Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Perang melawan tirani adalah keharusan untuk hidup sebagaimana mestinya

Perang melawan tirani adalah keharusan untuk hidup sebagaimana mestinya

  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 390
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Kesejahteraan dan kebebasan merupakan cita-cita mendasar setiap manusia. Setiap orang berhak menjalani hidup secara bermartabat tanpa tekanan, ketidakadilan, maupun perlakuan sewenang-wenang. Ketika penindasan dan ketidakadilan menjadi praktik yang dinormalisasi, nilai-nilai kemanusiaan pun tercederai.

Dalam konteks tersebut, perlawanan terhadap praktik penindasan bukanlah pilihan emosional, melainkan tuntutan etis. Upaya ini diperlukan agar kelompok-kelompok yang termarjinalkan dapat menjalankan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik secara layak, tanpa kehilangan hak-hak dasar sebagai manusia.

Nilai-nilai kemanusiaan mencakup hak asasi manusia, keadilan, empati, dan toleransi. Prinsip-prinsip fundamental ini kerap mengalami reduksi melalui praktik dominasi, eksklusi sosial, serta pembiaran struktural yang dilakukan oleh aktor-aktor tertentu, baik negara maupun nonnegara.

Sejarah Indonesia mencatat berbagai peristiwa yang menunjukkan kegagalan negara dalam melindungi nilai-nilai tersebut. Tragedi Talangsari 1989 merupakan contoh pelanggaran hak asasi manusia yang hingga kini belum sepenuhnya memperoleh keadilan. Demikian pula Tragedi Trisakti 1998, ketika aparat keamanan menembaki mahasiswa yang tengah menyampaikan aspirasi secara terbuka.

Pola kekerasan terhadap warga sipil kembali mencuat dalam peristiwa yang menimpa Affan Kurniawan saat unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, pada 28 Agustus 2025. Peristiwa ini kembali mempertanyakan komitmen negara dalam menjamin keselamatan dan hak berekspresi warga.

Dalam praktik sehari-hari, publik kerap menyaksikan individu atau kelompok yang diperlakukan secara tidak manusiawi dan direndahkan martabatnya. Fenomena ini dikenal dalam kajian hak asasi manusia sebagai dehumanisasi, yakni pengingkaran terhadap nilai, hak, dan martabat kemanusiaan seseorang, bukan perubahan fisik sebagaimana sering disalahpahami.

Sejarah perbudakan menjadi contoh ekstrem dehumanisasi, ketika manusia diperlakukan sebagai komoditas, dipaksa bekerja tanpa upah, dan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Praktik serupa, dalam bentuk yang lebih modern, masih dapat ditemukan dalam berbagai relasi kuasa yang timpang.

Karena itu, sikap kritis terhadap penindasan tidak boleh diredam oleh pembiaran atau kepentingan sempit. Ketidakadilan yang dibiarkan justru berpotensi melahirkan konflik sosial yang lebih luas. Perlawanan yang dimaksud bukanlah glorifikasi kekerasan, melainkan perjuangan kolektif untuk menegakkan keadilan dan memulihkan martabat manusia.

Sejarah pemikiran dan perjuangan menunjukkan bahwa perubahan sosial kerap lahir dari kesadaran moral dan keberanian intelektual. Keteladanan tokoh-tokoh yang berjuang demi kemaslahatan umat mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar dalam perjuangan adalah kesetiaan pada nilai kebenaran, bahkan ketika harus menghadapi risiko pribadi.

Masyarakat hari ini dihadapkan pada dua pilihan mendasar: berdiam diri menyaksikan penindasan terus berlangsung, atau mengambil peran aktif untuk mengoreksi ketidakadilan melalui cara-cara yang bermartabat dan beradab. Meski tidak semua kejahatan dapat dihentikan sekaligus, publik setidaknya tidak boleh menjadi bagian dari sistem yang melanggengkannya.

Sejumlah pemikir menyatakan bahwa kehidupan yang bermartabat mensyaratkan keberanian melawan tirani. Namun, perlawanan tersebut harus diarahkan pada pembebasan manusia, bukan pada reproduksi kekerasan baru. Ketika kebebasan dikekang secara sistematis, eksistensi manusia sebagai makhluk merdeka perlahan tergerus.

George Orwell, melalui novelnya Animal Farm, menggambarkan bagaimana tirani dapat tumbang oleh kesadaran kolektif kelompok tertindas. Kisah tersebut menjadi alegori tentang bahaya kekuasaan absolut sekaligus pentingnya kewaspadaan agar perjuangan pembebasan tidak berakhir pada penindasan baru.

