Penuhi Puskop Tamsis, Mahasiswa Perantauan Maluku-Maluku Utara Gelar Diskusi Film ‘Pesta Babi’Suarakan Hak Masyarakat Adat
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 207
- comment 0 komentar
- print Cetak

Diskusi Film Pesta Babi Yogyakarta sukses digelar kolaborasi IKAMALRA, IKPMKT, dan IKPMHT di Puskop Tamsis demi mengawal isu hak masyarakat adat. | Dok : Balengko Space
BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Puluhan mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah memadati ruang Diskusi Film “Pesta Babi” yang digelar di Puskop Tamsis, Jalan Taman Siswa, Wirogunan, Rabu (20/05/2026). Agenda nonton bareng (nobar) karya dokumenter besutan Watchdoc ini menjadi pemantik ruang refleksi akademis guna membedah dinamika kolonialisme modern, potret tata kelola ruang hidup, serta pelindungan hak-hak masyarakat adat.
Langkah taktis pemutaran film ini diinisiasi secara kolaboratif oleh aliansi organisasi kemahasiswaan asal Indonesia Timur yang berbasis di D.I. Yogyakarta. Aliansi tersebut terdiri atas Ikatan Keluarga Mahasiswa Maluku Tenggara (IKAMALRA D.I.Y), Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Kota Ternate (IKPMKT D.I.Y), dan Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPMHT D.I.Y).
Para peserta dilaporkan telah memadati lokasi sejak sore hari sebelum pemutaran film resmi dimulai pada pukul 19.00 WIB. Sebelum layar dibuka, suasana emosional dan reflektif dibangun lewat pembacaan puisi kebudayaan oleh tiga mahasiswa asal Maluku dan Maluku Utara, yakni Amri, Aldi, Hardiyanti Yudistira, dan Andika.
Agenda Diskusi Film Pesta Babi Yogyakarta kemudian bergulir secara dinamis dipandu oleh Asril Sermaf selaku moderator, dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Yassica Hadytia, Hasan M. Thaib, dan Ramdani H. Rennur.
Soroti Sisi Kerentanan Perempuan di Wilayah Konflik
Dalam pemaparannya, Yassica Hadytia mengupas perspektif gender dengan menyoroti kerentanan berlapis yang kerap dialami kaum perempuan di tengah dinamika konflik sosial dan struktural.
“Merujuk pada narasi film, perempuan sering kali menghadapi beban yang berlapis. Kehadiran tokoh Mama Yasinta dan narasumber perempuan lainnya dalam film dokumenter ini, memberikan potret nyata mengenai keteguhan perempuan di tengah keterbatasan pemenuhan fasilitas publik, seperti jaminan kesehatan dan ruang persalinan yang layak bagi masyarakat adat,” urai Yassica.
Bedah Kebijakan Agraria dan Pendekatan Keamanan
Narasumber kedua, Hasan M. Thaib atau yang akrab disapa Bung Ceos, mengulas dinamika regulasi agraria serta pelibatan institusi keamanan dalam program-program strategis nasional (PSN). Ia menyoroti implementasi operasi militer selain perang (OMSP) yang beririsan dengan sektor non-pertahanan.
“Ada pola koordinasi lintas sektoral yang bersentuhan dengan penataan kawasan hutan. Salah satu dampaknya adalah perubahan fungsi lahan yang diperuntukkan bagi proyek skala besar, seperti komoditas bioetanol. Pendekatan ini dinilai memengaruhi corak ruang hidup yang selama ini dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat lokal,” jelas Hasan menganalisis.
Kritik Penyeragaman Pangan dan Refleksi Kekuasaan
Sementara itu, Ramdani H. Rennur menggarisbawahi tantangan ketahanan pangan akibat adanya kebijakan penyeragaman komoditas pertanian nasional yang berpotensi mengikis eksistensi pangan lokal.
“Penyeragaman pangan, seperti budidaya padi secara masif di wilayah Indonesia Timur, secara perlahan dapat menggeser ketergantungan masyarakat terhadap pangan lokal seperti sagu. Ketika pangan lokal teralienasi, ada identitas kebudayaan setempat yang ikut terdampak,” kata Ramdani.
Melalui jalannya Diskusi Film “Pesta Babi” ini, kalangan mahasiswa perantauan diharapkan mampu membangun kesadaran kritis yang objektif, berbasis data, serta peka terhadap perlindungan hak asasi manusia dan keberlanjutan lingkungan khususnya di wilayah Indonesia Timur. (BS)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar