Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ancaman Era Globalisasi Terhadap Eksistensi Bahasa Loloda

Ancaman Era Globalisasi Terhadap Eksistensi Bahasa Loloda

  • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
  • visibility 1.094
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, bahasa juga menjadi  identitas suatu bangsa. Berkaitan dengan itu, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri. Lebih jauh,

Thomas M. Scheidel salah satu pemikir besar di bidang komunikasi, menekankan bahwa melalui komunikasi, kita mampu memperkenalkan identitas diri. Hal ini menunjukkan peran fundamental bahasa; selain sebagai sarana penghubung, bahasa adalah tanda pengenal yang memungkinkan manusia hidup rukun dan saling memahami.

Thomas M. Scheidel juga menyatakan bahwa melalui komunikasi, manusia mampu memperkenalkan identitas dirinya. Pernyataan ini menegaskan bahwa bahasa memiliki peran fundamental. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan tanda pengenal yang memungkinkan manusia hidup secara aman dan rukun dalam tatanan sosial.

Pada saat yang sama, kita menyaksikan eksistensi bahasa Loloda yang perlahan mulai bergeser, bahkan terancam punah. Salah satu indikator penting dari pergeseran identitas lokal ini adalah derasnya arus perkembangan zaman.

Sebegai generasi yang lahir dari percakapan identitas historis Loloda, tentu melihat ini sebagai sebuah tantangan yang yang besar. Olehnya, dari percakapan yang bisa menyimpan rahasia, dari percakapan identitas bahasa menghadirkan nilai yang terjaga dalam kehidupan sosio-cultural. Artinya bahwa, keharusan menjaga bahasa adalah kewajiban bersama, bukan hanya generasi Loloda semata, tetapi semua generasi bangsa memiliki nyawa cita untuk membangun dan merawat peradaban bangsa.

Tidak dapat dimungkiri, era globalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Perkembangan teknologi, keterbukaan informasi, dan kemudahan akses komunikasi membuat dunia seolah tanpa batas. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan mendasar. Bagaimana nasib bahasa daerah di tengah arus globalisasi yang begitu deras?

Era globalisasi tidak hanya berdampak pada perubahan gaya hidup dan perilaku manusia, tetapi juga mempercepat penyebaran nilai dan budaya suatu bangsa ke seluruh penjuru dunia. Kondisi ini berpotensi mengancam eksistensi identitas lokal, termasuk bahasa Loloda sebagai warisan budaya masyarakat setempat.

Dalam fenomena yang mengkhawatirkan ini, peran generasi muda menjadi sangat fundamental dalam menjaga dan melestarikan bahasa Loloda. Bahasa Loloda bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kekayaan intelektual leluhur yang sarat akan nilai historis, filosofis, dan adat istiadat. Ironisnya, bahasa Loloda kini semakin jarang terdengar, baik di ruang publik maupun dalam percakapan sehari-hari generasi muda Loloda.

Modernisasi turut membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat. Penggunaan bahasa Indonesia yang masif di lingkungan pendidikan dan media sosial, meskipun penting sebagai perekat persatuan, sering kali menempatkan bahasa ibu sebagai pilihan kedua yang dianggap ketinggalan zaman. Tidak sedikit orang tua yang lebih bangga apabila anaknya fasih berbahasa nasional atau asing, tetapi lupa mewariskan kosakata bahasa Loloda yang kaya akan makna budaya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, berkurangnya penggunaan bahasa Loloda bukan hanya berarti hilangnya sebuah alat komunikasi, melainkan juga terputusnya akar identitas. Bahasa adalah wadah tradisi lisan, mantra adat, serta sejarah lokal. Tanpa bahasa Loloda, generasi mendatang akan kesulitan memahami jati diri mereka sebagai bagian dari masyarakat adat yang besar dan bersejarah.

Oleh karena itu, upaya penyelamatan bahasa Loloda membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Digitalisasi bahasa melalui media sosial dapat menjadi langkah strategis agar bahasa Loloda lebih dekat dengan generasi milenial dan Gen Z. Selain itu, kebijakan muatan lokal di sekolah perlu diperkuat dan dijalankan secara serius, bukan sekadar formalitas administratif. Kita perlu menyadari bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan warisan lama.

Modernisasi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pelestarian, misalnya melalui penyusunan kamus digital atau aplikasi pembelajaran bahasa daerah. Jangan sampai di masa depan, bahasa Loloda hanya tersisa sebagai catatan kaki dalam buku sejarah, sementara para penuturnya telah kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan diri mereka sendiri.