Pada akhirnya, perjuangan melawan penindasan adalah amanah moral yang menuntut keberanian, kejernihan nalar, dan tanggung jawab etis, terutama dari kalangan intelektual. Sejarah menunjukkan bahwa kehidupan yang tidak diperjuangkan dengan kesadaran kritis berisiko kehilangan makna dan arah.

Hasta la victoria siempre!

  • Penulis: Yusril S. Pom (Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA), Dr. M. Natsir Tamalene, M.Pd. (kiri), saat bertemu dengan Vice Rector for International Cooperation Bukhara State University, Prof. Abror Juraev (kanan), di Uzbekistan, Jumat (30/01/2026). Kunjungan ini membahas rencana program magang internasional kolaboratif bagi mahasiswa dan dosen PTNU se-Indonesia untuk penguatan kapasitas akademik di bidang sains, teknologi, dan kebudayaan. Dok. Istimewa

    Perluas Jejaring Global, UNUTARA Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Bukhara State University Uzbekistan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 356
    • 0Komentar

    BUKHARA, UZBEKISTAN (BALENGKO) – Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) resmi memulai langkah strategis di kancah internasional melalui penjajakan kerja sama dengan Bukhara State University (BSU), Uzbekistan. Rektor UNUTARA, Dr. M. Natsir Tamalene, M.Pd., melakukan kunjungan resmi bersama jajaran Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) se-Indonesia untuk membahas kolaborasi lintas negara di kantor pusat BSU, […]

  • HMI Cabang Morotai Tolak Morofest: Pemda Dinilai Lebih Pilih Seremonial daripada Tangani Karhutla

    HMI Cabang Morotai Tolak Morofest: Pemda Dinilai Lebih Pilih Seremonial daripada Tangani Karhutla

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 139
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Morotai menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Pemerintahan Terpadu, Jalan Muhajirin Baru, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Kamis (15/10/2026). Massa aksi secara tegas menolak pelaksanaan Festival Morotai (Morofest) dan menyoroti berbagai permasalahan mendasar yang dinilai diabaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Koordinator Lapangan, Hasanudin Saba, […]

  • Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026 Dipangkas Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun atas instruksi Presiden Prabowo.

    Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026 Dipangkas Jadi Rp268 Triliun

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 251
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, JAKARTA – Pemerintah mengambil langkah mengejutkan terkait pendanaan program prioritas nasional. Kebijakan fiskal terbaru menetapkan Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026 Dipangkas pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pagu program andalan tersebut diciutkan dari rencana semula senilai Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Keputusan krusial ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, […]

  • DPRD Halmahera Barat Bentuk Pansus RSUD Jailolo, F. Glen Balatjai: Tak Ada Lagi yang Ditutup-tutupi

    DPRD Halmahera Barat Bentuk Pansus RSUD Jailolo, F. Glen Balatjai: Tak Ada Lagi yang Ditutup-tutupi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Jailolo (BALENGKO) – DPRD Kabupaten Halmahera Barat resmi membentuk Panitia Khusus (Pansus) RSUD Jailolo dalam rapat paripurna, Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil untuk menelusuri berbagai persoalan yang mencuat, mulai dari pelayanan hingga pengelolaan rumah sakit. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Halmahera Barat, F. Glen Balatjai, mengapresiasi seluruh fraksi yang telah bersepakat hingga pansus terbentuk. “Ini […]

  • Polres Pulau Morotai Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Tegaskan Komitmen “Polri untuk Masyarakat” Melalui Sinergi Lintas Sektor

    Polres Pulau Morotai Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Tegaskan Komitmen “Polri untuk Masyarakat” Melalui Sinergi Lintas Sektor

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 200
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Kepolisian Resor (Polres) Pulau Morotai menggelar Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dengan mengusung tema “Polri untuk Masyarakat”. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Apel Polres Pulau Morotai, Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan, ini menjadi momentum bagi institusi kepolisian untuk mempertegas dedikasi sebagai pelindung dan pelayan masyarakat yang profesional serta humanis. Upacara yang […]

  • 9 Siswa MTsN 1 Morotai Lolos Seleksi OMI Bidang Sains 2026, Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten

    9 Siswa MTsN 1 Morotai Lolos Seleksi OMI Bidang Sains 2026, Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 280
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – MTs Negeri 1 Morotai sukses melaksanakan seleksi Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Bidang Sains Tingkat Madrasah Tahun 2026. Dari proses seleksi tersebut, sebanyak sembilan siswa dinyatakan lolos dan dapat melanjutkan perjalanan pada seleksi tingkat Kabupaten Pulau Morotai yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pulau Morotai. Dalam pelaksanaan OMI Tahun 2026 tingkat […]

expand_less