga Desa Sagea dan Kiya, Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah. Warga tersebut saat ini tengah menjalani pemeriksaan di kepolisian atas tuduhan merintangi aktivitas pertambangan. Ketua LBH Ansor Maluku Utara menegaskan bahwa pemanggilan […]

  • Darurat Abrasi di Koloray: Jarak Rumah ke Pantai Tinggal 4 Meter

    Darurat Abrasi di Koloray: Jarak Rumah ke Pantai Tinggal 4 Meter

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 337
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Desa Koloray di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, menghadapi ancaman serius akibat abrasi pantai yang terus menggerus daratan. Kondisi ini tidak hanya mengancam infrastruktur pemukiman, tetapi juga berpotensi menghilangkan sumber air bersih bagi sekitar 600 jiwa penduduk setempat. Berdasarkan pantauan, bangunan penahan ombak (breakwater) yang sebelumnya dibangun melalui Program Nasional […]

  • Dodola Terbengkalai, Kadispar Morotai Pilih Bungkam saat Dicecar Wartawan

    Dodola Terbengkalai, Kadispar Morotai Pilih Bungkam saat Dicecar Wartawan

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 563
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI — Sikap tidak kooperatif dan terkesan alergi terhadap kritik ditunjukkan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Pulau Morotai yang baru menjabat sekitar dua pekan. Di tengah sorotan publik terhadap buruknya perhatian pemerintah terhadap sejumlah fasilitas wisata unggulan, Kadispar justru memilih bungkam saat dikonfirmasi awak media. Sikap tidak kooperatif itu terlihat saat sejumlah wartawan […]

  • Silaturahmi Wakil Gubernur Jawa Barat dan Wakil Gubernur Maluku Utara: Pererat Kerja Sama Antarwilayah

    Silaturahmi Wakil Gubernur Jawa Barat dan Wakil Gubernur Maluku Utara: Pererat Kerja Sama Antarwilayah

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Ternate, 1 Mei 2025 — Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Erwan Setiawan, melakukan kunjungan silaturahmi ke Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, Kamis malam (1/5), pukul 21.00 WIT. Pertemuan hangat ini berlangsung di kediaman resmi Wakil Gubernur Maluku Utara di Kota Ternate. Silaturahmi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan antarprovinsi, khususnya dalam menjalin […]

expand_less