  • Penulis: Ibnu Haikal Basir (Kader Ulil AlBab IAIN Ternate )
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Generasi muda Moloku Kie Raha sedang mengikuti diskusi budaya dan sejarah lokal

    Generasi Muda Moloku Kie Raha dan Tanggung Jawab Merawat Warisan Leluhur

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Muhamad Affath Hidayah
    • visibility 883
    • 0Komentar

    Sesekali cobalah kita tengok ke belakang atau yang kerab disebut masa lalu. Sebagai generasi baru, kita tak harus melupakan sejarah; mengingat kembali ketika para leluhur (nenek moyang) dengan perjuangannya rela berlumuran darah, pun tak mengenal siang dan malam berjuang hingga darah penghabisan, demi keberlangsungan hidup anak cucunya. Perjuangan dengan segala cara coba dilakukan untuk kemaslahatan […]

  • AKU DIPAKSA MERDEKA: KETIKA PAJAK MENJADI HARGA SEBUAH NEGARA

    AKU DIPAKSA MERDEKA: KETIKA PAJAK MENJADI HARGA SEBUAH NEGARA

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Fahri Sibua, Pegiat Literasi Yogyakarta
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Ada sebuah ironi yang sering kita lewati setiap kali merayakan kemerdekaan. Setiap 17 Agustus, bangsa ini mengibarkan bendera merah putih sebagai simbol kemenangan atas penjajahan. Kita mengenang perjuangan para pendiri bangsa yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa demi sebuah negara yang berdaulat. Namun, di tengah perayaan itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara terbuka: […]

  • Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum BEM DIY melakukan long march dan aksi damai di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (25/2/2026), menyoroti berbagai isu nasional dengan salah satu fokus pada polemik proyek geotermal Telaga Ranu. Source : Instagram Forum BEM DIY

    Telaga Ranu di Pusaran Kritik: Isu Geotermal Warnai Aksi Forum BEM D.I Yogyakarta

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO)— Sejumlah massa yang tergabung dalam Forum BEM DIY menggelar unjuk rasa pada Rabu petang (25/2) dengan menyoroti berbagai persoalan nasional, termasuk isu proyek geotermal yang dinilai berkaitan dengan kepentingan asing dan berdampak pada masyarakat. Aksi dimulai dari kawasan eks Parkir Abu Bakar Ali, melintasi Jalan Malioboro, berorasi di depan DPRD DIY, dan berakhir […]

  • Tuntut Perubahan! Aksi “Indonesia Gelap” Mahasiswa BEM SI Soroti Kebijakan Pemerintah yang Dinilai Merugikan Rakyat

    Tuntut Perubahan! Aksi “Indonesia Gelap” Mahasiswa BEM SI Soroti Kebijakan Pemerintah yang Dinilai Merugikan Rakyat

    • calendar_month Senin, 17 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 498
    • 0Komentar

    Foto : ANTARA/Yamsyina Hawnan Jakarta, 17 Februari 2025 – Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi protes dengan tajuk “Indonesia Gelap” di berbagai wilayah Indonesia. Aksi ini diadakan untuk menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah. Menurut para mahasiswa, kebijakan tersebut berpotensi merugikan rakyat dan menghambat […]

  • Sahur On The Road Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta – Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar

    Sahur On The Road Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta – Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Yogyakarta, 9 Maret 2025 – Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta menggelar kegiatan Sahur On The Road pada Minggu, 9 Maret 2025. Acara ini berlangsung dari pukul 02.00 WIB hingga 05.00 WIB, dengan tema “Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar”. Acara ini bertujuan membagikan sahur kepada masyarakat Yogyakarta, khususnya kaum […]

  • LBH Ansor Ternate menyerukan penyelesaian konflik agraria di Maluku Utara

    Konflik Agraria Maluku Utara: Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan RI

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Ketua LBH Ansor Kota Ternate
    • visibility 1.198
    • 0Komentar

    Delapan puluh tahun Indonesia merdeka. Dalam usia bangsa yang tidak lagi muda ini, kita kembali mendengar gema kalimat sakral dalam Pembukaan UUD 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.” Sebuah kalimat yang seharusnya menjadi roh dalam setiap kebijakan negara. Namun pertanyaan mendasar perlu kita ajukan: apakah kemerdekaan itu benar-benar hadir dalam kehidupan rakyat […]

expand_less