Seabad Belum Selesai: Hatrik Aljazair dan Pembuktian La Pulga Lintas Generasi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sebelum mendominasi era modern, Lionel Messi muda tumbuh dan bersaing langsung dengan para maestro lapangan hijau. Pengalaman lintas era inilah yang membuatnya memiliki visi bermain di atas rata-rata pemain masa kini. Source : Balengko SPace
Lagi-lagi, bukan namanya Lionel Messi jika tidak memberikan kejutan bagi dunia sepak bola.
Laga pembuka Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi ajang adaptasi yang wajar bagi seorang pemain. Apalagi bagi sosok yang usianya kini tidak lagi muda dan mulai menginjak kepala empat. Namun, Messi menolak tunduk pada usia. Menghadapi Aljazair dalam laga perdana fase grup, Kapten Timnas Argentina yang dijuluki La Pulga ini langsung tancap gas. Argentina menang telak 3-0, dan luar biasanya, seluruh gol diborong oleh Messi lewat torehan hatrik yang memukau.
Hasil manis hari ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari rentetan kegagalan, luka, dan proses panjang di masa lalu.
Berguru pada Para Raksasa

Jika memutar kembali memori dua dekade lalu, debut Piala Dunia Messi dimulai pada edisi 2006. Saat itu, Argentina menang besar melawan Serbia & Montenegro. Di bawah bimbingan dan belajar langsung dari para senior legendaris seperti Hernan Crespo, Javier Zanetti, Juan Sebastian Veron, Pablo Aimar, Roberto Ayala, Juan Pablo Sorin, Gabriel Heinze, hingga Carlos Tevez, Messi muda ditempa.
Menariknya, Lionel Scaloni, yang kini menjadi pelatihnya, saat itu juga berstatus sebagai rekan setim Messi di lapangan. Rasa saling percaya dan chemistry kuat yang terlihat di kursi pelatih dan kapten hari ini tampaknya telah terjalin sejak era tersebut.
Namun, roda berputar. Setelah edisi 2006, para senior satu per satu gantung sepatu. Beban berat langsung berpindah ke pundak Messi. Penampilan cemerlangnya di Barcelona membuat seluruh dunia, tak hanya warga Argentina, menaruh harapan setinggi langit pada sang mega bintang.
Tembok Berlin dan Frustrasi di Timnas

Sial bagi Messi, kegagalan demi kegagalan seolah tak pernah berhenti menghampirinya di level internasional. Salah satu yang paling fatal dan membekas adalah kegagalan di perempat final Piala Dunia 2010 dan final 2014 melawan Jerman.
Jerman selalu menjadi lawan berat yang menggagalkan mimpi Argentina. Dengan postur tinggi besar khas Eropa Utara dan permainan umpan panjang, mereka membuat Argentina kewalahan dalam duel udara. Perang bintang Jerman yang diisi oleh Michael Ballack, Miroslav Klose, Lukas Podolski, Bastian Schweinsteiger hingga ketangguhan kiper legendaris seperti Jens Lehmann dan Manuel Neuer di era-era tersebut, seakan menjadi Tembok Berlin yang berdiri kokoh menepis segala ambisi Albiceleste.
Di titik ini, Messi menjadi sasaran empuk. Hinaan dan cemoohan menjadi santapan sehari-hari. Ironisnya, performa Messi di Barcelona begitu apik dengan raihan segudang trofi, namun berbanding terbalik ketika berseragam timnas. Ia sempat dinilai kesulitan menemukan chemistry dengan rekan senegaranya.
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaksi Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar